Saksi Kasus Perizinan K3 Ungkap Alasan Nominal Suap Bervariasi

Saksi Kasus Perizinan K3 Ungkap Alasan Nominal Suap Bervariasi

Dalam sidang dugaan pemerasan dalam pengurusan sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan, Nila Pratiwi Ihsan mengungkapkan bahwa sejumlah staf hingga pejabat diduga telah menerima uang hasil pemerasan yang berasal dari perusahaan jasa keselamatan dan kesehatan kerja (PJK3).

Menurut Nila, nominal uang yang dibagikan kepada setiap individu tersebut jumlahnya beragam, dari mulai jutaan hingga ratusan juta, berdasarkan peranan mereka dalam proses penerbitan sertifikat K3 di internal Kementerian. "Saudari bisa membagikan si A terima sekian puluh juta, atau sekian ratus juta, itu saudara putuskan sendiri atas dasar apa? itulah pertanyaannya, dan saudari bisa menjawab sebenarnya", kata hakim Nur Sari Baktiana.

Dalam kesaksiannya, Nila menerangkan bahwa dirinya menjadi penerima uang yang diberikan oleh PJK3 dalam proses pengurusan sertifikat K3. Dia menjelaskan bahwa sebagian besar uang tersebut dibayarkan oleh PJK3 kepadanya dalam bentuk transfer dan kemudian didistribusikannya kepada sejumlah staf dan pejabat di Kementerian.

Namun, Nila membantah hal ini karena menurutnya hal itu adalah angka perkiraan upah yang diterimanya dari pengelolaan uang hasil pemerasan K3. Hal ini mengingat nominal yang diberikan kepadanya bervariasi di setiap bulan.

Dalam sidang, selain Nila, jaksa juga menyebut nama lain yang ikut mendapat jatah. Mereka adalah terdakwa Sekarsari Kartika Putri, Amy Ratna Putri, Gumilang Ayani, Indri Yulias Tuti, Syarifudin, Fitriana Bani, Revna Niriangsari, Sutarno, dan Zuhri Fardeli.

KPK juga telah melakukan penyitaan terhadap 32 kendaraan, terdiri dari 25 unit mobil dan 7 unit motor. Sedangkan pihak swasta yang didakwa dalam perkara ini adalah Temurila dan Miki Mahfud dari PT Kreasi Edukasi Mandiri (PT KEM Indonesia).
 
Maksudnya siapa nih yang punya uang 40 juta, 100 juta, aja? Itu banyak banget! 🤑😂 Jangan dibagikan seperti kue, sih. Pemerasan kalau tidak dihalangi, apa lagi kalau diawasi rapat-rapatnya, hasilnya apa aja? Kalau benar-benar ada uang yang dibagikan, mesti ada sumber dan tujuan juga. Jangan hanya berita-ritanya sih 🤔💸.
 
Gue rasa gini, siapa nih yang benar-benar bisa percaya dengan kata-kata Nila Pratiwi Ihsan? Dikatakan dia jadi penerima uang hasil pemerasan K3, tapi sekarang malah dia bilang uang itu bervariasi dan nggak ada bukti sih. Gue rasa kPK harus lebih cermat dalam penyelidikan ini, tapi gue juga pikir ada yang salah di balik semuanya. Siapa yang ternyata benar-benar mendapatkan uang tersebut? Atau semua itu nggak ada artinya sama sekali? 🤔💸
 
Gue pikir kalau gini sering terjadi di kementerian, tapi gue rasa belakangan ini ada yang banyak terlibat dalam kasus ini 🚨. Nominal suapnya bisa bervariasi itu bikin curiga siapa aja yang ngerampok dana negara? Gue pikir pihak KPK harus terus saksikan prosesnya hingga akhir untuk tidak ada lagi kecurangan seperti ini 😕.
 
Gue pikir siapa yang nanti bakal bisa menebak apa kebenaran di balik perizinan k3 itu 🤔. Gue rasa ada sesuatu yang tidak pas di balik segalanya, tapi gue nggak bisa menemukan kunciannya 😕. Saya pikir siapa yang berani melanggar aturan dan menerima uang hasil pemerasan itu? Apakah mereka benar-benar butuh uang untuk hidup atau apa lagi? 🤑 Gue rasa semuanya terlalu susah dan kompleks, membuat gue malah pusing 🤯. Saya hanya bisa berpikir tentang bagaimana cara mengatasi masalah ini dengan lebih bijak, bukan mencari siapa yang bertanggung jawab 🙏.
 
Siapa sih yang tidak tahu kalau ada uang hasil pemerasan yang bikin semua orang gembira? 🤑 Semua itu berawal dari perusahaan jasa keselamatan dan kesehati kerja ya! Mereka yang nanti jadi kunci pengurusan sertifikat K3, mereka yang nanti punya uang di tangan. Kalau nggak ada uang hasil pemerasan, tentu saja gampang banget untuk mendapatkan sertifikat K3. Saya bayangkan si Nila Pratiwi Ihsan, dia jadi penerima uang dari PJK3, tapi dia malah ngerasa khawatir kalau uang itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. 🤔 Aku pikir dia kental dan sombong, tapi mungkin aku salah. Saya rasa hal ini semua masih dalam rangkaian dari proses pengurusan sertifikat K3 yang serius banget.
 
omg ini kasus k3 keren banget, tapi apa salahnya sih perusahaan jasa keselamatan itu suap uang?? 😒 mereka itu sibuk ngurus sertifikat dan gak ngurus uang?? 🤑 nominalnya bervariasi, kayak gak ada aturan sama sekali? 🤔 di Indonesia ini siapa yang bisa ngatur aja? 😂
 
🤔 aku pikir ini sangat tidak jelas, siapa nih yang mau menerima uang hasil pemerasan? rasanya ada apa-apa salah dengan sistem pengelolaan ini. tapi aku rasa yang penting disini adalah bagaimana kementerian ini bisa begitu kacau dan tidak fokus pada pekerjaan utama ya, yaitu meningkatkan kesejahteraan dan keselamatan kerja bagi pegawai.

di luar negeri juga ada cara lain untuk mengatasi masalah ini, misalnya dengan membuat sistem pengelolaan yang lebih transparan dan jelas. atau bisa juga dengan memberikan insentif kepada pegawai yang bekerja keras dan berdedikasi, bukan dengan menawarkan uang hasil pemerasan.

aku rasa ada yang perlu diubah di dalam sistem ini, tapi aku tidak tahu apa-apa solusinya, hanya ingin melihat bagaimana kementerian ini bisa belajar dari kesalahan ini dan membuat perubahan yang positif. 🤷‍♂️
 
Pikirnya jelas kok, kalau ada uang hasil pemerasan k3 siapa yang tidak mau nemenya? 😂 tapi serius aja, ini bukan pilihan orang biasa kan, ini pejabat dan staf kerajaan yang berpotensi membawa ganti rugi bagi masyarakat 🤑. Mungkin bisa jadi ada lagi nama-nama yang tidak disebutkan di sidang dugaan pemerasan.
 
Saudara kalau nonton sidang dugaan, siapa aja yang tahu siapa yang mendapatkan uang dari suap 🤑. Saya rasa ini sama sekali tidak jelas, harus ada penyelidikan lebih lanjut ya 💡.
 
kembali
Top