Soroti Kemacetan, DPRD Surabaya Dorong Penanganan Serius dan Kolaboratif
Kemacetan lalu lintas di Surabaya masih menjadi masalah yang tidak terpecahkan. Meski tidak separah Jakarta, kemacetan tetap berdampak besar pada warga. Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Bahtiyar Rifai, mengatakan bahwa kemacetan di Surabaya bukan hanya masalah satu titik, melainkan beberapa simpul krusial yang membutuhkan penanganan serius.
Kemacetan kerap meningkat signifikan saat berlangsung proyek infrastruktur maupun pada jam-jam sibuk. Salah satu titik yang disorot adalah kawasan Taman Pelangi yang saat ini tengah dilakukan pekerjaan pembangunan. Bahtiyar menilai bahwa koordinasi lintas instansi menjadi kunci dalam penanganan kemacetan.
"Ketika ada proyek, pemkot harus sejak awal menyiapkan skema rekayasa lalu lintas dan jalur alternatif," ujar Bahtiyar. "Jangan sampai proyek berjalan, tapi pengaturan lalu lintasnya tertinggal, sehingga justru memunculkan simpul macet baru."
Ia menilai bahwa pengendara cenderung lebih patuh kalau yang mengatur petugas resmi dan kepolisian. Bahtiyar juga menyoroti lonjakan kemacetan saat momen long weekend dan libur panjang. Kawasan Tol Tandes, Margomulyo, hingga jalur menuju Gresik kerap mengalami kepadatan ekstrem akibat tingginya aktivitas kendaraan berat dari kawasan pergudangan dan industri.
"Beberapa kali terjadi penumpukan sampai berjam-jam. Bahkan ada warga yang butuh waktu 4 sampai 5 jam hanya untuk keluar tol," kata Bahtiyar.
DPRD Surabaya akan terus mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada kelancaran mobilitas warga. Bahtiyar menilai penanganan kemacetan tidak bisa bersifat reaktif, melainkan harus direncanakan secara matang dan kolaboratif.
"Tujuan akhirnya satu, warga tidak dirugikan. Mereka berangkat dan pulang kerja tepat waktu, aktivitas ekonomi lancar, dan Surabaya tetap nyaman sebagai kota layak huni," tandasnya.
Kemacetan lalu lintas di Surabaya masih menjadi masalah yang tidak terpecahkan. Meski tidak separah Jakarta, kemacetan tetap berdampak besar pada warga. Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Bahtiyar Rifai, mengatakan bahwa kemacetan di Surabaya bukan hanya masalah satu titik, melainkan beberapa simpul krusial yang membutuhkan penanganan serius.
Kemacetan kerap meningkat signifikan saat berlangsung proyek infrastruktur maupun pada jam-jam sibuk. Salah satu titik yang disorot adalah kawasan Taman Pelangi yang saat ini tengah dilakukan pekerjaan pembangunan. Bahtiyar menilai bahwa koordinasi lintas instansi menjadi kunci dalam penanganan kemacetan.
"Ketika ada proyek, pemkot harus sejak awal menyiapkan skema rekayasa lalu lintas dan jalur alternatif," ujar Bahtiyar. "Jangan sampai proyek berjalan, tapi pengaturan lalu lintasnya tertinggal, sehingga justru memunculkan simpul macet baru."
Ia menilai bahwa pengendara cenderung lebih patuh kalau yang mengatur petugas resmi dan kepolisian. Bahtiyar juga menyoroti lonjakan kemacetan saat momen long weekend dan libur panjang. Kawasan Tol Tandes, Margomulyo, hingga jalur menuju Gresik kerap mengalami kepadatan ekstrem akibat tingginya aktivitas kendaraan berat dari kawasan pergudangan dan industri.
"Beberapa kali terjadi penumpukan sampai berjam-jam. Bahkan ada warga yang butuh waktu 4 sampai 5 jam hanya untuk keluar tol," kata Bahtiyar.
DPRD Surabaya akan terus mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada kelancaran mobilitas warga. Bahtiyar menilai penanganan kemacetan tidak bisa bersifat reaktif, melainkan harus direncanakan secara matang dan kolaboratif.
"Tujuan akhirnya satu, warga tidak dirugikan. Mereka berangkat dan pulang kerja tepat waktu, aktivitas ekonomi lancar, dan Surabaya tetap nyaman sebagai kota layak huni," tandasnya.