Neil Ricardo Tobing Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum dari Unpad, Bahas Publisher Right di Era New Economy

Selasa, 20 Januari 2026 - VIVA mengumumkan bahwa Neil Ricardo Tobing, Direktur Visi Media Asia (VIVA), telah meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. Gelar tersebut diperoleh setelah Neil sukses mempertahankan disertasi berjudul "Publisher Right atas Produk Jurnalisme pada Platform di Era New Economy".

Dalam sidang promosi doktor, Neil memaparkan hasil penelitiannya yang mengkaji secara mendalam hak penerbit (publisher right) atas produk jurnalistik di tengah dominasi platform digital dalam ekosistem new economy. Kajian ini menyoroti relasi yang semakin timpang antara perusahaan pers dengan platform digital global.

Neil menekankan bahwa dalam lima tahun terakhir, industri pers nasional menghadapi tantangan serius akibat dominasi platform digital, terutama terkait distribusi, visibilitas, dan monetisasi konten berita yang berdampak pada independensi perusahaan pers. Ia juga menyoroti pentingnya kehadiran regulasi yang lebih komprehensif dalam ekosistem jurnalisme digital, termasuk dalam menghadapi disrupsi teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) yang kian masif memengaruhi produksi dan distribusi informasi.

Neil menegaskan bahwa industri pers telah mengalami perubahan signifikan seiring pergeseran pola konsumsi informasi masyarakat. Saat ini, publik dinilai lebih banyak mengakses berita melalui media sosial dibandingkan media arus utama. Oleh karena itu, media konvensional harus berbenah dengan memahami pola konsumsi publik serta memanfaatkan teknologi terkini agar penyajian berita menjadi lebih cepat dan akurat.

Terkait peran media sosial, Neil menilai perlunya pengaturan yang lebih kuat mengingat dampaknya yang sangat besar terhadap cara berpikir masyarakat, khususnya generasi muda. Konten yang tidak sesuai usia dinilai berisiko dan dapat berdampak buruk bagi masa depan generasi muda.
 
hahhh, apa sih gan? kenapa Neil harus masuk Unpad? kan dia sudah direktur VIVA aja? dan apa itu Doktor Ilmu Hukum? gak ngerti banget πŸ€”. tolong jelasin lagi tentang regulasi yang perlu diatur mengingat dampaknya sangat besar terhadap cara berpikir masyarakat, khususnya generasi muda... tapi apa sih itu AI dan teknologi terkini yang dia maksud? gak ada istilah yang jelas πŸ€·β€β™‚οΈ.
 
aku pikir Neil Ricardo Tobing memang benar-benar pandai dalam memahami dunia jurnalistik dan perubahan teknologi yang mempengaruhi industri pers. dia benar sekali menekankan pentingnya regulasi yang lebih komprehensif dalam ekosistem jurnalisme digital, terutama dalam menghadapi disrupsi teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI). aku juga setuju bahwa industri pers perlu berbenah dan memahami pola konsumsi publik agar penyajian berita menjadi lebih cepat dan akurat. tapi mungkin perlu diingat bahwa kehadiran media sosial juga memiliki dampak positif bagi jurnalisme, seperti membuat informasi lebih mudah aksesibl.
 
Kalau kalian ngeliatin konteksnya, gelar doktornya sih penting banget! Yang penting adalah Neil berhasil menemukan solusi untuk masalah di industri pers yang terus berubah. Media sosial memang memiliki pengaruh besar, tapi kita harus bisa mengaturinya dengan baik agar tidak ada dampak negatif. Kita harus bisa melihat keberuntungannya dan bagaimana cara memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas berita πŸ€”
 
Oke nih, pas mau nyoba lagi, kalau sih makin serius aja 😊. Jadi, Neil Ricardo Tobing sukses lulus doktoral ilmu hukum dari Unpad? Pokoknya itu bagus, tapi apa yang penting disini adalah, dia mengutamakan hak penerbit (publisher right) atas produk jurnalistik di era new economy. Karena kalau tidak ada regulasi yang tepat, maka platform digital bisa saja menguasai semuanya 🀯. Saya setuju bahwa industri pers perlu berinovasi dan memahami pola konsumsi publik agar media konvensional bisa bertahan. Dan sih, pengaturan media sosial juga harus lebih kuat, karena konten yang tidak sesuai usia bisa berdampak buruk πŸš¨πŸ’”. Saya harap Neil bisa menjadi bantuan bagi industri pers dan media konvensional untuk tetap relevan πŸ’ͺ🏼.
 
