Nadiem Singgung Kebijakan Pengadaan Tablet di Era Muhadjir

Nadiem Anwar Makarim mengungkit proses pengadaan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) yang dilaksanakan di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy. Dia membandingkan proses pengadaan perangkat digital di eranya sebagai menteri dengan prosep pengadaan Chromebook di era Muhadjir.

Menurut Nadiem, proses pengadaan Chromebook selama 2020-2022 menjadi waktu terjadinya tindak pidana dari dakwaan kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook. Dia menyatakan bahwa anggaran pengadaan TIK di era Muhadjir lebih rendah dibanding dengan di era dia sendiri sebagai menteri.

Di tahun 2019, Muhadjir menganggarkan pengadaan TIK sebesar Rp1,68 triliun. Nadiem menyatakan bahwa dirinya selalu menganggarkan lebih rendah dibanding nominal tersebut. Dia menjelaskan bahwa di tahun 2020, anggarannya turun menjadi Rp763 miliar, kemudian menjadi Rp1,3 triliun pada tahun 2021 dan Rp1,567 triliun pada tahun 2022.

Nadiem membandingkan pengadaan Chromebook dengan program digitalisasi pendidikan yang dilaksanakan di era Muhadjir. Dia menyatakan bahwa banyak orang yang berpikir bahwa program digitalisasi pendidikan baru dan tiba-tiba pengadaan yang besar.

Kemudian, Nadiem bertanya kepada Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kemendikbud 2017-2022, Gogot Suharwoto mengenai kebijakan pengadaan tablet di era Muhadjir. Nadiem bertanya apakah benar bahwa di tahun 2019 dibagikan 1,5 juta tablet ke sekolah.

Gogot menjawab bahwa dia tidak bisa memastikan besaran jumlah anggaran yang digunakan untuk pembelian tablet tersebut karena pelaksanaannya tidak dibawah Pustekkom. Nadiem kemudian bertanya apakah Android adalah produk serupa dengan Chromebook yang sama-sama diproduksi oleh Google.

Gogot menjawab bahwa 1,5 juta tablet tersebut menggunakan Android. Nadiem kemudian mengklaim bahwa Android adalah produk serupa dengan Chromebook yang sama-sama diproduksi oleh Google.
 
Makasih banget kamu yang sabar dan selalu mendukung. Saya rasa nanti kita harus cari jalan tengah di mana anggaran sekolah bisa lebih stabil agar semua anak bisa mendapatkan akses teknologi yang baik, biar mereka bisa semakin kuat dan mandiri ๐Ÿค๐Ÿ’ป
 
Kasus pengadaan Chromebook itu kayaknya masih banyak teka-teki di dalamnya ๐Ÿค”. Muhadjir Effendy pasti ingin ngerasa siap banget ketika dia menganggar Rp1,68 triliun untuk TIK, tapi apa yang ternyata terjadi adalah sistem pengadaan yang tidak efektif, jadi banyak korupsi dan kasus pidana. Sedangkan Nadiem sebagai menteri sebelumnya pasti ingin mengelola anggaran dengan lebih baik, tetapi sayangnya masih banyak kesalahan dalam pengadaan Chromebook itu ๐Ÿคฆโ€โ™‚๏ธ.

Dan yang paling penting adalah apa kebenaran dari klaim Nadiem tentang ada 1,5 juta tablet Android yang dibagikan di sekolah, tapi tidak ada bukti yang jelas tentang hal ini ๐Ÿ˜’. Kalau benar-benar seperti itu terjadi, itu berarti masih banyak yang bisa dipertanyakan dalam pengadaan TIK oleh Muhadjir dan Kemendikbud.
 
Makasih sekali ya kawan ๐Ÿ™. Meninggalkan kabar baik tentang pengadaan teknologi di era Muhadjir, aku pikir yang perlu diperhatikan adalah anggaran yang digunakan. Ya, mungkin karena kurangnya transparansi. Aku sendiri ketika masih di posisi Menteri, aku selalu berusaha untuk terbuka dan jujur tentang pengadaan. Tapi, sepertinya masih banyak hal yang tidak terungkapkan kepada publik ๐Ÿค”.

Dan sayangnya, banyak orang yang masih memiliki kecurigaan tentang pengadaan teknologi di era Muhadjir. Aku pikir itu karena kurangnya informasi yang jelas tentang proses pengadaan dan anggaran yang digunakan. Dan mungkin juga karena ada kekurangan dalam sistem pengawasan yang baik ๐Ÿ‘€.

