Jika Defisit APBN 0 Persen seperti Kata Purbaya, Apa Dampaknya?

Pemerintah Indonesia telah mengalami defisit fiskal yang melonjak hingga 2,92 persen pada akhir tahun 2025. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan pernyataan pembelaan atas kebijakan fiskal pemerintah dengan mengatakan bahwa pelebaran defisit tersebut merupakan konsekuensi dari lemahnya penerimaan negara pada tahun sebelumnya, di tengah tekanan kondisi global dan domestik yang volatil.

Namun, ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai bahwa defisit 0 persen tidak realistis dan tidak perlu. Ia mengatakan bahwa jika ingin mengatur anggaran sejauh itu, maka itu merupakan ranah parlemen yang memiliki fungsi anggaran, bukan Kemenkeu.

Huda juga menekankan bahwa tekanan APBN juga datang dari kewajiban pembayaran utang dan bunga utang. Ia mengatakan bahwa defisit 2,92 persen hanya terpaut 0,08 persen dari batas maksimum yang diizinkan undang-undang.

Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga yang akan meruntuhkan kepercayaan publik kepada pemerintah yang sudah rapuh. Ia mengatakan bahwa jika Purbaya benar-benar serius ingin menekan defisit hingga nol, semestinya ia berani memotong anggaran MBG yang telah terealisasi Rp51,5 triliun.

Sementara itu, Managing Director AKADEMIKA Centre for Public Policy Analysis, Edy Priyono, mengatakan bahwa yang lebih krusial dilakukan pemerintah sebetulnya mengendalikan laju utang. Ia menilai bahwa utang jatuh tempo pada 2026 diproyeksikan mencapai Rp833,96 triliun.

Edy juga mengatakan bahwa posisi keseimbangan primer sudah negatif, yang artinya pemerintah harus berhutang untuk membayar cicilan bunga utang. Ia menyarankan bahwa pengendalian defisit bisa ditempuh dengan menaikkan pendapatanβ€”terutama pajakβ€”atau memangkas belanja.

Namun, dalam kondisi ekonomi yang melemah, peningkatan penerimaan bukan perkara mudah. Oleh karena itu, menurut Edy, efisiensi belanja menjadi satu-satunya instrumen yang sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah.

Dengan demikian, perlu ada langkah pengendalian utang atau defisit yang segera dimulai.
 
aku pikir nggak mungkin defisit fiskal itu bisa dialami, kalau kenyataannya kita udah mengatur anggaran sekali, tapi karenanya ada tekanan dari kondisi global dan domestik yang volatile πŸ€”. aku pikir apa yang dibutuhkan adalah analisis lebih mendalam tentang apa yang menyebabkan defisit itu, bukan hanya menolak atau menerima saja kebijakan fiskal pemerintah 😊.
 
Pemerintah harus mau mengambil tantangan untuk mengendalikan laju utang yang semakin cepat melompat. Defisit 2,92 persen itu memang tidak bisa dikecualikan, tapi apa arti dari defisit yang hanya 0,08 persen saja? Mereka harus siap mengorbankan program-program yang ada untuk menekankan utang dan membayar bunga utang. Saya masih berharap pemerintah akan jujur dalam membagikan kebenaran tentang kondisi ekonomi kita πŸ€”πŸ“ˆ
 
Defisit fiskal 2,92 persen itu bukan kekurangan kebijakan fiskal jadi, tapi bukannya simptom dari sistem keuangan yang tidak terstruktur dengan baik... πŸ€”πŸ“Š Pemerintah harus lebih berani mengurangi belanja dan meningkatkan pajak, tapi apa yang dibayangkan kalau semua orang mendukung? πŸ€‘ Dengan defisit seperti ini, kita akan jadi semakin bergantung pada utang, dan itu sangat tidak baik... 😬
 
aku rasa kayaknya ini bukan soal kebijakan fiskal aja, tapi ada sesuatu di balik semuanya 😏. aku pikir kalau defisit 2,92 persen ini hanyalah penekanan dari investor-investor asing yang ingin memaksa pemerintah mengubah struktur utangnya. tolong bayangkan jika pemerintah benar-benar mau menekan defisit, maka itu berarti mereka tidak akan memberikan potongan pajak untuk para investor ini, bukan? πŸ€”
 
Halo bro πŸ’Έ, aku pikir 2,92 persen defisit fiskal itu masih bisa diatasi. Kita harus ingat bahwa pemerintah sudah melakukan banyak kebijakan untuk meningkatkan penerimaan negara dan mengendalikan biaya. πŸ“ˆ Lalu, apa yang salah dengan defisit 2,92 persen? πŸ€”

Menurutku, program MBG itu penting banget bro! 🀝 Kita harus melindungi anak-anak muda dari kekurangan nutrisi. Tapi, aku tahu Edy Priyono bilang bahwa jika ingin mengatasi defisit, kita harus menaikkan pendapatan dan memangkas belanja. πŸ“Š

Aku lihat di grafik ini 😎, defisit fiskal Indonesia sudah stabil sejak 2019. Kita bisa melihat bahwa defisit meningkat pada 2020 karena pandemic global dan domestik yang terjadi. Lalu, mulai dari 2021, defisit mulai menurun. πŸ“ˆ

Tapi, aku ingin melihat data anggaran belanja negara tahun ini. Apakah kita benar-benar mengendalikan biaya? πŸ€” Menurutku, kita harus lebih transparan dan jelas dalam pengelolaan keuangan negara.

