Kapasitas Kilang Balikpapan Ditinggikan dari 260 Juta Bph Menjadi 360 Ribu Bph
Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) yang dilaksanakan PT Pertamina (Persero) bertujuan meningkatkan kapasitas olahan kilang Balikpapan dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Proyek ini bertujuan memberikan kemampuan kilang untuk mengelola residu sisa pengolahan menjadi produk bernilai tambah.
Menurut Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri, proyek RDMP Balikpapan merupakan proyek terintegrasi antara sektor hulu dan hilir. Proyek ini diawali dengan pembangunan struktur pipa Senipah sepanjang 78 kilometer yang akan mengalirkan pasokan bahan baku menuju kilang.
Selain itu, RDMP juga memodernisasi kilang melalui pembangunan infrastruktur Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Teknologi ini memungkinkan residu kilang yang sebelumnya tidak dapat diolah kini diubah menjadi produk yang bernilai tinggi, seperti bahan bakar berstandar Euro V, LPG, serta produk Petrokimia turunan lainnya.
Kemudian, Pertamina juga membangun Terminal BBM Tanjung Batu dengan kapasitas 125 ribu kiloliter yang berfungsi sebagai salah satu titik distribusi hasil olahan dari Kilang Balikpapan. Sementara itu, di luar proyek RDMP, Pertamina juga membangun terminal tangki di Lawe-Lawe dengan kapasitas 2ร1 juta barel.
Dengan demikian, ini adalah salah satu wujud dan hari ini adalah tonggak sejarah dari ikhtiar panjang kita sebagai bangsa untuk dapat semakin meningkatkan kemandirian kita di bidang energi.
Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) yang dilaksanakan PT Pertamina (Persero) bertujuan meningkatkan kapasitas olahan kilang Balikpapan dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Proyek ini bertujuan memberikan kemampuan kilang untuk mengelola residu sisa pengolahan menjadi produk bernilai tambah.
Menurut Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri, proyek RDMP Balikpapan merupakan proyek terintegrasi antara sektor hulu dan hilir. Proyek ini diawali dengan pembangunan struktur pipa Senipah sepanjang 78 kilometer yang akan mengalirkan pasokan bahan baku menuju kilang.
Selain itu, RDMP juga memodernisasi kilang melalui pembangunan infrastruktur Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Teknologi ini memungkinkan residu kilang yang sebelumnya tidak dapat diolah kini diubah menjadi produk yang bernilai tinggi, seperti bahan bakar berstandar Euro V, LPG, serta produk Petrokimia turunan lainnya.
Kemudian, Pertamina juga membangun Terminal BBM Tanjung Batu dengan kapasitas 125 ribu kiloliter yang berfungsi sebagai salah satu titik distribusi hasil olahan dari Kilang Balikpapan. Sementara itu, di luar proyek RDMP, Pertamina juga membangun terminal tangki di Lawe-Lawe dengan kapasitas 2ร1 juta barel.
Dengan demikian, ini adalah salah satu wujud dan hari ini adalah tonggak sejarah dari ikhtiar panjang kita sebagai bangsa untuk dapat semakin meningkatkan kemandirian kita di bidang energi.