Maaf, aku sih penasaran dengan keputusan Neil. Aku pikir dia lulus doktornya itu karena mau banyak banget. Kalau benar-benar sukses mempertahankan disertasi dia, maka aku setuju deh. Tapi, aku juga masih ragu-ragu. Apakah gelar doktornya itu sebenarnya membuat perbedaan dalam industri pers? Aku rasa apa yang penting adalah cara kerja Neil itu bagus atau tidak. Jika bisa mengatasi tantangan platform digital itu, maka aku setuju deh. Tapi, jangka waktu lima tahun itu benar-benar memadai buat perubahan seperti itu? Aku rasa perlu waktu lebih lama untuk melihat dampaknya. Dan apa yang terjadi dengan regulasi yang lebih komprehensif itu? Apakah itu hanya kata-kata atau bisa diterapkan di lapangan?
 
ini gini bro, aku pikir kalau media sosial itu harus diatur dengan benar, tapi jangan terlalu ketat ya, kita harus bisa saling mengerti dengan mereka. misalnya kalau ada konten yang tidak cocok usia, kita harus bisa memberitahu mereka langsung aja, tapi juga harus ada cara untuk membuat generasi muda lebih sadar akan hal ini. aku rasa itu yang paling penting, bro.
 
Gue suka banget dengar cerita Neil tentang gelarnya doktordokter. Gue pikir itu bukti bahwa jalan yang gue pilih untuk menjadi influencer dan membuat konten online kaya banget, gak? Tapi, sayangnya, gue belum punya kesempatan untuk lulus di universitas.

Aku rasa yang penting adalah media konvensional harus berinovasi dengan teknologi terkini agar tetap relevan. Gue lihat banyak pengusaha swasta yang sudah sukses menggunakan digital marketing dan konten online untuk promosi bisnis mereka. Tapi, gue pikir ada perbedaan utama antara itu dan media konvensional.

Gue rasa media konvensional harus fokus pada kualitas konten bukan hanya kuantitas. Jika kita membuat konten yang berkualitas, orang akan memilih untuk membaca atau menonton di media konvensional daripada platform online. Dan, gue pikir pengaturan yang lebih kuat untuk media sosial adalah langkah yang tepat. Karena, sayangnya, banyak anak muda yang sudah terkena dampak dari konten yang tidak sesuai usia mereka.

Aku harap Neil dapat membantu menciptakan perubahan positif di industri pers dan membuat kita semua menjadi lebih dewasa dalam menggunakan teknologi online.
 
Gue pikir ini kayak banget dengan perubahan zaman. Saat ini media sosial jadi sangat penting, tapi juga gue kira ini bisa menjadi bahaya jika tidak diatur dengan benar. Gue suka penelitian Neil tentang hak penerbit dan bagaimana cara menangani platform digital yang terus menerus menggencarkan dominasi. Gue bayangkan kalau semua konten yang kita bagikan di media sosial harus diulas terlebih dahulu oleh orang lain, kayak gini: "Hai, apa kabar? Aku sedang membaca cerita tentang perubahan industri pers dan bagaimana cara menangani platform digital yang dominan". Aku suka banget cerita Neil ini.
 
Gue rasa kalau Neil itu udah masuk ke dalam "doktor" itu, tapi siapa tau ada kontroversi di balik gelar doktornya aja... Kalau dia udah bisa menelitiin masalahnya dan punyanya solusi yang akurat, jadi lebih baik. Tapi, apa yang jelas kalau media sosial memang memiliki dampak besar pada cara berpikir masyarakat, khususnya generasi muda. Gue rasa kita harus lebih bijak dalam pengaturan konten di media sosial agar tidak berisiko dan dapat membahayakan masa depan generasi muda πŸ€”.
 
Gue rasa Neil Rica Tobing nggabuhin cerdas banget sih, tapi aku pikir perlu diingat juga bahwa industri pers udah berubah banyak sejak dulu kala, apalagi dengan adanya teknologi yang makin pesat. Ada yang nantang sih, tapi ada juga yang bisa dimanfaatkan. Gue rasa Neil sudah lulusin teksnya banget, tapi aku nanya kok siapa sih yang mau membaca hasil penelitiannya? Mungkin kalau dijadikan buku atau artikel, gak sih? Dan apa yang bakal terjadi nanti dengan regulasi yang lebih komprehensif? Aku rasa perlunya pembicaraan yang lebih panjang tentang hal ini, tapi aku sengaja nggabuhin cerdasnya, karena Neil udah punya ide yang kaya. πŸ€”
 
