Penyebab BPJS PBI Dinonaktifkan, Cek Desil, & Cara Aktifkan Lagi

BPJS Kesehatan segmen PBI JK (Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan) tiba-tiba menjadi tidak aktif tanpa alasan jelas. Menurut BPJS Kesehatan, ini bukan pengurangan jumlah peserta, melainkan bagian dari pembaruan data peserta agar bantuan tepat sasaran.

Menurut Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, penonaktifan ini dilakukan untuk meningkatkan keefektifan bantuan sosial. Proses pembaruan dilakukan secara berkala oleh Kementerian Sosial dan tidak melibatkan pengurangan jumlah peserta.

Namun, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh peserta BPJS PBI JK untuk mengaktifkan kembali statusnya. Yaitu: termasuk dalam daftar peserta PBI JK yang dinonaktifkan pada Januari 2026; memiliki penyakit kronis atau sedang dalam keadaan darurat medis yang mengancam nyawa; dan memiliki kebutuhan akan bantuan sosial.

Untuk aktivasi kembali BPJS PBI JK, peserta harus melapor ke Dinas Sosial setempat dengan membawa beberapa persyaratan, seperti fotocopy Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanpa Penduduk (KTP), Surat Keterangan Sakit dari Rumah Sakit atau Faskes Tingkat 1, dan kartu BPJS Nonaktif (jika ada).

Setelah memastikan semua persyaratan telah terpenuhi, peserta diharapkan melakukan langkah-langkah sebagai berikut: datang ke kantor Dinas Sosial membawa berkas persyaratan; petugas Dinsos akan mengecek persyaratan; dilakukan pengecekan Desil oleh operator melalui aplikasi SIKS-NG; dan diterbitkan surat rekomendasi diserahkan ke pemohon untuk diserahkan kepada Kantor BPJS setempat.

Selain melalui aplikasi, peserta juga dapat cek desil melalui website https://cekbansos.kemensos.go.id. Cara cek desil melalui website adalah: buka situs resmi, pilih dan isi data wilayah sesuai KTP, masukkan nama lengkap sesuai yang tertera pada KTP, isi kode captcha yang muncul di layar, dan klik tombol “Cari Data”.
 
Aku lagi penasaran dengerin tentang desil di sini. Aku pikirnya kayaknya gampang sekali ngerjain desil, tapi aku bayangin kalau peserta harus datang ke kantor Dinsos setelah itu 🤯. Maksudnya, gak usah datang ke kantor Dinsos, bisa gak ngerjain desil melalui aplikasi aja? 😅
 
Gue pikir ini salah strategi dari BPJS Kesehatan. Mereka malah buat korban menjadi tidak aktif tanpa alasan jelas, biar makin efisien bantuan sosial nanti. Tapi gue ragu-ragu, apakah ini sebenarnya untuk kepentingan korban yakin? Karena kalau benar-benar itu, maka mereka malah menjadi korban berulang. Gue kira mereka harus ada prioritas yang jelas sih, seperti yang memiliki penyakit kronis atau sedang dalam keadaan darurat medis yang mengancam nyawa.

Dan gue juga curiga apakah ini semua adalah proses yang transparan dan tidak ada korupsi. Karena kalau itu benar-benar ada, maka orang-orang akan malah semakin tak percaya dengan sistem BPJS Kesehatan nanti.
 
Aku pikir ini ga bisa jadi, nih. BPJS PBI JK tiba-tiba mati tanpa alasan apa-apa 🤯. Aku penasaran sih, kenapa harus begitu? Mungkin karena teknologi yang digunakan tidak stabil lagi 💻. Tapi, aku juga paham bahwa ini dilakukan untuk meningkatkan keefektifan bantuan sosial. Tapi, bagaimana caranya kalau kita semua tidak bisa mengetahui sih? 🤔. Aku harap ada solusi yang tepat dan cepat agar kita bisa kembali menggunakan jasa BPJS PBI JK tanpa gangguan 🙏.
 
Kalau pengaktifan BPJS Kesehatan segmen PBI JK ini bikin kaget banget denger dulu. Apalagi kalau kamu lagi butuh bantuan sosial, gimana caranya sih? Kalau ada yang lupa persyaratan atau kereta nggak bisa langsung ke Dinas Sosial, bagus juga aja kalau ada cara cek desil melalui website. Tapi, aku rasa ini perlu diperhatikan, jangan sampai terlewat atau kesulitan karena penonaktifan BPJS Kesehatan ini 😕. Aku harap bisa bantu-bantu aja semua orang yang merasa panik atau tidak tahu apa-apa 🤗.
 
Gampang aja sih, tapi gini kebijakan BPJS kembali jadi topic diskusi. Kalau sebelumnya kita suka cemah dengan sistem online, sekarang kita harus lewat lewat untuk check status kita sendiri, kayaknya ada masalah di sisi logistik ya 🤔. Dan siapa tahu, mungkin ini salah satu bagian dari strategi pembaruan data yang mereka lakukan, tapi masih bikin kesan kurang nyaman deh, terutama bagi orang tua atau orang yang sulit akses teknologi.
 
kembali
Top