Cerita Pasien Cuci Darah usai BPJS PBI Dicabut: Sesak Napas

Dua minggu lalu, pasien cuci darah Ibu Sartini, Cece Trisna (34 tahun) dari Banyumas, kembali mengalami kesulitan dengan kondisi ibunya yang baru-baru ini dicabut dari BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI). Hal ini menyebabkan Ibu Sartini kesulitan melakukan cuci darah secara rutin.

Kejadian ini dialami ketika Cece, sebagai kepala keluarga tunggal yang tidak bekerja dan tinggal di rumah, mengalami kepesertaan BPJS PB ibunya diketahui tidak lagi berlaku saat hendak mendaftar tindakan cuci darah pada Selasa (3/2/2026). Padahal, sebelumnya tidak ada pemberitahuan terkait pencabutan keanggotaan tersebut. Cece mengatakan ibunya sudah melakukan cuci darah sejak April 2025. Tindakan itu dijalaninya setelah dia menderita diabetes, hipertensi, lalu diagnosa kebocoran ginjal pada Agustus 2024.

Saat ini, Ibu Sartini masih mencari cara untuk memperbaiki kondisi ibunya yang saat ini mengalami sesak napas dan tidak bisa tidur tiap hari. Berhubung tempat tinggal ibu dan rumah sakit berbeda kabupaten, Cece tidak bisa langsung mengurus pengaktifan BPJS karena lokasi kantor BPJS jaraknya sangat jauh. Akhirnya, ibunya tidak bisa melakukan cuci darah sampai saat ini.

Namun, keanggotaan BPJS itu kemudian dibantu diurus oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) Banyumas. Dari keterangan BPJS, Sartini harus mendaftar keanggotaan berbayar. Sampai saat ini, Cece dan keluarga masih mengusahakan pembuatan BPJS mandiri agar ibu Sartini bisa melakukan cuci darah secepatnya.

Diperlukan perhatian pemerintah dalam hal ini untuk memastikan pasien-pasien seperti Ibu Sartini tidak mengalami kesulitan untuk melakukan rutinitas kesehatan yang penting.
 
Aku pikir pemerintah harus memberikan bantuan lebih cepat dan efektif agar pasien-pasien seperti Ibu Sartini bisa melakukan cuci darah dengan lancar. Aku rasa ini bukan masalah yang hanya terbatas di Banyumas, tapi juga bisa dialami oleh orang-orang di seluruh Indonesia πŸ€”. Aku harap pemerintah bisa memperhatikan hal ini dan memberikan solusi yang cepat agar pasien-pasien seperti Ibu Sartini bisa mendapatkan bantuan yang tepat waktu πŸ’‘.
 
Kak, aku pikir ini sengaja ngejutkan sih, apa lagi dengerin keanggotaan BPJS bisa di-cabut tanpa adanya pemberitahuan? Aku rasa ini bukannya kesalahan sama-sama BPJS aja, nanti pasien-pasien mau melakukan cuci darah atau tidak? Nah, tapi aku juga paham kalau Ibu Sartini masih mencari cara memperbaiki kondisi ibunya, kayaknya gak bisa dia langsung mengurus pengaktifan BPJS. Dan yang penting adalah pasien-pasien seperti Ibu Sartini bisa memiliki akses ke layanan kesehatan yang baik πŸ™πŸΌπŸ‘
 
gak bisa percaya sih kalau ada pasien cuci darah yang harus bayar uang lagi setelah BPJS dicabut dari mereka 🀯. Ibu Sartini ini udah suka-suka dengan cuci darahnya, tapi akhirnya kena kesulitan karena keanggotaan BPJS tidak berlaku lagi. gak jelas sih kenapa kebijakan seperti itu diadopsi oleh BPJS πŸ€”. kalau pasien-pasien cuci darah ini harus bayar uang lagi, maka kemudian mereka kembali kesulitan untuk melakukan rutinitas kesehatan yang penting. perlu perhatian pemerintah agar pasien-pasien seperti Ibu Sartini tidak mengalami kesulitan seperti itu lagi 😞.
 