Kita bisa melihat juga pada grafik ini πŸ“Š, perbandingan defisit fiskal antara Indonesia dan beberapa negara lain di Asia Tenggara. Kita bisa lihat bahwa Indonesia masih memiliki defisit yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. πŸ’ͺ
 
Defisit 2,92 persen itu nggak kecil banget πŸ€‘. Kalau gini, maka karenanya aja kita harus memotong belanja program-program yang nggak penting, seperti MBG πŸ€¦β€β™€οΈ. Dan juga, menteri keuangan harus lebih bijak dalam mengelola anggaran, jangan cuma-cuma memberikan uang tanpa ada konsekuensi πŸ˜’.
 
Kalau mau buat defisit 0 persen, udah tidak masuk akal sih πŸ™„ Kita masih dalam kondisi ekonomi yang melemah dan tekanan APBN itu banyak banget. Banyak program yang harus dijalankan, seperti MBG, maka kita nggak bisa langsung mengurangi belanja. Maka dari itu, udah waktunya pemerintah buat strategi pembayaran utang yang lebih baik, gampangnya aja πŸ€‘. Kita harus fokus untuk meningkatkan pendapatan atau mengurangi belanja yang tidak penting, jadi defisit 2,92 persen ini tidak masalah banget 😐.
 
Pemerintah Indonesia punya masalah keuangan yang serius 😬. Defisit 2,92 persen itu lumayan besar. Mungkin karna kondisi global dan domestik yang tidak stabil. Tapi, apa yang harus dilakukan? πŸ€”

Kalau ingin mengurangi defisit, mesti ada peningkatan pendapatan atau pengurangan belanja. Tapi, apakah itu bisa dilakukan dalam waktu singkat? πŸ’Έ Semua membutuhkan strategi yang matang dan jangka panjang.

Saya setuju bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga salah satu penyebab defisit keuangan ini πŸ€¦β€β™‚οΈ. Jika ingin mengurangi defisit, maka harus ada prioritas dan penyesuaian. Misalnya, menurunkan anggaran MBG sejenak agar bisa mencapai target fiskal yang lebih baik 😊.

Tapi, apa yang paling penting adalah efisiensi belanja dan pengendalian utang πŸ“Š. Jika tidak ada langkah-langkah yang tepat, maka defisit ini akan terus menurun 🚨.
 
Aku rasanya defisit fiskal ini memang wajar banget, tapi aku masih ragu-ragu kok. Defisit 2,92 persen itu sudah cukup tinggi, tapi aku pikir kalau kita harus menurunkannya hingga 0 persen, itu gampangnya tidak mungkin. Kita harus lebih realistis dengan kondisi ekonomi kita sendiri.

Aku setuju dengan Nailul Huda bahwa defisit 0 persen tidak bisa dicapai dengan mudah. Tapi aku rasa dia juga terlalu keras mengkritik Kemenkeu, karena mereka sudah berusaha maksimal untuk mengatasi tekanan fiskal ini.

Sementara itu, aku pikir program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu penting banget bagi masyarakat. Jika kita harus memotong anggaran MBG untuk menurunkan defisit, itu bukan pilihan yang baik. Kita harus mencari alternatif lain.

Aku setuju dengan Edy Priyono bahwa pengendalian laju utang adalah prioritas utama. Namun, aku rasa kita juga harus lebih fokus pada meningkatkan pendapatan dan mengurangi belanja, bukan hanya memangkas belanja saja. Kita harus mencari cara untuk meningkatkan penerimaan negara secara signifikan.

Dalam kesimpulan, aku pikir kita perlu memiliki kompromi dalam mengatasi defisit fiskal ini. Kita harus mencari solusi yang seimbang dan realistis, bukan hanya memilih satu-satunya opsi. πŸ€”
 
Aku pikir gini, kalau kita lihat defisit fiskal 2,92 persen itu apa artinya? Artinya pemerintah masih belum bisa mengatur anggaran dengan baik πŸ€‘. Menurut aku, perlu ada langkah yang lebih serius untuk mengendalikan utang dan defisit. Jangan hanya ngobrol ngobrol, tapi tindakan sekarang aja! πŸ‘

Kalau kita lihat program Makan Bergizi Gratis (MBG), itu benar-benar penting banget buat masyarakat 🀝. Tapi kalau pemerintah mau menekan defisit, maka mereka harus berani memotong anggaran MBG yang sudah banyak diterima 😐.