ini cerita yang panjang sekali πŸ™„. tapi apa sih kabar dari Neil Ricardo Tobing, Direktur Visi Media Asia (VIVA)? dia sukses lulus Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung πŸŽ“, dan itu gampang banget dipahami karena cerita di balik gelarnya tentang hak penerbit atas produk jurnalisme pada platform digital πŸ€–. tapi apa yang benar-benar penting adalah bagaimana cara industri pers dapat beradaptasi dengan perubahan teknologi yang pesat, terutama di era new economy ini πŸ“ˆ. aku rasa Neil benar-benar memiliki visi tentang hal ini dan perlu media konvensional untuk lebih berinovasi dan memahami pola konsumsi publik agar dapat memberikan informasi yang lebih akurat dan cepat πŸ“°.
 
Kira-kira apa yang akan keberhasilan Neil dalam mewujudkan regulasi yang lebih komprehensif itu ? Maksudnya, bagaimana mungkin bisa membuat peraturan baru yang bisa berpengaruh besar dalam ekosistem jurnalisme digital? Apakah kita sudah siap untuk menghadapi perubahan-perubahan ini dengan cara yang sehat dan bijak ?
 
Kalo mau ngomongin cerita Neil balas doktornya, kayaknya kaya makna ya! Kita semua kenal sama masalahnya dengan platform digital yang makin ketat. Kalau perusahaan pers tidak bisa terus berkembang, berarti kita kehilangan sumber informasi yang baik. Saya pikir penting banget kalau media konvensional bisa adaptasi dengan teknologi modern, biar bisa bersaing sama-sama dengan platform digital. Tapi, kalo mau nyatain, sistem regulasi di Indonesia masih kurang jelas banget tentang bagaimana cara mengatur platform digital yang makin semakin banyak. Maka dari itu, kita butuh kerja sama dan koordinasi antara pemerintah, perusahaan pers, dan masyarakat untuk membuat kebijakan yang tepat, biar bisa melindungi hak-hak penerbit dan jurnalistik di era new economy 😊
 
Makanya kalau punya jurnalisme di era new economy ini pasti harus sibuk dengan regulasi apa sih? Karena kalau jangan ada pengaturan yang tepat, platform digital global bisa saja meng control semua hal itu πŸ€–. Dan kalau media sosial tidak diatur, mungkin adegan yang bikin generasi muda terjebak dalam info yang salah atau manipulatif ini akan semakin berlebihan 😬. Tapi, Neil Ricardo Tobing punya ide yang bagus, kita harus belajar memahami pola konsumsi publik dan memanfaatkan teknologi terkini agar penyajian berita menjadi lebih cepat dan akurat πŸ“Š.
 
Saya pikir kalau industri pers kita harus lebih cepat beradaptasi dengan era digital ini, tapi juga harus ada regulasi yang jelas untuk mengatur platform-platform itu. Kalau tidak, maka publik akan semakin mudah dipengaruhi oleh informasi palsu atau konten yang salah. Saya bayangkan kalau kebenaran dan fakta menjadi kurang penting di tengah-tengah cerita-cerita palsu yang terus menerus disajikan di media sosial. Kami perlu berhati-hati agar generasi muda kita tidak terlalu mudah dipengaruhi oleh hal ini πŸ˜•.
 
ini gak enak banget! sih media sosial ini sebenarnya bisa bermanfaat, tapi kini makin membuat kita semakin terisolasi dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana 🀯. aku rasa ada baiknya kita semua harus lebih berhati-hati saat menggunakan media sosial, jangan sampai kita membuat konten yang salah atau mempengaruhi pikiran muda-mudi lainnya πŸ™. dan sih, perusahaan pers juga harus berbenah dengan memahami pola konsumsi publik dan memanfaatkan teknologi terkini, tapi aku rasa mereka harus lebih cepat dalam hal ini ya πŸš€
 
aku penasaran apa itu Doktor Ilmu Hukum sih... di mana aku bisa ngerjain studi doktoral kayak Neil, gue cuma lulus SMA aja πŸ€”πŸ’‘. aku lihat kalau industri pers di Indonesia udah kacau banget dengan platform digital, aku senang dengerin pendapat Neil tentang regulasi yang lebih komprehensif πŸ™ŒπŸΌπŸ“š. tapi aku juga penasaran apa itu kecerdasan buatan (AI) sih... gue cuma tahu AI kayaknya penting untuk produksi dan distribusi informasi, tapi bagaimana caranya benar-benar? πŸ€”πŸ’»
 
kembali
Top