Marcella Santoso Akui Sewa Buzzer Rp 597,5 Juta untuk Bela Harvey Moeis

Menurut BAP Marcella, pengacuan itu terungkap dalam berita acara pemeriksaan (BAP) Marcella yang dibacakan jaksa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu 21 Januari 2026. Sebelumnya, Marcella telah menyatakan bahwa ia menyewa jasa "buzzer" untuk melawan narasi negatif terhadap terpidana kasus korupsi komoditas timah, Harvey Moeis.

BAP itu menerangkan bahwa Marcella meminta jasa Adhiya untuk meng-<em>handle</em> pemberitaan negatif di <em>social media</em>, termasuk pembuatan konten dan opini yang akan diposting. Harga jasa tersebut sebesar Rp 597,5 juta selama satu bulan.

Marcella juga menyatakan bahwa ia tidak menggunakan bahasa "buzzer" dalam pertemuan dengan Adhiya, tetapi menggunakan kata-kata yang sama untuk menjelaskan tujuan penggunaannya. BAP itu menerangkan bahwa Adhiya memberikan laporan tertulis ke Marcella setiap dua minggu tentang pekerjaan yang telah dilakukan.

Namun, ada juga beberapa pertemuan yang tidak tercapai dan laporan-laporan yang dikirimkan oleh Adhiya hanya sebanyak dua kali. BAP itu menerangkan bahwa Marcella tidak selalu meminta persetujuan sebelum meng-<em>post</em> konten yang dikirimkan oleh Adhiya.

Dalam kasus ini, Jaksa menuduh Junaedi Saibih, M Adhiya Muzzaki, dan Tian Bahtiar selaku Direktur JakTV merintangi penyidikan tiga perkara korupsi timah. Mereka didakwa membuat program dan konten yang bertujuan membentuk opini negatif di publik terkait penanganan tiga perkara tersebut.
 
Gue pikir ini masalah besar, tapi gue juga rasakan kalau banyak orangnya tidak sadar apa yang terjadi padanya. Jadi, marak marik jasa "buzzer" untuk mengontrol opini masyarakat. Gue pikir ini bukan tentang korupsi timah, tapi tentang bagaimana kita bisa bebas berbicara dan mendengarkan pendapat orang lain tanpa harus khawatir akan konsekuensi.

Gue suka sekali dengan program #HakAksesInformasi yang gue tonton di JakTV. Program itu memang membuat saya pikir, tapi ternyata ada yang tidak jelas. Gue rasa ini perlu dibahas lebih lanjut agar kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya.
 
Kalau back in my day, aku suka membaca koran dari kota saya, tapi sekarang kalau aku ingin tahu apa yang terjadi di kota lain, aku harus nonton siaran televisi atau cari informasi di internet. Tapi kali ini, aku tidak paham mengapa Jaksa ingin melawancara beberapa orang karena membuat konten yang tidak bisa disetujui oleh korban? Aku pikir itu hanya bagian dari proses penyelesaian kasus, kan?

Mungkin aku salah, tapi aku rasa ada sesuatu yang tidak jelas di sini. Apakah mereka benar-benar tidak memiliki hak untuk membuat konten apa pun? Aku pikir itu tidak bisa dibayangkan. Dan apakah Marcella memang benar-benar tidak memberikan izin sebelum membuat konten dari laporan Adhiya? Aku rasa ada kesalahpahaman di sini.

Tapi aku juga tahu bahwa di Indonesia, korupsi seringkali menjadi isu yang sangat penting. Maka dari itu, aku mungkin hanya ingin memastikan bahwa semua prosesnya dilakukan dengan adil dan transparan.
 
Wow ๐Ÿคฏ, siapa nih aja yang bisa nggak terpengaruh dengan opini netizen? ๐Ÿค” kayaknya ada beberapa kasus korupsi timah lagi yang keluar... saya rasa pemeriksaan di pengadilan ini sangat penting agar dapat menangani masalah ini dengan baik ๐Ÿ’ช, tapi aku masih ragu-ragu tentang cara-cara yang digunakan oleh Jaksa dalam penyelidikan ini ๐Ÿค”.
 
ini masalah korupsi yang selalu nge-besut Indonesia ya ๐Ÿ™„
kalau nggak ada orang yang mau tanggung jawabnya, semua orang lain yang harus menghadapinya ๐Ÿ˜ฉ
saya pikir kalau mereka (JakTV) itu harus dijawabin apa pun alasan mereka buat konten negatif di social media, karena itu memang korupsi ya ๐Ÿค‘
tapi gak cuma JakTV, ada juga orang lain yang harus dijawabin apa pun peran mereka dalam membuat konten negatif yang salah itu ๐Ÿ˜ฌ
 
Aku rasa kalau ada pengacuan seperti itu, berarti ada hubungan yang serius antara pihak JakTV dengan narasi negatif dari korupsi timah. Aku pikir ini bukan tentang 'buzzer' untuk menghancurkan reputasi korupsi yang sahih, tapi tentang bagaimana media bisa dipengaruhi oleh kepentingan tertentu. Apalagi kalau ada pengacuan yang menunjukkan ada persetujuan tanpa adanya persetujuan dari siapa pun yang dilibatkan? Ini bukan hanya tentang korupsi timah, tapi tentang bagaimana kita bisa tetap netral dalam menyebarkan informasi. Aku pikir ini sangat penting agar kita tidak terjebak dalam kemacetan yang diciptakan oleh pihak tertentu yang beraku punya kepentingan.
 
