Tumbuhan uang primer (M0) adjusted pada akhir tahun ini mencapai Rp2,367 triliun, tumbuh 16,8 persen. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 13,3 persen.
Pertumbuhan M0 adjusted dipengaruhi oleh pemberian insentif likuiditas melalui pengendalian moneter adjusted. Insentif likuiditas tersebut merujuk pada penyesuaian perhitungan jumlah uang beredar, seperti M0 dan M2, yang dilakukan Bank Indonesia untuk memperhitungkan dampak pemberian likuiditas.
Bank Indonesia meningkatkan besaran insentif likuiditas bagi perbankan yang menurunkan suku bunga kredit lebih cepat melalui channel interest rate. Besaran insentif ini sebelumnya maksimal 0,5 persen dan sekarang menjadi 1,0 persen dari dana pihak ketiga.
Pertumbuhan M0 adjusted juga didorong oleh peningkatan giro bank umum di Bank Indonesia serta uang kartal yang diedarkan. Giro bank umum tercatat tumbuh 35,1 persen menjadi Rp979,86 triliun, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Sementara itu, insentif KLM yang telah dikucurkan Bank Indonesia mencapai Rp388,1 triliun. Dana tersebut disalurkan kepada bank BUMN sebesar Rp177,1 triliun, bank umum swasta nasional (BUSN) Rp169,5 triliun, dan kantor cabang bank asing (KCBA) Rp7,0 triliun.
Pengendalian moneter adjusted juga mempercepat penurunan suku bunga kredit/pembiayaan perbankan dalam rangka optimalisasi intermediasi dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian.
Pertumbuhan M0 adjusted dipengaruhi oleh pemberian insentif likuiditas melalui pengendalian moneter adjusted. Insentif likuiditas tersebut merujuk pada penyesuaian perhitungan jumlah uang beredar, seperti M0 dan M2, yang dilakukan Bank Indonesia untuk memperhitungkan dampak pemberian likuiditas.
Bank Indonesia meningkatkan besaran insentif likuiditas bagi perbankan yang menurunkan suku bunga kredit lebih cepat melalui channel interest rate. Besaran insentif ini sebelumnya maksimal 0,5 persen dan sekarang menjadi 1,0 persen dari dana pihak ketiga.
Pertumbuhan M0 adjusted juga didorong oleh peningkatan giro bank umum di Bank Indonesia serta uang kartal yang diedarkan. Giro bank umum tercatat tumbuh 35,1 persen menjadi Rp979,86 triliun, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Sementara itu, insentif KLM yang telah dikucurkan Bank Indonesia mencapai Rp388,1 triliun. Dana tersebut disalurkan kepada bank BUMN sebesar Rp177,1 triliun, bank umum swasta nasional (BUSN) Rp169,5 triliun, dan kantor cabang bank asing (KCBA) Rp7,0 triliun.
Pengendalian moneter adjusted juga mempercepat penurunan suku bunga kredit/pembiayaan perbankan dalam rangka optimalisasi intermediasi dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian.