Jika Defisit APBN 0 Persen seperti Kata Purbaya, Apa Dampaknya?

Pemerintah Indonesia mengelamunya dalam membayar utang negara akibat defisit anggaran yang terus menaik. Pada 2025, defisit APBN mencapai Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan pernyataan pembelaan atas kebijakan fiskal pemerintah, tetapi kritik muncul mengenai kemungkinan memotong belanja untuk mencapai defisit 0 persen.

Menurut Nailul Huda, ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), defisit 0 persen tidak realistis dan tidak perlu. Pemerintah harus berutang lebih besar hanya untuk membayar bunga utang berjalan. Kritiknya adalah pemerintah mengomong hal yang tidak perlu dan tidak perlu dilakukan, yaitu memotong belanja untuk mencapai defisit nol.

Sementara itu, Muhammad Andri Perdana dari Bright Institute juga menilai bahwa pelebaran defisit APBN 2025 tak bisa dianggap sepele. Defisit tersebut hanya terpaut 0,08 persen dari batas maksimum yang diizinkan undang-undang, yaitu sekitar Rp19 triliun atau anggaran 21 hari pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG).

Andri juga menilai bahwa peningkatan penerimaan bukan perkara mudah dalam kondisi ekonomi yang melemah. Oleh karena itu, efisiensi belanja menjadi satu-satunya instrumen yang sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah. Pemerintah harus mengurangi pos-pos anggaran yang tidak produktif dan meningkatkan efisiensi birokrasi serta subsidi.
 
Makasih banget gini, pemerintah Indonesia kayaknya terus-terusan kehilangan uang... 🤑 695 triliun? Wah itu seperti uang yang dibawa pulang oleh Sumpah Pangeran di masa lalu 🤣. Aku rasa apa aja yang ada di dada menteri Keuangan, ngeluarin kalau 0 persen defisit itu bisa capai? 😂 Maksudnya sih aku punya opini sendiri tentang efisiensi belanja di pemerintah ini, tapi mending tidak bicara karena aku takut bawa kesal 💁‍♀️. Kita jangan lupa, ada satu hal yang jelas yaitu harus ada penurunan dalam berbagai aspek birokrasi dan subsidi yang tidak efektif 💡.
 
Gue rasa Defisit 0 persen itu buat menteri keuangan terlalu bersemangat 🤣. Gue pikir gue bisa mencoba melihat anggaran apa yang dianggap produktif dan mana yang tidak 😂. Lalu, aku bisa lihat siapa yang benar-benar ingin membuat efisiensi belanja, menteri keuangan atau kira-kira 1 juta orang rakyat Indonesia? 🤔

Aku nih lihat, pernyataan Nailul Huda dan Muhammad Andri Perdana. Mereka bilang defisit 0 persen tidak realistis, tapi gue rasa itu karena mereka ga sempat nonton anime dan game, bisa bayangkan aja kalau defisit itu bagaikan koin yang harus dibeli? 🎮💰

Gue lihat pernyataan Menteri Keuangan juga, dia bilang bahwa belanja punya kesempatan untuk dioptimalkan. Gue rasa itulah yang harusnya dicoba dulu sebelum membayar utang, kayaknya lebih efektif buatnya 🤓.

Gue rasa aku perlu melihat chart ini 👉 [chart: Defisit APBN 2025 vs PDB] dan lihat siapa yang benar-benar ingin membuat ekonomi Indonesia maju 🚀.
 
Makasih bro, saya setuju kalau kita harus membayar utang negara, tapi aku rasa pemerintah gini-gini dengan cara mereka bayar. Mereka mengatakan wanna mencapai defisit 0 persen, tapi aku pikir itu tidak mungkin, di mana mau kita cari dana untuk bayar bunga? Kita harus berutang lebih besar lagi. Saya setuju kalau kita harus urur anggaran, tapi jangan sampai kita potong belanja yang penting seperti pendidikan dan kesehatan. Jadi, aku rasa pemerintah harus mencari cara lain untuk mengatasi masalah keuangan ini, bukan hanya memotong belanja saja.
 