Gue rasa kasus ini kayaknya bukan tentang kasus korupsi timah, tapi lebih fokus pada bagaimana media dapat dipengaruhi oleh orang-orang yang ingin mempengaruhi pendapat publik. Seperti kayaknya ada kontrak antara pengacuan dan direktur jakTV untuk membuat konten negatif di media sosial. Gue rasa ini serupa dengan situasi di sekolah kita, kalau ada sekolahan yang mau mempromosikan produk tertentu dengan cara yang tidak jujur atau mengelabui publik. Ini bukan cara yang benar! ๐Ÿค”
 
Hei kawan, nggak percaya kayaknya adanya kasus ini ๐Ÿคฏ. Menurut BAP Marcella, Adhiya meminta Rp 597,5 juta untuk handle pemberitaan negatif di social media ๐Ÿ˜ฒ. Tapi nggak ada persetujuan sama sekali dari Marcella ๐Ÿ™…โ€โ™‚๏ธ. Dan apa lagi, laporan-lapornya hanya sebanyak dua kali ๐Ÿ“Š. Maksudnya siapa ngerasa Adhiya kalah aja? ๐Ÿค”. Menurutku nggak adil kayaknya. Semua ini bisa diawasi dan dipantau oleh KPU ๐Ÿ‘ฎโ€โ™‚๏ธ.
 
Loh, apa sih jasa "buzzer" itu? Sepertinya bikin korupsi timah lebih sulit dipecahkan deh... ๐Ÿค” Saya rasa kalau mereka mau jujur dan terbuka, tidak perlu gunakan cara "buzzer" seperti itu. Kalau ada yang salah, mereka harus mengakui kesalahannya dan buat rencana untuk memperbaikinya, giliran berikutnya. Tapi, kalau mereka pakai cara "buzzer" seperti Adhiya, itu bikin kasus lebih sulit dipecahkan... ๐Ÿคทโ€โ™‚๏ธ
 
Pernyataan BAP Marcella tentang pengacuan itu membuatku berpikir, apa yang sebenarnya terjadi ketika kita menggunakan teknologi untuk mengontrol pernyataan orang lain? Apakah itu benar-benar baik atau hanya cara untuk menjaga kekuasaan? Jika Marcella meminta jasa "buzzer" untuk melawan narasi negatif, berarti ia ingin mengontrol apa yang diucapkan oleh masyarakat. Tapi apakah itu akan membawa perubahan yang positif atau hanya cara untuk menutupi masalah-masalah yang sebenarnya perlu dibahas? ๐Ÿค”๐Ÿ’ญ
 
Maksudnya siapa pun yang terlibat dalam menyebarkan informasi salah itu pasti harus bertanggung jawab ๐Ÿคฆโ€โ™‚๏ธ. Kalau bukan mereka, siapa? ๐Ÿค”. Mereka meminta uang dari Bap Marcella untuk meng-<em>handle</em> konten negatif di <em>social media</em>, tapi ternyata tidak sesuai dengan yang dibayarkan ๐Ÿ’ธ. Dan akhirnya Jaksa menuduh mereka membuat program dan konten yang bertujuan membentuk opini negatif ๐Ÿšซ. Saya rasa ini ada yang salah-salah, tapi siapa tahu yang benar-benar siapa? ๐Ÿ˜
 
Wow, kalau begini si Direktur JakTV harus was-was kan? ๐Ÿค” Interesting, apa punya lakukan mereka? Minta uang dari korupsi timah, itu tidak masuk akal banget! ๐Ÿ˜ณ
 
Gue pikir ini kasus yang sangat gembira banget, siapa pun yang terlibat dalam korupsi timah seharusnya dihukum. Mereka yang membuat program dan konten yang membentuk opini negatif di publik itu adalah orang-orang yang tidak pernah memiliki kebaikan hati, jadi mereka pasti akan mendapatkan hukuman yang tepat ๐Ÿคฏ. Gue rasa ini adalah contoh bagus bagi pemerintah untuk menunjukkan bahwa mereka benar-benar peduli dengan korupsi dan ingin melindungi masyarakat dari penipuan seperti ini.
 
Maksudnya, kalau ada orang yang mau membantu kita menjaga citra yang baik di media sosial, tapi malah nge-<em>handle</em> informasi secara tidak jujur, itu apa artinya? Apakah kita benar-benar bisa percaya dengan orang-orang yang menjaga citra kita? Tapi juga perlu diingat, ada garis batas dalam hal penggunaan media sosial. Jika kita terlalu bergantung pada orang lain untuk meng-<em>handle</em> informasi kita, itu bisa membuat kita kehilangan kontrol atas diri sendiri.
 
