KIKA Peringatkan Ada 3 Ancaman Kebebasan Akademik pada 2026

Berikut paraf rasionalisasi dari laporan KIKA Peringatkan Ada 3 Ancaman Kebebasan Akademik pada 2026 dalam bahasa Indonesia:

Pemerintah Republik Indonesia saat ini terus mempererat kerangka kooptasi kekuasaan yang semakin kuat dan tidak lagi bersifat laten, melainkan telah termanifestasi secara nyata. Kampus-kampus dijadikan tumpuan untuk menguatkan pendalaman nilai-nilai kekejaman dan keduanya berpotensi membunuh jiwa intelektual publik.

Kooptasi tersebut menyebabkan rektor-rektor kampus dipaksa menunjuk pejabat-pejabat menteri yang tidak memiliki latar belakang di bidang pendidikan. Hal ini merupakan tindakan yang dilakukan oleh pihak kekuasaan untuk mengatur struktur dalam perguruan tinggi secara kaku dan tidak transparan.

Kampus-kampus juga diintegrasikan ke dalam mesin birokrasi negara melalui sistem administrasi dan kepegawaian yang ketat, seperti absensi dan Beban Kerja Dosen (BKD). Menteri dapat mengontrol kegiatan akademik perguruan tinggi dengan lebih mudah, termasuk mengawasi hal-hal pribadi. Sehingga, pengadilan mungkin tidak akan bisa memproses kasus-kasus yang dianggap berpotensi membuka lubang.

Saat ini, Presiden Joko Widodo meluncurkan kampanye untuk mengumpulkan sekitar 1.200 guru besar dan dekan di Istana sebagai indikasi kuatnya cengkeraman kekuasaan terhadap perguruan tinggi. Pihak kekuasaan berusaha mengendalikan kegiatan akademis dengan lebih kuat, karena mereka percaya bahwa guru besar dan dekan masih mempertahankan sikap yang kritik kepada rezim ini.

Saat ini, militerisme semakin mencengkram di lingkungan kampus. Hal ini tercermin dalam penggunaan simbol-simbol militer, integrasi kegiatan kampus dengan kegiatan militer, serta adanya program yang berisikan nilai-nilai yang mengandung konsep-konsep militer.

Pertahanan militer semakin kuat dan menerapkan ideologi yang tidak bertentangan dengan kebebasan akademik. Mereka melihat bahwa masyarakat muda harus ditanamkan dengan nilai-nilai pahit, seperti kedisiplinan yang mengutamakan kekuasaan.

Saat ini, rezim melakukan pendisiplinan terhadap para akademisi yang bersikap kritik dan aktif dalam mewadilkan penyelesaian kasus-kasus korupsi. Pihak kekuasaan mencoba memecah belah komunitas masyarakat dengan menggunakan strategi yang berpotensi membunuh jiwa intelektual di antara mereka.

Dalam menghadapi ancaman tersebut, KIKA menyatakan bahwa upaya kebebasan akademik ini harus dilakukan secara kolektif dan kritis untuk mengembalikan martabat perguruan tinggi sebagai ruang yang independen dan mandiri.
 
Perguruan tinggi di Indonesia kayaknya sudah terlalu banyak dipengaruhi oleh pemerintah 🤔. Suhu-suhu cinta kebebasan akademik udah mulai menurun 😷. Bagaimana kalau kita berani mengkritik dan menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebebasan? 🤦‍♂️ Kampus harus menjadi ruang yang mandiri, bukan sekedar tempat untuk mempererat kuasa 💼. Saya harap para akademisi bisa tetap berani mengeluarkan suara mereka dan tidak takut ditindak kekerasan 😲.
 
aku rasa kalau gak ada komunitas masyarakat yang bisa melihat kebenaran apa yang terjadi di sekolah, rezim ini pasti gak akan berubah. tapi aku percaya dengarkan suara kita sendiri adalah langkah paling penting untuk menghadapi ancaman ini 😊
 
gak bisa dipungut ngerasa kalau pemerintah punya tujuan lain selain mempererat kuasa mereka di kampus2 😒. menteri yang tak pernah lulus dari perguruan tinggi itu, bagaimana bisa mereka ngawasi hal-hal pribadi dosen2? itu sama aja dengan cina atau amerika yang bermalas 🤣. kita harus lebih bijak dan tidak terjebak dalam sistem birokrasi yang ketat ini. saya rasa ada solusi lain, misalnya melalui teknologi informasi yang bisa memfasilitasi komunikasi antara pemerintah dan dosen2 😊.
 
ini terus bikinku penasaran banget ngapa pemerintah lagi-lagi ingin mengontrol segala hal di kalangan pendidik 🤔. kayaknya mereka malah coba menghancurkan jiwa intelektual publik ini di Indonesia 🚫, karena yang menjadi kekuatan bangsa itu adalah masyarakat yang pintar dan mandiri. tapi gini sih, orang Indonesia cinta sekali dengan pendidikan, kayaknya harus ada yang berani menentang ini 🙌
 
Merasa kayaknya kalau pemerintah udah ambil alih kekuasaannya di universitas-Universitas, bahkan bisa dipaksa rektor-rektor menunjuk pejabat menteri yang gak punya latar belakang pendidikan. Ini bikin serius aja cara kerja mereka, sih 😒. Kalau udah begitu, nggak ada yang terlindungi lagi dari penjajahan kekuasaan, kan? 🤯
 
Maksudnya kalau pemerintah lagi-lagi ingin memerankan peran sebagai penguasa sekolah, akrab banget ya dengan kebun bakau ini 🌳. Mereka bilang kampus harus menguatkan nilai-nilai kekejaman, tapi siapa bilang seperti itu kayak? Kalau tidak ada kemacetan dan ketidaktransparan di kampus, mahasiswa punya kesempatan untuk belajar dengan baik aja. Dan yang paling seru lagi, menteri-menteri langsung memilih rektor-rektor kampus karena siapa aja udah dikenal, jadi tidak perlu ada seleksi ya? 😂📚
 
aku rasa ada perubahan besar di dalam sistem pendidikan kita, kayaknya pemerintah makin serius dalam mengatur struktur perguruan tinggi, tapi aku khawatir itu akan berdampak pada kebebasan akademik kita 🤔. kalau ini semua terjadi untuk menutupi masalah-masalah yang sebenarnya ada di dalam sistem pendidikan kita, kayaknya kita harus waspada dan tidak puas dengan situasi ini 😐. aku rasa kita perlu membuat organisasi/gerakan yang lebih kuat untuk melawan tindakan pemerintah ini dan mempertahankan hak-hak kita sebagai akademisi 🌟
 
rasanya pahit banget sih, kalau kita diintimidasi kembali oleh rezim untuk jangan ngekritik ya.. harusnya kita fokus buat mewujudkan perubahan dari dalam, jangan sabar-sabar menunggu orang lain ngambil tindakan. apalagi kalau itu pula buat menghambat perkembangan pendidikan yang seharusnya berkualitas. jadi, kita harus tetap waspada dan kritis, nggak boleh terjebak dalam sistem birokrasi yang kuat itu 😒
 
kembali
Top