Jika Defisit APBN 0 Persen seperti Kata Purbaya, Apa Dampaknya?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa defisit APBN yang hingga akhir Desember 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan konsekuensi lemahnya penerimaan negara pada tahun sebelumnya. Dia juga menyatakan bahwa pelebaran defisit ini terjadi di tengah tekanan kondisi global dan domestik yang volatil, serta program-program pembangunan nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
 
Hargaya, konsekuensi lemahnya penerimaan negara itu apa? Kenapa gak bisa nglirikin dulu dari sisi pendapatan negara kita? Sepertinya masih ada kesempatan buat mengubah strategi. Saya pikir kita perlu fokus lebih pada meningkatkan produksi dan pengembangan infrastruktur, sehingga penerimaan negara bisa naik. Tapi nggak cuma itu aja, kita juga perlu memastikan bahwa program-program pembangunan nasional seperti MBG benar-benar efektif dan efisien. Kita gak bisa ngejar-gelet sambil program yang penting ini masih berjalan.
 
Paparan defisit APBN itu agak memalukan nih, kan? Rp695 triliun lagi dari tahun sebelumnya. Saya pikir perlu ada rencana yang jelas bagaimana caranya untuk mengatasi defisit ini, bukan hanya mengeksploitasi program-program pembangunan seperti MBG. Banyak masyarakat Indonesia yang sudah bergantung pada program-program ini, nih. Itu salah satu masalahnya.
 
Rp 695 triliun defisit nggak cuma soal negara lemah, tapi gampangnya Jokowi buat MBG sih. Apa asal program itu aja mau dipertahankan sampai akhir Desember? Masih ada yang mau beli tiket ke luar negeri?
 
Makasih ya, nih. Defisit APBN itu kayaknya tidak bisa dihindari deh, kan? Tapi apa sih dengan program MBG? Mau kita fokus pada defisit atau kesehatan anak-anak? Mencoba lagi nih, giliran ini. Mungkin kalau kita fokus pada program-program pembangunan yang bermanfaat seperti MBG, maka kita bisa berpikir bahwa ini bukan kegagalan, tapi kesuksesan lainnya. Kalau tidak, kayaknya kita harus bikin contoh bagaimana cara kita bisa mendapatkan dana lagi.
 
Oke, gue pikir apa yang terjadi disini? Defisit APBN nggak bisa semakin besar banget deh. Rp695 triliun itu kayaknya terlalu banyak, ya. Mungkin karena program-program pembangunan nasional seperti MBG makin populer dan negara harus berinvestasi lebih banyak lagi. Gue pikir ini bukan cuma soal keuangan aja, tapi juga soal prioritas. Negara harus fokus untuk memberikan fasilitas bagi rakyat, ya? Tapi gue juga paham tentang tekanan global dan domestik yang terus berubah. Maka dari itu, gue harap pemerintah bisa segera menemukan solusi yang efektif agar defisit APBN tidak terus semakin besar.
 
Gue pikir apa yang gue lihat ada disini ni salah paham. Defisit nggak bisa dihalusinin, tapi apa yang perlu dipecahkan ni bagaimana caranya kita bisa mengurangi defisit itu. Kita harus cerdas, jangan cuma ngadat-ngadatin aja. Program MBG itu apa? Bisa jadi program itu sengaja diluncurkan agak lama ini untuk membiarkan APBN nggak tereluru. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa jadi seperti penyesal, tapi gue pikir dia harus lebih proaktif lagi. Apakah dia sudah ngobrol dengan menteri lainnya? Apakah ada yang bisa dilakukan untuk mengurangi defisit itu? Gue rasa kita tidak boleh terburu-buru aja, kita harus analisa sumber-sumber defisit itu dulu.
 
apa sih maksud ya apa 'maka' itu dibawa ke sini? jika penerimaan negara lemah pada tahun sebelumnya membuat defisit APBN hingga 695,1 triliun, itu berarti mana yang salah lagi? kalau kita lihat dari data yang diputar sama menteri keuangan, ini seperti berita yang kabur kok? apakah benar kita harus terus membiayai MBG dan program-program lainnya saja atau ada jalan out lain yang belum kita pikirkan?
 
aku pikir apa lagi yang bisa dilakukan pemerintah deh?Rp 695 triliun itu banyak banget! mau bikin negara kaya atau apa? kalau begitu kenapa kita masih punya masalah keuangan ya? aku rasa mereka hanya ngerusak program MBG dan lain-lain biar bisa mengatakan ada kemajuan ekonomi. tapi sebenarnya ada, kan? aku jadi penasaran siapa yang akan membayar utang itu deh? kira-kira kita semua mau terus-terusan membayar utang ke luar negeri?
 
Menteri Keuangan itu bilang lemahnya penerimaan negara bule-bule bisa jadi penyebab kekayaan rakyat tidak bervariasi terus-terusan 🤑. Sementara itu, kita masih harus makan nasi putih Rp 20 ribu per kilogram, ayo yang bilang ada peluang pembangunan? MBG siapa yang nyesel gini? Kita sudah kenyaman banget dengan nasib ini 😒. Yang jadi kejutan lagi, defisit APBN hingga akhir Desember 2025 itu sebesar Rp695,1 triliun, aku rasa itu bisa dibantu dengan sedikit penyesalan kita terhadap pengeluaran yang berlebihan 🤷‍♂️.
 
Sekarang ini keuangan negara jadi begitu kacau 😩. Sedangkan kita masih banyak program pembangunan di daerah-daerahnya, kayak MBG. Aku rasa pemerintah harus lebih bijak dalam mengelola keuangan, tapi sama-sama ingin membantu rakyat kan? 🤔. Bisa jadi kalau defisit ini sebenarnya tidak terlalu buruk, karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, kayak tekanan global dan program-program pembangunan. Tapi aku masih ragu-ragu, bagaimana kalau kalau kita harus lebih berhati-hati dengan keuangan negara, agar tidak jadi krisis lagi? 🤞.
 
Makasih ya gue penasaran apa arti dari 'lemahnya penerimaan negara' sih... Mungkin itu karena kena efek global ekonomi yang nggak stabil, tapi juga harus ngikuti kebutuhan masyarakat Indonesia gak?

Gue pikir ada solusi lain bukan hanya mengandalkan defisit APBN, misalnya bisa buat program pengelolaan anggaran yang lebih efektif atau coba cari sumber pendapatan baru ya... Makan Bergizi Gratis itu juga keren, tapi kalau pembangunan nasional terus belenggu by budget sih...

Mungkin kita harus ngobrolin tentang ini sama orang yang punya kekuasaan gak? 🤔💡
 
Gue rasa nggak ngerti sih kalau APBN kena defisit begitu besar... Rp695 triliun! Itu arih ngepik banget. Kenapa lagi terjadi seperti ini? Gue pikir nggak ada yang salah dengan program MBG, tapi mungkin karena sistem penerimaan negara yang lemah, kan? Gue rasa perlu adanya revisi dulu sebelum naikin ke tingkat defisit yang begitu besar...
 
hmmm, konsekuensi lemahnya penerimaan negara nih itu pasti karena kesulitan implementasi program MBG di daerah-daerah yang kurang mampu 🤔. aku rasa kalau gini bisa jadi masalah juga soal keselamatan nasional, kalau kita serius mau meningkatkan penerimaan negara, harus ada strategi yang tepat dan efektif ya 📈.
 
kembali
Top