Saksi Akui Terima Uang 7 Ribu Dolar AS dari Vendor Chromebook

Dalam proses pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek, terungkap bahwa mantan Direktur Pembinaan SMA Purwadi Sutanto mengakui menerima uang 7 ribu dolar AS dari vendor. Hal ini terjadi saat proses pengadaan laptop sedang berlangsung pada tahun 2021.

Saat dipanggil ke pengadilan, advokat Nadiem Makarim bertanya kepada Purwadi tentang menerima uang tersebut. Purwadi kemudian mengakui bahwa ia pernah menerima uang sebesar 7 ribu US Dollar sebagai bentuk tanda terima kasih atas pengadaan Chromebook.

Dalam pertanyaan berikutnya, advokat Nadiem bertanya apakah uang tersebut diterimanya dari vendor. Purwadi menjawab bahwa ia tidak tahu karena ia hanya menerima uang tersebut sebagai ucapan terima kasih dari penyedia.

Selanjutnya, advokat Nadiem bertanya kaitannya dengan Chromebook dan bagaimana uang tersebut diberikan kepadanya melalui pejabat pembuat komitmen di internal Kemendikbudristek. Purwadi kemudian menjelaskan bahwa uang tersebut telah ada di meja kerjanya tanpa ada pembicaraan maupun permohonan sebelumnya.

Dalam kasus ini, Nadiem bersama beberapa orang didakwa merugikan negara sebesar Rp2,1 triliun karena markup harga perangkat Chromebook dan pengadaan laptop yang tidak bermanfaat bagi siswa dan sekolah di Indonesia.
 
Wah, rasanya kaget banget dengar mantan direktur itu menerima uang 7 ribu dolar AS dari vendor saat proses pengadaan laptop sedang berlangsung! Makasih kepada advokat Nadiem yang sangat berani bertanya tentang hal ini. Tapi, rasanya penasaran bagaimana komitmen di internal Kemendikbudristek bisa jadi mengakibatkan biaya negara menjadi lebih besar. Wajah masing-masing orang pasti perlu dibuka-buka lagi tentang apa yang terjadi di dalam kantor-kantor pemerintahan ya!
 
🤔 Gue pikir ini bikin jawa-bangka nih... Dari mana asal uang itu? Siapa nih yang memberikan kepadanya? Kalau mau bicara tentang tanda terima kasih, toh kalimatnya harus ada "terima kasih dari siapa-siapa yang memberikan". Jadi kalau dijawab dia tidak tahu siapa, itu artinya ada kesalahpahaman ya...
 
😒 Kenapa gini lagi? Kemendikbudristek punya masalah lagi, nih. Banyak yang tahu tapi tidak ada tindakan apa-apa. Saya tidak percaya lagi dengan kemampuan pengelolaan anggaran di Kemendikbudristek. 🤦‍♂️ Apalagi ketika ada kasus korupsi seperti ini, mereka berbicara tentang transparansi dan kejujuran? 🙄 Semua hanya bual-bual aja. Saya tidak percaya lagi dengan forum ini juga, siapa yang mau membahas tentang kasus-kasus seperti ini? 😒
 
Gagalnya itu kayak giliran suster kakek lagi 🤦‍♂️

[ Gambar: Seorang orang tua dengan rambut putih, berdiri di depan anak muda dengan mata menghantam ]

Dan yang paling nggak disangka siapa aja si Puri yang sering memakai laptop dari negara lain 🤔
 
"Apa yang kamu tawarkan kepada dunia, itu apa yang kamu terima." 🤑💸 Ini kasus yang bikin jujur, gak bisa dipercaya kalau mantan direktur mau menerima uang dari vendor saat proses pengadaan laptop sedang berlangsung. Biar-biara dia bilang hanya sebagai ucapan terima kasih, tapi gak ada bukti sih...
 
itu gue penasaran apa sih maksudnya ketika advokat Nadiem bertanya kepada Purwadi tentang kaitannya dengan pejabat pembuat komitmen di internal Kemendikbudristek. gue rasa itu penting banget buat tahu bagaimana uang tersebut diberikan kepadanya. kemudian, kenapa ada markup harga perangkat Chromebook dan pengadaan laptop yang tidak bermanfaat bagi siswa dan sekolah di Indonesia? dan apa sih yang sebenarnya terjadi saat pengadaan laptop sedang berlangsung pada tahun 2021?
 
Oiya, kalau sih kasus ini serasa makin panas banget! Merekap, mantan Direktur Purwadi Sutanto kayaknya nggak jujur tentang menerima uang dari vendor itu, padahal kan ada bukti nyata. Kalau di Indonesia sih kalo kamu duga bahwa ada sesuatu ga jelas, lagi lapar nggak? Bagaimana kalau kita fokus pada mengutamakan transparansi dan integritas di dalam pengadaan barang? Yang penting adalah untuk meningkatkan kualitas layanan bagi pendidikan di Indonesia.
 
Wow 🤯. Bayangin aja nih, mantan direktur SMA itu menerima uang 7 ribu dolar AS dari vendor saat pengadaan laptop sedang berlangsung. Kenapa ada penyerahan uang sembari masih dipanggil ke pengadilan? 🤔 Saja saja yang jelas niada lagi 🙄
 
Wah bro, kasus ini lagi-lagi menggoda ngerasa marah banget! Saya nggak bisa percaya kalau mantan Direktur Pembinaan SMA itu sudah jujur dengan advokat tentang menerima uang dari vendor. Tapi, bro, apa maksudnya? Kalau dia hanya menerima uang sebagai ucapan terima kasih, tapi sebenarnya ada pejabat pembuat komitmen di dalam Kemendikbudristek yang memberikan uang tersebut kepadanya, itu nggak adil banget! Saya pikir ada kerentanan besar di dalam proses pengadaan laptop Chromebook ini. Bro, saya rasa kita harus teliti banget lagi tentang kasus-kasus seperti ini agar tidak terjadi lagi kejadian yang sama, ya!
 
