JPU: Chromebook Mangkrak Usai Dipakai untuk Asesmen Nasional

JPU Expos Kegagalan Chromebook di Sekolah, Mangkrak Usai Asesmen Nasional.

Penggunaan laptop Chromebook di sekolah-sekolah di Indonesia tidak pernah dilakukan karena sistem pengadaannya yang kacau. Ini diketahui dari bukti percakapan staf khusus Mendikbud, Nadiem Makarim Fiona Handayani dan Jurist Tan.

Purwadi Sutanto, Direktur SMA, mengakui bahwa sistem pengadaan Chromebook tidak bisa disinkronkan dengan teknologi sebelumnya. Hal ini memaksa guru-guru di sekolah harus belajar dua kali terhadap teknologi baru tersebut.

Nadiem Makarim dan beberapa pejabat lainnya didakwa telah merugikan negara Rp2,1 triliun karena markup harga perangkat Chromebook yang tidak bermanfaat bagi siswa maupun sekolah.
 
Paham banget kok, belom ada sistem pengadaan laptop seperti ini di sekolah-scholl, makanya banyak sekolah punya masalah karna tidak bisa ngelaksanakan asesmen nasional 🤦‍♂️. Tapi, aku pikir paling penting ada guru-guru yang terpaksa belajar lagi teknologi baru 😅. Yang terganasin banget sih biaya perangkat Chromebook itu, Rp2,1 triliun! 🤑 Mungkin bisa diinvestasikan pada proyek sekolah yang lebih bermanfaat ya? 🤔
 
Saya rasa nggak ada masalah dengan pengadaan Chromebook di sekolah, tapi sistem pengadaannya yang bikin ngeliat aja ya... Saya bayangkan kalau kalian pernah harus belajar komputer lagi setelah punya tahun lalu, apa nggak stress banget! 🤯 Lalu siapa bilang teknologi baru ini bermanfaat bagi siswa? Saya rasa sebaiknya kalian teliti dulu before ngerasa mau membeli. Dan Rp2 triliun itu nggak main murah-murah, bro... 🤑
 
hehe, aja coba lihat gampangnya beli laptop di Malaysia, aku tahu ada beberapa sekolah di Indonesia yang terpaksa membeli chromebook karena ada diskon, tapi kayaknya pemerintah salah satu lagi dalam mengatur kepentingan sekolah. aku nggak tahu sih apa keuntungan dari itu, mungkin ada yang nanti bisa jualin kembali dengan harga lebih tinggi di pasar informal aja 🤑. dan aku pikir, kalau kita punya uang Rp2 triliun untuk beli chromebook, kenapa gak pakai untuk memperbaiki infrastruktur sekolah-sekolah yang masih sibuk dengan masalah jalan aja? 🤔
 
Maksudnya apa? Pengadaan Chromebook di sekolah-sekolah gini kayaknya kacau banget! Saya bayangkan kalau gurunya harus belajar teknologi baru lagi, itu bikin jenuh. Dan biayanya yang mahal gak kalah dengan efektivitasnya, siapa sih? Saya pikir lebih baik nanti menggunakan laptop atau tablet yang sudah ada sejak lama, tapi kayaknya sistem pengadaannya di sini agak bikin pusing! 🤯📚
 
Udah wajar sih, sistem pengadaan Chromebook di sekolah-schol ini masih banyak gak konsisten banget 🤦‍♂️. Saya sudah ngeliat kayaknya, bagaimana sekolah bisa menerima teknologi baru tanpa periksa terlebih dahulu apakah teknologi itu sesuai dengan kebutuhan siswa ya? Tapi sepertinya, ada kesalahpahaman yang besar banget di dalam sistem pengadaan ini. Saya rasa, pihak Mendikbud dan pejabat-pejabatnya harus lebih teliti lagi sebelum melakukan investasi seperti ini 🤝.

Sekarang, siswa-siswa Indonesia masih belajar menggunakan teknologi yang sudah lama, sementara Chromebook masih banyak yang belum sampai ke tangan mereka 😐. Saya rasa, pihak Mendikbud harus lebih transparan dan jujur dalam pengelolaan anggaran ini. Jangan biarkan Rp2,1 triliun itu dipengaruhi oleh markup yang tidak bermanfaat bagi negara 🤑.
 
gampang nggak gampang banget ayo buat sistem pengadaan laptop chromebook di sekolah hehe 😂 kalau sistemnya kacau siapa yang mau nanti laku? tapi yang buat aku penasaran, apa aja keuntungannya dari pengadaan perangkat chromebook dengan markup harga yang tinggi? kayaknya lebih baik banget kalau buatnya dengan harga yang wajar aja 🤑 tapi kalau benar-benar tidak bermanfaat bagi siswa dan sekolah, maka itu salah paham banget ya. gampangnya ada teknologi lain yang bisa digunakan juga dengan harga yang lebih terjangkau kayakanya 😊
 
Gue pikir ini serius banget, sih! Jadi apa penggunaan laptop Chromebook di sekolah-sekolah udah gagal, bisa dibilang kan? Gue suka dengan ide ini, tapi nggak mau ngebawa kesal, karena sistem pengadaannya itu kacau banget! Gue bayangkan, guru-guru harus belajar dua kali terhadap teknologi baru, sih... gue rasa ini lebih serius daripada jadi "influencer" laptop Chromebook di sekolah... tapi nggak bisa diubah, kan? Gue doang harap pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah dan para pejabatnya... 👍💻
 
kaya bikin rasa marah ya! jangan sabar-sabaran kalau aja nanti ada bukti bahwa sistem pengadaan itu benar-benar bikin rugi negara sebesar Rp2,1 triliun 🤯! apa sih yang bisa dilakukan untuk memperbaiki hal ini? harusnya ada langkah-langkah yang lebih baik dari itu, misalnya seperti survey terlebih dahulu tentang kebutuhan sekolah-sekolah untuk teknologi baru seperti Chromebook 📊. dan kalau sudah menentukan, maka harus ada rencana yang jelas bagaimana cara mengimplementasinya, misalnya dengan membuat daftar pengadaan yang lebih terstruktur... semoga di masa depan kita bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan seperti ini dengan lebih baik 🤞💻
 
Lupa banget kayaknya pengalaman belajar di masa lalu. Kalau dulu kita masih menggunakan komputer tua, sekarang gampang banget aja punya laptop sendiri... tapi sayangnya teknologi yang mereka tawarkan tidak bermanfaat apa-apa. Penggunaan Chromebook sekolah ini ternyata salah pilihan, kayaknya lebih baik kalau kita fokus pada hal lain, seperti digitalisasi literasi yang benar-benar berguna untuk siswa...
Lupa juga mengapa aja sistem pengadaan Chromebook ini tidak bisa disinkronkan dengan teknologi sebelumnya... tapi kayaknya saya pikir itu karena keterlambatan dalam proses pengembangan teknologi yang memang sudah lama ditunggu-tunggu. Saya masih bingung apakah kita harus menyesali keputusan tersebut, tapi mungkin bisa belajar dari kesalahan ini untuk meningkatkan teknologi edukasi di masa depan...
 
kembali
Top