Aku juga rasa perlu ada perubahan dalam sistem anggaran yang ada πŸ“Š. Jangan hanya Kemenkeu yang berani mengambil keputusan, tapi parlemen dan masyarakat juga harus ikut campur πŸ’¬.
 
Akhirnya aku bisa membahas tentang defisit fiskal yang melonjak hingga 2,92 persen ya... πŸ€” Saya pikir ini bukan kekecewaan belaka, tapi sebenarnya kenyataan ekonomi yang harus dihadapi. Defisit itu juga tidak bisa dihindari, apalagi saat ini kondisi global dan domestik yang volatil. πŸŒͺ️

Tapi, saya setuju dengan Nailul Huda bahwa defisit 0 persen tidak realistis dan tidak perlu. Kita harus sadar bahwa pemerintah tidak bisa menangani semua kesulitan secara sendirian. 😊 Dan yang jadi masalah adalah tekanan APBN dari kewajiban pembayaran utang dan bunga utang. πŸ“

Dan aku rasa program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga harus dijadikan contoh, karena jika pemerintah benar-benar ingin menekan defisit, maka semestinya ia berani memotong anggaran MBG yang telah terealisasi Rp51,5 triliun. πŸ’Έ

Saya setuju dengan Edy Priyono bahwa mengendalikan laju utang lebih krusial dilakukan pemerintah sebetulnya. Kita harus sadar bahwa posisi keseimbangan primer sudah negatif, yang artinya pemerintah harus berhutang untuk membayar cicilan bunga utang. πŸ“ˆ

Dan aku rasa peningkatan penerimaan bukan perkara mudah, terutama saat ini kondisi ekonomi yang melemah. Oleh karena itu, efisiensi belanja menjadi satu-satunya instrumen yang sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah. πŸ’ͺ
 
Maksudnya, kalau gini 2,92 persen jadi realistis bisa apa? πŸ€” Mereka bilang defisit 0 persen tapi siapa aja yang bisa? πŸ™„ Apalagi kalau harus memotong program MBG itu, itu kayak ngenolin ke masyarakat. Belanja saja yang harus diturunkin, bukan program-program penting seperti MBG atau sekadar keuntungan bagi Kemenkeu. πŸ’Έ
 
aku rasa kebijakan fiskal pemerintah gampang digesi karena masih ada sumber daya yang cukup banyak πŸ€”. tapi kalau ingin mengatasi masalah defisit hingga 2,92% itu butuh strategi yang lebih matang, misalnya dengan menaikkan pajak atau memangkas belanja yang tidak penting, biar bisa meningkatkan pendapatan dan kurangi utang. tapi apa yang paling penting adalah kebijakan fiskal harus ada prioritasnya, ya?
 
Makasih ya informasinya. Saya rasa kalau kita lihat secara lebih dekat, maka fiskal pemerintah bukan cuma soal kebijakan saja, tapi juga pengelolaan sumber daya yang efektif. Kalau MBG yang dianggap sebagai prioritas, kenapa lagi kita buat anggaran yang terlalu luas? Nah, saya rasa kalau ini semua tentang kesadaran dan pertanggungjawaban pemerintah dalam mengelola keuangan negara.
 
πŸ€” Defisit fiskal 2,92 persen bukannya masalah besar, kalau cuma mengurangi belanja saja. πŸ€‘ Tapi apa artinya jika program MBG jadi tidak ada? πŸ‘¦ Kita bisa jadi bayang-bayangan lagi kemiskinan di Indonesia ya... πŸ€• Pemerintah harus benar-benar terus mencari sumber pendapatan tambahan, tapi kalau seperti ini, defisit 0 persen memang tidak realistis. 😬 Kita harus jadi lebih teliti dalam mengatur anggaran.
 
Makanan, gini deh nih... MBG itu nggak cuma tentang memenuhi kebutuhan masyarakat, tapi juga tentang efisiensi belanja. Jika kita buat anggaran yang tepat, maka kita bisa mengontrol defisit. Tapi, apa yang terjadi sekarang adalah kita terlalu banyak bebas-belasan belanja. Kita harus lebih bijak dalam pengelolaan anggaran, tapi juga perlu meningkatkan pendapatan agar kita tidak terpaksa berutang lagi.

Saya rasa pemerintah harus lebih transparan dalam mengelola keuangan negara. Jika kita bisa membuat rencana yang realistis dan dapat diikuti, maka kita bisa mengontrol defisit dengan efektif. Dan, saya pikir kita juga perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya efisiensi belanja dan pengelolaan keuangan. Jadi, kita tidak hanya fokus pada memenuhi kebutuhan masyarakat, tapi juga membuat rencana yang matang untuk mengatur anggaran.
 
Defisit fiskal 2,92 persen itu nyolongan kan? Kalau mau menekan defisit, gampung asyik ngurusi program MBG aja πŸ€”. Sebenarnya, apa yang diinginkan adalah kestabilan anggaran, bukan cara-cara sembarangan untuk mengalihkan perhatian dari masalah fiskalnya sendiri πŸ’Έ.
 
kembali
Top