PT Jakarta: Gugatan Kementan Tidak Diterima Karena Cacat Formil

Pemerintah Amran Sulaiman, Menteri Pertanian yang menuntut PT Tempo Inti Media Tbk membayar ganti rugi Rp 200 miliar karena terangkum dalam berita Tempo dengan judul sampul 'Poles-poles Beras Busuk', pada Rabu (21/1/2025), kembali menghadapi kekalahan.

Dalam Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 1402/PDT/2025/PT DKI, pengadilan ini menolak banding gugatan Amran. Keputusan ini diberikan setelah majelis hakim membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang sebelumnya menyatakan bahwa PN Jaksel tidak berwenang mengadili perkara tersebut karena adanya cacat formil atau kekurangan syarat formil.

Mengutip dari pengadilan, gugatan Amran tidak dapat diterima karena tidak ada pernyataan terbuka dari Dewan Pers. Majelis hakim menolak gugatan dan membebankan biaya perkara kepada Amran baik di tingkat I di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Tingkat II di PT DKI Jakarta.

Kuasa hukum Kementan, Chandra, mengatakan bahwa putusan ini membuka peluang hukum yang sangat besar untuk melanjutkan gugatan ke tahap pemeriksaan pokok perkara. Ia menyatakan bahwa Pengadilan Tinggi secara tegas menyatakan bahwa PN Jakarta Selatan berwenang mengadili perkara tersebut, dan penggugat hanya perlu memenuhi syarat formil yaitu diterbitkannya pernyataan terbuka dari Dewan Pers.
 
πŸ˜’ gue rasa ni putusan pengadilan yang nggak masuk akal, siapa nanti kalau ada reporter yang malas ngeluarkan pernyataan terbuka? πŸ€·β€β™‚οΈ aku pikir ini bukan tentang kebebasan pers tapi tentang siapa yang punya uang πŸ’Έ. gue rasa PT Tempo Inti Media Tbk harus dibayar, tapi bukan karena mereka salah dalam berita, tapi karena mereka malas dan tidak mau ngeluarkan pernyataan terbuka πŸ“. aku pikir ini akan membuat banyak reporter lain jadi lebih malas lagi, dan itu sih yang nggak baik πŸ’”.
 
Gue pikir ini ngerasa tidak adil banget kalau Amran Sulaiman itu masih harus membayar ganti rugi Rp 200 miliar. Gue bayangin kalau gugatannya itu sebenarnya karena pernyataan terbuka dari Dewan Pers bukan? Tapi pengadilan ini menolaknya, apa artinya mereka tidak mau memastikan bahwa semua prosesnya sudah benar-benar sesuai. Gue rasa ini membuat PT Tempo Inti Media Tbk bisa bebas tanpa harus membayar ganti rugi, itu tidak adil sama sekali πŸ˜’
 
Makasih ya gugatan itu sama aja kayak nanti lagi ke tempatnya πŸ˜…. Sama-sama kalau kalau PN Tempo Inti media tahu apa yang harus dilakukan, ganti rugi saja πŸ€‘. Saya rasa jangan perlu lagi ganjil-ganjal, asal tahu cara buat ganti rugi itu kan? πŸ€·β€β™‚οΈ
 
Haha, gue rasa kalau Amran lagi ke sini πŸ˜‚. Gue pikir kalau dia udah mulai lupa tentang cara kerja hukum ya, itu pernyataan terbuka itu sapa sih yang harus diterbitkan pertama kali? πŸ€” Kepada gue rasa ini sudah kenyang, gugatan Amran lagi ke sini, kalau belom gue udah bilang kalau ini sama dengan mengadili dirinya sendiri, sih πŸ˜‚.
 
Pak Amran nih, kalau udah kalah lagi, kan? Siapa tahu, mungkin next time udah siap dengan segala dokumen dan apa-apa. Saya rasa ini salah tempat, PT Tempo Inti Media Tbk gak usah bawanya pulang ke depannya, kan? πŸ€¦β€β™‚οΈπŸ“°
 
Apa kabar! Pemutusan banding oleh Menteri Pertanian itu masih nggak selesai kan? πŸ˜… Saya rasa ini kayaknya masih jalan dan bisa berakhir dengan kesuksesan. Saya percaya Amran gak perlu panik, dia udah punya peluang baru untuk melanjutkan gugatan ke tahap selanjutnya 🀞. Saya yakin pengadilan ini akan menyelesaikan kasus ini dengan adil dan sesuai hukum πŸ’―.
 