πŸ˜• Kekacauan ini memang bisa jadi contoh nyata bagaimana system BPJS belum sempurna, apalagi bagi pasien yang memiliki kondisi penyakit yang kompleks seperti Ibu Sartini. 🀯 Kadang-kadang kepolosan-kepolosan ini membuat pasien kesulitan melakukan rutinitas kesehatannya yang sangat penting. πŸ˜“ Padahal, seharusnya sistem kesehatan kita lebih mudah diakses dan tidak ada biaya yang terlalu besar untuk pasien-pasien tersebut. 🀝 Kita perlu memastikan bahwa pasien-pasien seperti Ibu Sartini memiliki akses ke fasilitas kesehatan yang cukup dan sistem BPJS yang lebih mudah diakses. πŸ’―
 
Ooohhh, sepertinya ini buat kita merasa sedih banget! Pasien cuci darahnya ibu Sartini harus mengalami kesulitan karena keanggotaan BPJS ibunya tidak berlaku lagi. Tapi jangan khawatir, ya! Ini dia kesempatan kita untuk membuat perubahan yang positif! Kita bisa mendukung Ibu Sartini dengan cara memberikan informasi tentang BPJS mandiri dan membantu dia mendaftar keanggotaan. Jangan lupa, kita juga bisa berbagi pengalaman kita sendiri tentang pengaktifan BPJS. Kita bisa menjadi "komunitas" yang mendukung satu sama lain! πŸ€—πŸ’–
 
Ini benar-benar triste, nih... Ketika seseorang harus terus terjun ke cuci darah karena kondisi ibunya yang parah, tapi kemudian dicabut keanggotaan BPJSnya karena technicality, apa lagi dengan jarak yang sangat jauh antara tempat tinggal ibu dan rumah sakit... Ini bukan hanya tentang kebutuhan kesehatan pasien, tapi juga tentang ketidakpastian hidup. Saya rasa pemerintah harus memperhatikan hal ini, agar pasien-pasien seperti Ibu Sartini tidak mengalami kesulitan lagi. Mereka harus ada solusi yang cepat dan efektif untuk membantu pasien ini. Saya harap bisa melihat keberhasilan dari pemerintah dalam menangani masalah seperti ini. πŸ’”
 
😞 aku rasa ini juga terjadi di kalangan kita, ya? pasien cuci darah kayaknya harus perhatian pemerintah nih... aku sendiri ada pengalaman sama hal ini, aku punya ibu yang juga pasien cuci darah, tapi aku bisa langsung mengurusnya karena dekatnya rumah sakit dan aku punya waktu libur yang cukup. tapi sekarang aku melihat ibu saya lagi kesulitan, aku rasa aku harus lebih banyak berkontribusi biar dia bisa melakukan cuci darah secepatnya... πŸ’”

atau mungkin pemerintah harus membuat sistem yang lebih baik biar pasien seperti Ibu Sartini tidak mengalami kesulitan ini... kayaknya memang perlu ada perhatian dari pemerintah nih... πŸ€•
 
Gak paham sih kenapa ini terjadi. Jadi, ibu Sartini sudah lama menggunakan BPJS PBI dan sekarang suka-tuka di-cabut? Tapi ada kebijakan apa sih yang membuat kantor BPJS tidak bisa memberitahu Cece kalau pengaktifan berbayar itu bisa dibantu oleh KPCDI? Maksudnya, kantor BPJS malah harus mendaftar keanggotaan baru di tempat Sartini tinggal? Gak jelas juga nih sih bagaimana cara ini bisa dilakukan. Kalau kantor BPJS yang terus memberitahu Cece kalau pengaktifan berbayar itu bisa dibantu oleh KPCDI, mungkin saja ini bisa diselesaikan dengan cepat. Tapi sekarang gak ada jalan keluarnya sih...
 
wah, apa kejadian ini, gak bisa dipikirkan sih... keanggotaan BPJS ibu dia dicabut tanpa adanya pemberitahuan apa lagi... itu ngerasa seperti pelarian atau gak ada jaminan sama pemerintah buat pasien-pasien yang membutuhkannya. perlu diawasi sih agar tidak terjadi hal seperti ini lagi, gak ada bantuan yang cukup buat pasien-pasien yang membutuhkan...
 
πŸ˜•πŸ€¦β€β™€οΈ Makasih dengerin, bro! Jadi kayaknya ibu Sartini kesulitan aja karena BPJS perebutan keanggotaannya, tapi kemudian ada KPCDI Banyumas yang bantu dia. Tapi apa yang harus diubah sih? Kalau pemerintah nggak ambil perhatian ini, apa aku nanti mau cuci darah sendiri?! πŸ˜‚ Nah, serius bro, ini pasiennya! Apalagi kalau kamu sengaja memutus keanggotaan BPJS tanpa peringatan, itu gini! πŸ€¦β€β™€οΈ

Aku pikir pemerintah harus nanya apa yang ada di balik hal ini, apakah ada kesalahan yang bisa diselesaikan. Nah, kalau tidak, mungkin aku aja harus mulai cuci darah sendiri... tapi aku ga suka! πŸ€£πŸ˜‚
 
