Saksi: Jual Solar di Bawah Bottom Price Belum Tentu Rugi

Tidak semua perusahaan yang menjual BBM industri menanggung kerugian karena menjual pada harga bawah bottom price. Menurut Vice President PT Pertamina Patra Niaga (PT PPN), Muhammad Taufiq Setyawan, penjualan solar di bawah harga minimum tidak secara otomatis menyebabkan kerugian bagi perusahaan.

"Bottom price" adalah indikator internal yang dinamis untuk memeriksa harga pasar spot setiap dua minggu. Namun, untuk kontrak jangka panjang, perusahaan menggunakan "Cost of Goods Sold" (COGS) sebagai acuan utama. Menurut Taufiq, harga jual harus tetap di atas COGS agar perusahaan tidak rugi.

Taufiq juga menjelaskan bahwa dalam industri BBM yang sangat kompetitif dengan lebih dari 160 pesaing, menjaga "market share" atau pangsa pasar adalah kunci keberlangsungan bisnis. Harga yang kompetitif diberikan untuk mempertahankan volume penjualan.

Menurut Manager Mining Industry Sales PT PPN, Dimas Eka Yuniar Rusli, ada di Indonesia lebih dari 100 badan usaha yang memiliki izin untuk menjual BBM industri dan saingannya ada sekitar 160 perusahaan. Saingannya mencoba menyerang pasar dengan harga yang kompetitif.

Berdasarkan data dari VP Controller PT PPN, Nur Amalia Lubis, meskipun ada fluktuasi harga per transaksi, secara keseluruhan atau agregat, segmen industri tetap mencatatkan laba. Rata-rata keuntungan PT PPN masih berada di kisaran 102 persen hingga 106 persen dibandingkan dengan revenue.

Taufiq juga memastikan bahwa proses penentuan harga dilakukan sesuai prosedur tanpa adanya intervensi dari atasan direksi, termasuk dari terdakwa Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga. Ia menyatakan bahwa selama menjabat, dirinya menjalankan kewenangan secara independen sesuai Job Description dan Surat Keputusan (SK) Direksi yang berlaku.

Menanggapi keterangan para saksi, Koordinator Tim Advokat Riva Siahaan, Maya Kusmaya, dan Edward Corne, Luhut M. P. Pangaribuan menyatakan bahwa fakta persidangan makin melemahkan tuduhan terhadap kliennya. Ia menegaskan bahwa unsur niat jahat atau "mens rea" sama sekali tidak terbukti. Seluruh keputusan diambil dalam kerangka tata kelola yang sah, sesuai kewenangan, dan justru menghasilkan keuntungan.

Luhut juga menambahkan bahwa argumentasi mengenai kerugian sudah sangat lemah dan telah berulang kali terpatahkan oleh fakta persidangan. Tim Advokat menegaskan bahwa fakta persidangan menunjukkan tidak adanya perbuatan melawan hukum maupun kerugian negara akibat perbuatan Riva Siahaan, Maya Kusmaya, dan Edward Corne. Sebaliknya, kebijakan yang diambil justru disebut menghasilkan penghematan impor bahan bakar minyak (BBM) sebesar 26 juta dolar Amerika Serikat (AS) serta keuntungan masing-masing 1,4 miliar dolar AS dan 1,2 miliar dolar AS dari penjualan solar non-subsidi pada tahun 2022 dan 2023.
 
Gue pikir hal ini membuat kita sadar bahwa harga pasar yang kompetitif memang penting untuk melekasi bisnis, tapi gue juga pikir ada sesuatu yang lebih penting yaitu kekuatan konsisten dalam mengelola bisnis 🤑. Jika perusahaan bisa menjaga market share dan tetap menghasilkan laba meskipun ada fluktuasi harga, itu artinya mereka sudah memiliki strategi yang solid untuk berkompetisi di pasar. tapi gue curigai apa yang akan terjadi jika mereka tidak bisa menjaga keseimbangan keuangan? 🤔
 
ada nggak di balik hal ini siapa yang benar-benar punya keuntungan? gimana kalau ada yang terlupakan seperti pengguna energi nih 😅 kayaknya perlu diinvestigasi lebih jauh...
 