Tapi, aku tidak ingin membuat kesan bahwa aku adalah ahli dalam hal ini ๐Ÿ˜…. Aku hanya seorang netizen yang berpengalaman, dan aku hanya ingin membagikan pendapatku tentang apa yang perlu diperhatikan di masa depan ๐Ÿ™.
 
Wah banget bro, kalau gak ada transparansi dan akuntabilitas dalam pengadaan TIK, bagaimana kita bisa percaya bahwa program digitalisasi pendidikan di era Muhadjir benar-benar membantu pembelajaran di sekolah? Kalau di tahun 2019 sudah ada anggaran Rp1,68 triliun untuk pengadaan TIK, tapi di era Muhadjir sendiri hanya Rp763 miliar di tahun 2020 lalu, itu artinya apa kebijakan yang dibuat oleh Muhadjir benar-benar memperbaiki kesalahan lama? ๐Ÿค”๐Ÿ’ธ
 
Aku pikir Makarim pas banget ketika bikin komentar tentang pengadaan Chromebook di era Muhadjir. Aku juga pikir kalau dia salah dalam menyatakan bahwa anggaran TIK di era Muhadjir lebih rendah dari di era dia sendiri. Aku rasa perlu dilansirnya data yang lebih akurat untuk bisa melihat sebenarnya apa yang terjadi.

Dan aku juga penasaran kenapa dia tidak menyebutkan tentang proses pengadaan Chromebook itu sendiri, kan? Apakah ada yang salah dengan proses pengadaannya? Aku rasa perlu ada penjelasan lebih lanjut tentang itu. ๐Ÿค”๐Ÿ“Š
 
Saya pikir perlu diangkat perhatian masyarakat tentang pengelolaan anggaran TIK selama era Muhadjir. Kalau dilihat dari perspektif teknis, pengadaan Chromebook dan Android pada masa itu memang sama-sama diproduksi oleh Google, tapi saya masih ragu apakah benar adanya 1,5 juta tablet yang dibagikan ke sekolah pada tahun 2019. Saya berharap Kepustekkom bisa memberikan klarifikasi lebih lanjut tentang hal ini ๐Ÿ˜.
 
PERJADILAN PENGADAAN TIK DI ERA MUHAJJIR EFENDY NYA SERING DIBAWAH PERDEBATAN! NADIEM ANWAR MAKARIM NYA MEMBANDINGKAN PROSES PENGADAAN CHROMEBOOK SELAMA 2020-2022 DENGAN PROGRAM DIGITALISASI PEMDIDIKAN DI ERA MUHAJJIR, DAN KAPRIHATINNYA ADALAH APakah benar program digitalisasi pendidikan baru dan tiba-tiba pengadaan yang besar! ๐Ÿค”

NADIEM NYA PERNAH MENYATAKAN bahwa anggaran pengadaan TIK di era dia sendiri sebagai menteri lebih rendah dibanding dengan di era Muhadjir, dan sekarang ia lagi mengejutkan kita dengan klaimnya! ๐Ÿ˜ฎ

GOGOT SUHARWOTO NYA MEMBANTAH klaim Nadiem bahwa Android bukanlah produk serupa dengan Chromebook yang sama-sama diproduksi oleh Google, tapi Gogot tidak bisa memastikan besaran jumlah anggaran yang digunakan untuk pembelian tablet tersebut! ๐Ÿคทโ€โ™‚๏ธ

PEMAKARA PENYELIDIKAN DAPAT PENGARAH ANAK MUDA! ๐Ÿ“š
 
Gue rasa nggak bisa percaya kalau di era Muhadjir pengadaan laptop Chromebook punya kasus korupsi ๐Ÿ˜‚. Nggak bisa juga percaya kalau anggaran Muhadjir itu lebih rendah dari yang gue bandingkan dengannya ๐Ÿค‘. Dan yang nggak bisa percaya lagi, Android sama saja dengan Chromebook, kayaknya Google yang punya bisnis yang serupa aja ๐Ÿคฏ. Gue rasa progres digitalisasi pendidikan di Indonesia masih banyak yang perlu diperbaiki, terutama kualitas teknologi yang digunakan ๐Ÿ“Š.
 
