Kondisi cuaca di Kotawaringin Timur (Kotim) yang akan berlangsung hingga akhir Januari 2026, memang akan berpotensi meningkatkan kerawanan terjadinya karhutla. Menurut para ahli, rendahnya curah hujan di wilayah ini mempengaruhi bibit siklon yang menarik uap air menjauh dari Kalimantan Tengah sehingga pembentukan awan hujan di Kotim tidak optimal.
Kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, jika kurangnya curah hujan berarti uap air yang sudah terbentuk akan tertarik ke pusat siklon sehingga pembentukan awan hujan di Kotim tidak optimal.
Kondisi ini diperkirakan akan menyebabkan kerawanan terjadinya karhutla karena sebagian besar wilayah Kotim merupakan lahan gambut yang mudah mengering dan jika curah hujan rendah maka bagian dalamnya tetap kering dan sangat mudah terbakar.
Kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, jika kurangnya curah hujan berarti uap air yang sudah terbentuk akan tertarik ke pusat siklon sehingga pembentukan awan hujan di Kotim tidak optimal.
Kondisi ini diperkirakan akan menyebabkan kerawanan terjadinya karhutla karena sebagian besar wilayah Kotim merupakan lahan gambut yang mudah mengering dan jika curah hujan rendah maka bagian dalamnya tetap kering dan sangat mudah terbakar.