Harga bawah bottom price tidak langsung menyebabkan kerugian bagi perusahaan 🤑. Mereka juga harus mempertimbangkan "Cost of Goods Sold" atau biaya bahan bakar yang dijual sebelumnya ⚖️. Menurut saya, perusahaan harus menentukan harga yang kompetitif untuk tetap mengisi volume penjualan 💸. Di industri BBM sangat kompetitif, jadi harga yang terlalu rendah bisa membuat perusahaan rugi 😬.
 
aku rasa perusahaan yang menjual BBM industri itu bisa mengelabui kita dengan cara mereka menjual di harga bawah bottom price deh, tapi gampang-ganteng sih kalau kita lihat dari data yang ada, laba mereka masih tetap stabil aja. aku pikir mereka harus fokus lagi pada strategi marketing dan bagaimana caranya mereka bisa meningkatkan volume penjualan, bukan hanya sekedar menjual di harga rendah ya
 
Harga BBM industri di bawah "bottom price" gak berarti perusahaan kalah, kan? Kalau begitu, kenapa seseorang harus merasa marah karena tidak bisa memenangkan perdebatan dengan argumen yang lemah? Saya rasa ada yang salah dengar cerita ini, sih. Keren banget kalau PT PPN bisa menghasilkan laba 102-106% dari revenue! Tapi, siapa tahu, mungkin ada yang kurang jelas di dalam cerita ini 🤔
 
HAHAHAAA! INI NYATA NYATA! KALI NYA PAPARAN HARGA BAWAH BOTTOM PRICE, TAPI TIDAK SEMUA PERUSAHAN YANG JUAL BBM INDUSTRI LAH KERUGIAN? ITU SEBENARNYA KESALASAN NINGGA PUNYA! TAPI SEJENGKAP NYA SADARIN YA, HARGA SAAT INI BAWAH BOTTOM PRICE TIDAK MENSABABKAN KERUGIAN BISA. INGINNYA YANG MAHAL, SAYANGNYA YANG MAHAL, BISA MENIKMATI KEUNTUNGAN 102-106% DIAtas Revenue! APA YA, ITU SEMUA NYATA! 🤑📈
 
Saya suka sekali kalau pemerintah Indonesia memang bisa menghemat impor bahan bakar minyak sebesar 26 juta dolar AS karena efisiensi PT Pertamina Patra Niaga dalam menjual solar non-subsidi 🤑. Saya juga senang lihat bahwa perusahaan tersebut masih bisa mencatatkan laba yang cukup baik, 102 persen hingga 106 persen, itu sudah sangat bagus 📈. Tapi, saya tetap penasaran kenapa ada beberapa saksi yang dianggap terdakwa dan harus menjelaskan diri mereka sendiri 😕. Saya harap proses persidangan bisa segera selesai dan semua pihak dapat menemukan kebenaran 🤝.
 
Paham banget kan kalau perusahaan-perusahaan BBM industri di Indonesia masih bisa berjalan dengan laba. Karena setelah membandingkan harga jualnya dengan 'Cost of Goods Sold' (COGS), tidak semua perusahaan yang menjual pada harga bawah bottom price itu akan rugi. Itu cara mereka untuk tetap kompetitif dan jaga market share ya 🤗
 
Aku pikir kayaknya ini masalah harga yang kompetitif di Indonesia sih. Banyak perusahaan yang berusaha menjual produk mereka dengan harga yang lebih rendah agar bisa bersaing di pasar. tapi apa yang bikin aku ragu adalah, apakah mereka benar-benar tidak rugi dari penjualan di bawah harga bottom price?

atau mungkin ada hal lain yang membuat mereka tetap mendapatkan laba, seperti volume penjualan yang lebih banyak atau strategi pemasaran yang efektif. apa yang penting adalah, perusahaan tersebut masih bisa berjalan stabil dan tidak mengalami kerugian yang besar.

dan kayaknya ini juga masalah tentang bagaimana kita memeriksa dan menilai laba rugi di industri ini. apakah kita hanya melihat angka laba dan rugi saja, atau kita juga perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti volume penjualan, biaya produksi, dan strategi pemasaran?
 