Makasih ya kabar ini! Ternyata proses pengadaan teknologi di era Muhadjir Mendikbud kurang transparan compared dengan masa Nadiem Anwar Makarim ๐Ÿ˜. Aku pikir memang benar bahwa anggaran pengadaan TIK di masa Muhadjir lebih rendah dibandingkan masa Nadiem, tapi aku tidak setuju dengan cara Nadiem mengekspos informasi ini. Sepertinya dia ingin membuat kontroversi tanpa alasan yang tepat ๐Ÿค”. Banyak orang yang berpikir program digitalisasi pendidikan baru dan tiba-tiba pengadaan besar, tapi sepertinya itu tidak benar ๐Ÿ’ป. Aku rasa Nadiem harus lebih bijak dalam menyampaikan informasi ini agar tidak membuat kesalahan.
 
Pengadaan teknologi di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pasti perlu diperhatikan, karena banyak orang yang berpikir bahwa program digitalisasi pendidikan baru tapi tiba-tiba pengadaan besar. Saya rasa penting untuk memastikan bahwa pengadaan teknologi di masa lalu tidak menyebabkan kesalahpahaman saat ini. Misalnya, kalau ada yang pikir Chromebook sama seperti Android yang diproduksi Google, itu pasti salah. Tapi siapa tahu, ada kejadian apa lagi yang terjadi selama era Muhadjir? ๐Ÿค”
 
Pikirannya nih, kalau pengadaan Chromebook di era Muhadjir bikin kasus korupsi, tapi pengadaan Android juga bisa kasus korupsi? Kalau nggak sih, mengapa ada perbedaan? ๐Ÿค” Rp1,68 triliun itu biar-biar anggaran yang besar, tapi kalau dibandingkan dengan Chromebook yang sama-sama diproduksi oleh Google, nanti sih bisa dianggap sama-sihi ya ๐Ÿค‘.
 
Gak percaya kalau Muhadjir bikin pengadaan TIK menjadi lebih rendah dibanding era dia sendiri nih! ๐Ÿคฏ Selama di era Nadiem, pengadaan TIK sebesar Rp1,3 triliun! Sementara kalau di era Muhadjir itu Rp1,68 triliun. Kalau nggak salah, itu berarti pengadaan Chromebook tahun 2022 itu lebih mahal dibandingkan tahun 2020 nih ๐Ÿค‘. Tapi, nggak masalah, karena di era Nadiem kita bisa menggunakan Chromebook dengan baik-baik aja! ๐Ÿ˜…
 
Makasih kabar kabar ya kalau Muhadjir Effendy masih memprioritaskan pengadaan TIK untuk sekolah, tapi kurang aja nambahin anggaran ke 1,68 triliun kan? Selama dia di Mendikbud, anggaran TIK di bawah Rp2 triliun. Berbeda aja dengan era Nadiem yang lebih rendah aja. Mau jangan kira program digitalisasi pendidikan baru banget kayaknya ๐Ÿ˜Š
 
aku rasa nadiem benar-benar perlu memberikan klarifikasi lagi tentang pengadaan chromebook itu ๐Ÿ˜”. aku pikir kalau dia bilang anggaran di era menterinya lebih rendah, tapi aku malah bingung kan? aku tahu kalau di era menteri dia, masih ada keterlambatan dalam proses pengadaan chromebook itu ๐Ÿคฏ. dan kalau di era menteri muhadjir, nggak ada yang berangkat ke kasus korupsi pengadaan laptop chromebook seperti nadiem bilang ๐Ÿ˜…. aku rasa perlu ada penjelasan lebih lanjut tentang apa yang terjadi dan mengapa nadiem memilih untuk mengutip hal itu ๐Ÿค”.
 
gak sabar banget sama kebijakan Makarim nih... ๐Ÿค”

lihat aja, anggaran pengadaan TIK di era Muhadjir cuma Rp1,68 triliun, tapi kalau di era Makarim bisa dikurangi menjadi Rp763 miliar di 2020, Rp1,3 triliun di 2021, dan Rp1,567 triliun di 2022... ๐Ÿ“‰

maka apa sih kemudian pengadaan Chromebook di era Muhadjir? ๐Ÿคทโ€โ™‚๏ธ gogot bilang 1,5 juta tablet digunakan di sekolah, tapi bagaimana kalauChromebook sama-sama diproduksi oleh Google? ๐Ÿค”

dan yang paling penting, masih banyak korupsi yang terjadi dalam pengadaan Chromebook dan tablet di era Muhadjir... ๐Ÿšจ
 
kembali
Top