Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan bahwa kayu-kayu gelondongan yang ditemukan saat terjadi bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra akan digunakan sebagai material pembangunan kembali rumah-rumah masyarakat yang mengalami kerusakan. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki hunian tetap (huntap) bagi warga yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Tito menjelaskan bahwa pemanfaatan kayu-kayu gelondongan itu akan diprioritaskan untuk pembangunan hunian tetap. Ia juga menyatakan bahwa masyarakat sudah memanfaatkan kayu-kayu ini untuk membangun kembali rumah yang rusak dan bahkan digunakan untuk memperbaiki berbagai fasilitas publik yang rusak.
Saat ini, mayoritas wilayah-wilayah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sudah kembali pulih normal. Tito menyatakan bahwa 11 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, dan 13 kabupaten/kota di Provinsi Sumatra Utara sudah kembali normal. Namun, ada tiga kabupaten/kota yang masih belum normal, yaitu Agam, Padang Pariaman, dan Tanah Datar.
Tito juga menyatakan bahwa lumpur-lumpur yang mengendap di lokasi-lokasi terdampak bencana akan digunakan sebagai tanggul di pinggir sungai untuk mencegah air sungai meluap ke area permukiman warga apabila terjadi cuaca ekstrem.
Tito menjelaskan bahwa pemanfaatan kayu-kayu gelondongan itu akan diprioritaskan untuk pembangunan hunian tetap. Ia juga menyatakan bahwa masyarakat sudah memanfaatkan kayu-kayu ini untuk membangun kembali rumah yang rusak dan bahkan digunakan untuk memperbaiki berbagai fasilitas publik yang rusak.
Saat ini, mayoritas wilayah-wilayah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sudah kembali pulih normal. Tito menyatakan bahwa 11 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, dan 13 kabupaten/kota di Provinsi Sumatra Utara sudah kembali normal. Namun, ada tiga kabupaten/kota yang masih belum normal, yaitu Agam, Padang Pariaman, dan Tanah Datar.
Tito juga menyatakan bahwa lumpur-lumpur yang mengendap di lokasi-lokasi terdampak bencana akan digunakan sebagai tanggul di pinggir sungai untuk mencegah air sungai meluap ke area permukiman warga apabila terjadi cuaca ekstrem.