Gak bisa percaya aja kayak gini, kan? Asesmen nasional yang seharusnya memberikan solusi bagi sekolah-sekolah kita malah membuahkan hasil yang nol. Laptop Chromebook yang diberikan ini kayaknya nggak sesuai dengan kebutuhan sekolah, apa lagi kalau gak digunakan setelah asesmen selesai.
Aku pikir itu karena biaya yang terlalu mahal, kan? Rp2,1 triliun itu seperti uang banyak-banyak. Dan yang paling gak masuk akal kayaknya adalah guru-guru sekolah harus belajar berdua kali untuk beradaptasi dengan teknologi baru. Sepertinya ada kesalahan-kesalahan yang bisa dihindari jika perencanaan dan evaluasi yang tepat dilakukan.
Aku rasa itu bukan kebohongan korupsi, tapi lebih lagi karena kurangnya perencanaan yang baik. Sekarang aku pikir pengadaan laptop Chromebook ini jadi contoh bagaimana biaya-biaya negara bisa habis dengan cara yang nggak efektif.