Kasus ini masih banyak ngaruh ke dalam industri pers ya.. kalau PN Jakarta Selatan sudah menang, itu berarti mereka harus lebih hati-hati lagi dalam menulis cerita yang dapat mengakibatkan kesalahpahaman seperti ini. Sementara itu, Amran Sulaiman harus lebih teliti juga... kan dia itu kayaknya paling sering bertengkar dengan pers eh πŸ€¦β€β™‚οΈ
 
Maksudnya apa sih? PT Tempo Inti Media Tbk yang lalu diintimidasi oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman karena berita itu, sekarang ternyata masih bisa keluar bersih πŸ€”. Aku pikir ini adalah contoh bagus dari sistem hukum di Indonesia, kalau bukan sudah ada putusan pengadilan yang menolak gugatan dari Menteri Pertanian, tapi kemudian diubah oleh hakim lainnya πŸ™„. Boleh jadi Amran Sulaiman lagi-lagi kelupas dan harus dibayar ganti rugi Rp 200 miliar lagi πŸ˜….
 
Buat kabar baik, temen-temenku... Masih bingung deh, kan? Menteri Pertanian Amran Sulaiman kembali kekalahan. Pokoknya, putus jawab sama PN Jakarta Selatan. Ternyata Dewan Pers jadi titik utama masalah. Kalau mereka buka pernyataan terbuka, ya punya peluang. Tapi kalau tidak, gugatan kembali ke sini. Saya pikir ini kasus yang serius banget, temen-temenku.
 
Gue pikir pemerintah nanti harusnya nambah asuh kaya, siapa tahu gugatan PT Tempo Inti Media Tbk itu benar. Gue juga pikir kalau gugatan itu bisa jadi bukti bahwa PN Jakarta Selatan udah lalai dalam menangani kasus-kasus seperti ini πŸ˜’. Saya rasa pengadilan tinggi harusnya lebih teliti lagi, tidak boleh terburu-buru membuat keputusan.
 
Kaya aja kalau Tempo gak harus bayar ganti rugi, tapi keren juga kalau pemerintah bisa tahu apa yang harusnya buat. Saya rasanya sama Amran, tapi kenapa dia gak bisa punya sumber daya yang cukup untuk buat gugatan yang kuat? Mungkin di sekolah kita harus belajar lebih banyak tentang hukum dan pers, biar kita bisa tahu caranya untuk membuat argumen yang kuat. Aku rasa ini kalau di universitas kita, kita bisa bantu Amran dengan cara yang lebih baik... πŸ€”πŸ“š
 
Hmm, ini keren banget sih, tapi kenapa harus begitu berat? Biaya Rp 200 miliar untuk Amran, itu gak adu-adu, kan? Kita bayangin aja, apa yang akan menjadi keuntungannya kalau dia berhasil gugat ini? Yang jadi khawatir, nanti siapa yang harus membayar biaya perkara itu? Kita tidak bisa menunggu lagi, gugatan ini harus dihentikan, tapi di mana kita cari kesabaran? πŸ€¦β€β™‚οΈ
 
Gue pikir ganti rugi itu kayak kunci mobil yang rusak πŸ˜‚. Amran Sulaiman masih sengaja cari masalah. Kalau ganti rugi itu penting, kenapa dia jadi cari kasus seperti ini? πŸ€” Juga ada yang bilang karena Amran Sudliman mau 'ngeluh' di media itu karena tidak senang dia diangkat ke dalam berita. Gue tidak percaya kalau amran mau 'kerumunan' di media itu hanya untuk ngganti rugi πŸ˜’.
 
Halo temen-temen! Gampang banget ya, Amran lagi kalah di pengadilan 🀣. Pertanyaannya apa kalau Tempo gak nulis cerita yang salah? Aku pikir ini kesalnya kalau koran itu bisa terus berjalan, tapi gampangnya jawabnya ada. Mesti diingatin cara kerja pers juga, ya! Sapa pun nulis cerita harus jujur dan tidak menyesatkan orang. Kalau bukan? Maka kalah gak masuk akal πŸ€·β€β™‚οΈ.
 
hebat sih, kalau nanti Amran jadi kaya lagi! πŸ€‘ tapi seriously, apa artinya lagi jika dia harus membayar uang untuk gugatan yang udah gagal? ini seperti bermain permainan birokrasi dan politik, kan? di sini bukan soal hukum, melainkan siapa yang punya kekuasaan. tapi kayaknya masih banyak orang yang percaya dalam sistem ini, kan?
 
kembali
Top