Iran, AS Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman Militer
Pemerintah Iran terus menegaskan bahwa tidak akan melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) jika Washington melontarkan ancaman militer atau tekanan ekonomi. Hal ini dikatakan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam kunjungan resminya ke Turki, Jumat kemarin.
Araghchi menjelaskan bahwa kedaulatan pertahanan negara Iran tidak dapat diganggu gugat dan program persenjataannya tidak akan pernah menjadi subjek negosiasi apa pun. Menurutnya, pengembangan alutsista adalah hak prerogatif Teheran demi keamanan rakyatnya.
Kemudian, Araghchi menegaskan bahwa Iran siap membuka pintu dialog yang adil dan setara dengan AS, namun hal ini harus dilakukan tanpa ancaman militer atau tekanan ekonomi. Ia juga mengatakan bahwa negosiasi tidak dapat dilakukan di bawah bayang-bayang ancaman.
Hal ini dikemukakan dalam tengah retorika keras Presiden AS Donald Trump, yang menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015 pada masa jabatan sebelumnya. Trump kini berupaya menekan Iran untuk menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium.
Turki telah terlibat dalam upaya diplomatik untuk mencegah konfrontasi militer antara Iran dan AS, serta menawarkan peran Ankara sebagai fasilitator demi mencegah pecahnya konfrontasi bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Iran terus menegaskan bahwa tidak akan melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) jika Washington melontarkan ancaman militer atau tekanan ekonomi. Hal ini dikatakan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam kunjungan resminya ke Turki, Jumat kemarin.
Araghchi menjelaskan bahwa kedaulatan pertahanan negara Iran tidak dapat diganggu gugat dan program persenjataannya tidak akan pernah menjadi subjek negosiasi apa pun. Menurutnya, pengembangan alutsista adalah hak prerogatif Teheran demi keamanan rakyatnya.
Kemudian, Araghchi menegaskan bahwa Iran siap membuka pintu dialog yang adil dan setara dengan AS, namun hal ini harus dilakukan tanpa ancaman militer atau tekanan ekonomi. Ia juga mengatakan bahwa negosiasi tidak dapat dilakukan di bawah bayang-bayang ancaman.
Hal ini dikemukakan dalam tengah retorika keras Presiden AS Donald Trump, yang menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015 pada masa jabatan sebelumnya. Trump kini berupaya menekan Iran untuk menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium.
Turki telah terlibat dalam upaya diplomatik untuk mencegah konfrontasi militer antara Iran dan AS, serta menawarkan peran Ankara sebagai fasilitator demi mencegah pecahnya konfrontasi bersenjata di kawasan Timur Tengah.