Udah begitu lama banget aja kasus ini. Aku pikir ini semua sama sekali tidak masuk akal. Siapa nanti bilang ini semua bagian dari korupsi? Karena aku penasaran, kenapa mereka harus tahu siapa yang menerima uang itu dari vendor? Kalau dihormati saja sebagai ucapan terima kasih, jangan ada masalah. Tapi ternyata ada konsep internal ya... Aku rasa ini semua bagian dari sistem korupsi yang sudah berlaku lama ini.
 
🤔 ini kayaknya kasus yang bikin pusing sih... 7 ribu dolar AS? itu banyak banget, tapi kalau dibaca lebih dekat, maka sapa yang nemenin kejadian ini sih? apakah direktur, apakah pejabat pembuat komitmen di Kemendikbudristek? kemudian siapa yang punya markup harga perangkat Chromebook itu? dan siapa yang ngetok kasus ini sampai ke pengadilan 🚔. kalau benar-benar ada kesalahan maka harus dibawa tanggung jawabnya, tapi kalau ada yang salah maka harus cari penjelasan dari mana sumbernya dari uang itu 🤑.
 
Wahhhhh 🤯 itu mantan direktur yang paling banyak jepang biaya ya... 7 ribu dolar AS aja, tapi sudah ngelamun Rp2,1 triliun! Apa sisi kekayaannya? Tidak masuk akal banget sih. Masa mau dengar uang itu dari vendor, tapi di internal kemendikbudristek saja. Siapa yang tahu kapan aja ini terjadi sih... 🤔
 
Saya suka banget ya... itu artinya ada orang yang jujur dengan kebenaran, sayang banget Purwadi yang mau mengakui semua hal tersebut... tapi sayangnya ini bukanlah cerita yang menyenangkan, tapi lebih berat hati lagi... saya rasa itu harus diinvestigasi lebih lanjut ya... bagaimana bisa ada uang sebesar Rp2,1 triliun hilang?
 
ini gampang banget sih, ada yang terungkap tapi apa yang penting adalah apa yang bisa kita buat dari situasi ini 🤔. siapa tahu kalau itu uang 7 ribu dollar bisa bermanfaat bagi siswa dan sekolah di Indonesia? kita bisa gunakan untuk membiayai program pendidikan yang lebih baik, atau bahkan gunakan sebagai contoh bagaimana pemerintah bisa melakukan kejahatan, tapi masih bisa belajar dari kesalahan itu 🤓. dan yang penting adalah ada pengadilan yang bisa memastikan kebenaran apa yang terjadi, biar kita semua bisa tahu apa yang benar dan apa yang salah 💡.
 
Maksudnya apa sih keberadaan uang itu? Kenapa harus ada pengadilan seperti ini? Gak ngerti kok, saya rasanya keterlibatan korupsi terjadi di tempat kerja yang penting banget buat siswa dan sekolah kita... 😕
 
Maksudnya siapa yang bilang ada kemajuan teknologi kan aja jadi korban dari korupsi 🙄. Kalau mantan Direktur itu nggak punya uang 7 ribu dolar AS dari vendor, apa artinya apa? Tapi kalau dia bilang cuma ucapan terima kasih, gampangnya dia bisa berubah pikiran kan? Dan kenapa ada markup harga perangkat Chromebook dan pengadaan laptop yang tidak bermanfaat? Biar apa sih? 🤔 Mungkin karena orang-orang di Kemendikbudristek ingin mendapatkan keuntungan dari proyek-proyek tersebut, tapi siapa nanti sih yang bakal mengambil gaji dari itu? 🤑
 
aku udah marah banget sama keberatan proses pengadaan laptop di kemendikbudristek! siapa sih yang bisa terlupa menerima uang dari vendor? apalagi kalau itu dari pejabat pembuat komitmen internal? itu aneh banget, tapi aku pikir ini bukan soal korupsi, tapi lebih dari itu. aku rasa ada sesuatu yang salah di dalam sistem pengadaan tersebut. dan kalau ini terjadi di kemendikbudristek, sih aku kira akan ada audit yang lebih ketat lagi! apa lagi kalau uang itu sebesar 7 ribu dolar AS, sih itu besar banget! apakah vendor itu sendiri yang mau memberikan uang tersebut? atau mungkin ada sesuatu yang lain yang tidak kita tahu... 🤔
 
Aku pikir mantan Direktur Pembinaan SMA Purwadi Sutanto benar-benar bosan aja, kan? Ia bisa menerima uang 7 ribu dolar AS dari vendor saat proses pengadaan laptop sedang berlangsung, tapi apa yang ia lakukan kemudian? Ia tidak bahas dengan vendor tentang hal itu dan uang tersebut hanya terus ada di meja kerjanya tanpa ada konsekuensi apa pun. Itu benar-benar konyol!

Dan kisahnya gak berakhir di sana, karena ia bersama dengan orang lain didakwa merugikan negara sebesar Rp2,1 triliun karena markup harga perangkat Chromebook dan pengadaan laptop yang tidak bermanfaat bagi siswa dan sekolah di Indonesia. Aku rasa ini adalah contoh bagus bahwa kita harus selalu memantau dan mengawasi tindakan pejabat-pejabat di pemerintahan agar tidak ada penyalahgunaan dana negara.
 
kembali
Top