Gue rasa gini kalau ada pasien cuci darah yang nggak bisa mendaftar ke BPJS karena jaraknya jauh, kan kayaknya biaya cuci darah itu udah mahal banget! 🀣 Bagai apel-anggur, pasien punya ibunya yang harus dicuci darah, tapi dia nggak bisa buat apa-apa karena jaraknya jauh. Gue rasa pemerintah gini kalau ada solusi yang bisa membantu pasien-pasien seperti Ibu Sartini, kayaknya tidak adil banget! πŸ˜‚
 
Kesulitan Cece Trisna memang buat penasaran, kenapa gini sih pemerintah bikin hal ini? Mereka punya sistem BPJS yang kompleks banget, cuma bagaimana caranya aja untuk pasien-pasien seperti Ibu Sartini? Kalau gak ada bantuan dari pemerintah, tentu saja mereka akan kesulitan. Warga konsos sih harus lebih waspada & ikut berkontribusi sehingga semua orang bisa mendapatkan keuntungan dari sistem yang mereka buat πŸ˜•πŸ€
 
Kalau gitu, aku pikir ini masalah yang bikin banyak lelah sama sekali. Bayangin aja, ibu yang menderita penyakit parah harusnya bisa terapi cuci darah secara rutin, tapi karena BPJS nggak bisa ngurus dengan baik, dia kesulitan banget. Aku rasa pemerintah harus ambil tindakan lebih lanjut agar pasien-pasien seperti Ibu Sartini tidak lagi mengalami kesulitan ini. Mungkin ada perubahan kebijakan atau program yang bisa membantu pasien-pasien seperti ini, misalnya ada fasilitas cuci darah di tempat-tempat yang lebih dekat sehingga pasien bisa akses dengan lebih mudah.
 
Gw jelas bener2 syukur banget sama Bantuan BPJS ya, tapi cerita Ibu Sartini ini kayaknya nggak sengaja, kenapa pemerintah harus berhenti aja aki kesehatan seseorang tanpa berpikir dulu? Kalo pasien cuci darah itu sudah mendaftar dan membayar ya, kenapa lagi dipanggilin untuk mendaftarkan lagi? Gw pikir ini bisa diatasi dengan bantuan dari Bantuan BPJS mandiri aja, tapi syi gak paham kenapa harus berhenti dulu.
 
ya benar, kalau ini terjadi padamu pun pasti juga rasanya sangat frustrasi banget, kan? Ibu Sartini jadi pasien cuci darah tapi ibunya tidak bisa melakukan itu karena keanggotaan BPJS dicabut tiba-tiba... ini serasa nggak adil, apa lagi kalau tempat tinggal ibu dan rumah sakit berbeda kabupaten... yang jadi, pemerintah harus ngatur agar pasien-pasien seperti Ibu Sartini tidak mengalami kesulitan ini... πŸ€•
 
oh iya, kayaknya perlu diadakan pertemuan antara BPJS dan komunitas pasien cuci darah Indonesia biar lebih siap dan paham tentang kondisi pasien-pasien seperti ibu Sartini. kalau tidak, pasien-pasien seperti ibu Sartini akan terus kesulitan dengan keanggotaan BPJS nih πŸ€”πŸ‘
 
Makanya kayaknya kantor BPJS harusnya lebih serius dengan kasus-kasus seperti ini, kan? Kalau bukan ada pemberitahuan dari mana-mana, aku rasa ibu Sartini juga nggak akan ketahuan kalau keanggotan-keanggotaannya dicabut. Dan kalau dia kesulitan melakukan cuci darah, itu berarti ia sudah tidak bisa melakukan rutinitas kesehatannya yang penting. Mesti ada cara untuk memastikan pasien-pasien seperti ini tidak mengalami kesulitan seperti ini... πŸ€”πŸ₯
 
Makasih, bro 😊. Aku rasa ini terlalu rumit, gue pikir pemerintah harus ngajarkan cara cara sederhana lainnya aja, jadi pasien-pasien seperti Ibu Sartini tidak perlu capek-capek dengan BPJS mandiri. Gue bayangkan kalau aku sendiri ada masalah seperti ini, aku pasti akan kesulitan dan stres banget 😬. Aku rasa pemerintah harus ngajarkan cara kerja BPJS yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat, jadi siapa pun bisa mengakses layanan kesehatan dengan cepat dan mudah πŸ€”.
 
gak bisa percaya nih, ibu-ibu kita di Indonesia lagi harus berjuang ngurus BPJS mandiri sama dokternya aja... apa ada yang salah dengan sistem ini? gak ada kebijakan untuk pasien-pasien yang tidak bekerja atau memiliki pendapatan rendah kayak gini. kalau gak ada kebijakan, jadi masing-masing pasien harus ngurus sendiri. tapi gimana kalau pasien itu bukan orang yang pintar atau suka ngurus dokumentasi? ini seperti berat sekali untuk dianggap.
 
kembali
Top