Defisit 0 persen kayak gak realistis banget! Menteri Keuangan kan bilang kita harus terus berutang untuk bayar bunga utang, tapi juga harus mulai menghemati, hehe. Saya rasa pemerintah harus jujur dengan rakyat apa yang harus dilakukan. Jangan kayaknya kirim laporan biangka-biangka dan bilang kita harus potong belanja, tapi sekarang aja bilang tidak ada defisit, kan? 😂 Mending buat strategi lain seperti efisiensi belanja, optimalkan birokrasi dan jangan berlebihan dengan subsidi. Tapi kayak gak bisa dilakukan sih, karena pemerintah harus memenuhi kebutuhan rakyat dan juga investor, kan? 🤔
 
kira-kira gini, kalau kita tahu bahwa defisit 0 persen itu apa artinya? berarti pemerintah harus membayar bunga utangnya sendiri aja, kan? jadi tidak realistis banget kalau mereka ingin mencapai defisit 0 persen. tapi yang jadi masalah adalah karena memotong belanja, sih? bagaimana caranya mereka bisa mengurangi belanja yang tidak produktif dan meningkatkan efisiensi birokrasi? kalo gini, aku pikir lebih baik cari alternatif lain ya... seperti mencari sumber pendapatan baru atau mencoba perubahan struktur pemerintahan.
 
Defisit APBN terus menaik, ini artinya kita harus lebih bijak dalam pengelolaan anggaran deh. Minta minta apa lagi? Kita sudah terlambat banget! 🤯

Kalau ingin capai defisit 0 persen, tapi kita tidak bisa diharapkan dapat menerimaan yang cukup, maka bagaimana caranya? Tapi malah pemerintah memotong belanja, ini seperti main game birokrasi aja. 🤓

Saya pikir pemerintah harus fokus pada efisiensi belanja dan mengurangi pos-pos anggaran yang tidak produktif. Jangan lupa meningkatkan efisiensi birokrasi serta subsidi! 💡
 
Belum pernah ngetok utang negara ini sepele, nggak? Rp695 triliun itu seperti uang yang habis di toilet, kalau terus demikian, apa jadi Indonesia? Saya rasa pemerintah harus berhati-hati, tidak boleh cuma bicara dan tidak melakukan. Mereka harus cari solusi yang benar-benar bisa dilakukan, seperti mengurangi belanja yang tidak perlu dan meningkatkan efisiensi birokrasi. Saya rasa nanti pemerintah harus berbicara dengan para investor asing untuk mendapatkan bantuan keuangan. Kita harus menjadi lebih bijak dalam mengelola utang negara ini, jangan seperti anak kecil yang suka membeli-mbela.
 
Kira-kira apa itu gak ada yang bisa dibicarakan lagi kalau kita nantang defisit negara, kan? 🤯 Defisit APBN 2025 mencapai Rp695,1 triliun, itu adalah hal yang sangat parah, tapi kira-kira bagaimana caranya pemerintah mau mengaturnya? 🤑 Menurut Nailul Huda, defisit 0 persen tidak realistis dan tidak perlu, tapi aku rasa itu salah paham, apa yang harus dilakukan itu?

Mungkin kita harus berbicara tentang efisiensi birokrasi dan subsidi, ya. Kalau kita bisa mengurangi pos-pos anggaran yang tidak produktif dan meningkatkan efisiensi birokrasi serta subsidi, mungkin kita bisa mencapai defisit 0 persen. Tapi, itu sangat sulit, karna ada banyak faktor yang mempengaruhi hal itu.

Sementara itu, saya rasa perlu dipertimbangkan juga tentang bunga utang berjalan. Jika pemerintah harus membayar bunga utang berjalan, mungkin kita harus berutang lebih besar untuk dapat membayar utang tersebut. Tapi, itu bukanlah pilihan yang menyenangkan.

Saya rasa, apa yang penting adalah pemerintah harus berkomunikasi dengan masyarakat dan investor tentang kebijakan fiskal mereka. Mereka harus menjelaskan mengapa defisit negara meningkat dan bagaimana mereka rencananya untuk mengaturnya. Kita juga perlu memantau dan menilai kebijakan fiskal pemerintah secara teratur.
 
kembali
Top