aku kira banget gak bisa jalan bisnis industri BBM di indonesia... tapi aku rasa ada yang salah aku coba bayangin, apa yang bikin perusahaan tidak rugi kalau menjual solar di bawah harga min? mungkin karena mereka sudah ngatur COGS dan biaya lainnya, sehingga profit tetap ada. tapi aku masih ragu, bagaimana kalau di industri ini kompetisi sangat tinggi, misalnya ada 160 pesaing yang serus menyerang pasar dengan harga kompetitif? bagaimana mungkin perusahaan tetap bisa bertahan dan mendapatkan laba? 🤔
 
Aku pikir kalau diindonesia masih banyak perusahaan yang bisa bertahan dengan menjual BBM industri pada harga kompetitif, bahkan jika itu berarti mereka tidak mendapatkan margin keuntungan yang tinggi. Mereka bisa fokus untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mempertahankan market share. Kalau ingin mencari kerugian, kalau di negara lain seperti china atau usa pasti akan lebih mudah ditemukan 😂
 
Aku rasa ini kayak banget sama saat 90-an dulunya, ketika masih ada banyak perusahaan kecil yang menjual BBM di Pasar Baru. Sekarang ada banyak perusahaan besar lagi, tapi gampangnya semua jadi kompetitor dan harus bersaing dengan harga yang murah. Aku tidak terkejut kalau PT PPN masih bisa berlabuh, karena mereka sudah lama menjalankan bisnis ini dan tahu bagaimana cara untuk tetap kompetitif. Tapi aku rasa, kalau kita lihat keadaan di pasaran sekarang, itu seperti permainan kartu yang sangat sulit diprediksi...
 
Harga bawah minimum itu nggak apa-apa kayaknya, tapi gini aja, ada perusahaan yang jual BBM di bawah harga minimum tapi masih nggak rugi. Itu artinya mereka harus bisa menjaga profitnya dari COGS, kayaknya seperti di bisnis mobil atau sesuatu yang nggak ada hubungannya dengan BBM. Nah, sementara itu, ada beberapa perusahaan lain di Indonesia yang juga jual BBM tapi tidak sama-sama sukses.
 
Harganya murah ya tapi masih bisa menghasilkan laba? Ini artinya kamu harus berpikir jangan terlalu cepat merasa kalah hanya karena ada orang lain yang lebih murah. Kamu harus tahu apa kelebihanmu sendiri dan bagaimana kamu bisa tetap kompetitif dalam pasar yang sangat padat seperti ini 🤑. Jangan lupa, harga yang stabil bukan berarti tidak perlu kamu berusaha keras untuk menjadi lebih baik lagi 💪.
 
Jadi kan siapa sih yang bilang kerugian itu pasti dari perusahaan di dalam? Saya pikir penjual BBM di bawah harga bottom price itu sebenarnya karena ingin meningkatkan volume penjualan ya, bukan untuk merugikan diri sendiri 🤑. Dan kalau perusahaan bisa menjaga market share, tentu saja mereka akan tetap mendapatkan laba yang stabil 💸.
 
Aku nggak tahu apa artinya kalau perusahaan masih rugi jika jual BBM di bawah harga minimum. Aku pikir itu seperti ketika aku menjual tiket kereta api di stasiun, aku harus menawarkan harga yang wajar juga. Kalau mau lebih murah lagi, aku masih bisa penjualannya. Seperti kayaknya perusahaan BBM industri. Tapi aku rasa kalau mereka yang menjalankan bisnis ini harus lebih pintar dalam mengatur harga dan volume penjualan. Aku rasa itu penting agar tidak ada perusahaan yang mengalami kerugian besar.
 
aku paham kalau harga di pasar bisa berfluktuasi, tapi yang penting adalah perusahaan tetap buat laba ya... kalau mereka ingin menjaga market share, harus kompetitif dengan harga yang tepat, tidak terlalu rendah atau tinggi
 
Hehe, gue penasaran sih mengapa banyak orang bilang PT Pertamina pati nggak nggak? Nah, sepertinya PT Pertamina masih bisa mengelola bisnisnya dengan baik, bahkan saat-saat kompetisi sengit di pasaran. Gue rasa mereka fokus pada menjaga volume penjualan dan market share, bukan hanya pada menangkap pasar dengan harga rendah. Dan sih, perusahaan ini masih bisa mencatat laba yang pesat, sekitar 102-106 persen! 🤑👍
 
kembali
Top