Siapa nih yang pikir JakTV itu benar-benar salah? Kalau kita lihat dari situasi ini, Marcella sendiri yang berbohong tentang penggunaan jasa Adhiya. Jika mau dipercaya, dia punya alasan buat meng-<em>handle</em> opini negatif tersebut. Siapa nih yang bilang JakTV itu korup? Banyak korupsi di negara ini, tapi siapa yang akan tertangkap karena kejahatan itu? Yang penting, Jaksa tidak bisa membiarkan kebenaran tersembunyi lagi. Jika kita ingin jujur, kita harus menerima bahwa semua pihak memiliki peran dalam situasi ini ๐Ÿค”
 
Pernah lihat kan nggak? Kita udah terlalu akrab sama teknologi, makanya gampang banget diperas. Bisa dikatakan bahwa penggunaan media sosial itu nggak ada kepentingannya. Yang paling penting adalah cara kita menggunakannya. Jika kita gunakan dengan bijak, maka itu menjadi alat yang bermanfaat untuk kita. Tapi kalau kita salah guna... ๐Ÿ˜ฌ๐Ÿ“บ Mereka yang terlibat dalam kasus ini pasti nggak ingin kita lihat kan? Kalau kita mau belajar dari kesalahan mereka, mungkin kita bisa membuat perubahan yang lebih baik di masa depan. ๐Ÿค”๐Ÿ’ป
 
Pernah dengar kalau media harus jujur, tapi siapa tahu apa-apa pun yang dikatakan oleh Jaksa bisa salah juga ๐Ÿค”. Yang penting adalah adanya bukti yang cukup untuk menyebut ada kesalahan dalam tindakan mereka. Tapi, apa lagi yang diharapkan dari Jaksa? Mereka harus 100% benar dan tidak pernah salah? Huh, sih ๐Ÿ™ƒ.
 
heyyyyy ๐Ÿค—, aku rasa kalau ada kasus korupsi ini, ada lagi hal penting yang harus dibicarakan yaitu tentang kebebasan berbicara di media sosial ๐Ÿ“ฐ๐Ÿ’ฌ. Aku pikir kalau di Indonesia udah banyak orang yang memiliki opini yang berbeda-beda tentang apa saja, jadi siapa yang mau memecah belah kesempatan orang lain untuk berbicara? ๐Ÿค”

Aku rasa ada perlu diselidiki lebih lanjut tentang bagaimana media sosial seperti JakTV itu bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki kepentingan, dan apa itu yang sebenarnya terjadi di balik kasus ini ๐Ÿค‘. Dan juga aku pikir perlu ada langkah-langkah untuk memastikan bahwa opini di media sosial tidak dipengaruhi oleh pihak-pihak yang berkepentingan ๐Ÿ’ธ.

Aku masih bingung siapa sih Junaedi Saibih, M Adhiya Muzzaki, dan Tian Bahtiar itu ๐Ÿคทโ€โ™‚๏ธ. Apakah mereka benar-benar bersalah atau apa yang sebenarnya terjadi? Aku rasa perlu ada penelitian lebih lanjut untuk memastikan keadilan dalam kasus ini โš–๏ธ.
 
Bawang, bawang aja deh! Kasus ini apa sih? Orangnya beli jasa untuk meng- handle opini negatif di media sosial, tapi kemudian gak ada yang cemas banget kalau opini itu bisa jadi membuat siapa-siapa tidak suka? Dan ternyata mereka hanya nge-post dua kali, kan kayak gajuman! ๐Ÿคฆโ€โ™‚๏ธ

Saya pikir lebih baik lagi kalau kita fokus pada memecahkan masalah nyata di Indonesia, bukan membuat program untuk merusak reputasi siapa-siapa. Di era ini, kita butuh lebih transparansi dan kejujuran, bukan propaganda yang hanya bertujuan untuk membuat orang kaya kaya dan korup siapa-siapa ๐Ÿ˜’

Dan apa dengan pengacuan itu? Saya rasa ada yang jujur kalau mereka tidak ingin diangkat sebagai korupsi timah. Mungkin ada alasan yang lebih baik daripada itu, tapi saya butuh tahu lebih lanjut! ๐Ÿค”
 
๐Ÿ˜Š Wkwk, ternyata ada kalanya siapa pun bisa jatuh ke dalam bahaya korupsi, termasuk yang bekerja di media! ๐Ÿคฏ Mungkin mereka tidak berencana untuk merugikan orang lain, tapi apa pun alasan itu, kita harus tetap mengingatkan bahwa integritas dan kesetiaan adalah hal yang sangat penting. ๐Ÿ’– Dan ya, siapa tahu mungkin ada orang di Jakarta JakTV yang benar-benar ingin membuat konten yang positif untuk publik, tapi ada cara yang lebih baik dalam melakukan itu. ๐Ÿค”
 
kembali
Top