Industri biomassa di Indonesia masih dalam fase pertumbuhan dan belum sepenuhnya siap untuk menjadi sumber energi terbarukan yang kompetitif. Menurut Lana Saria, staf ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kapasitas produksi biomassa masih sangat kecil dan sporadis, sehingga mempengaruhi biaya logistik dan membuat harga biomassa di pasar domestik tidak kompetitif dengan harga internasional.
Biomassa digunakan sebagai bahan bakar pada boiler di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan saat ini masih dicampur dengan batu bara sebagai bahan bakar utama. Namun, permintaan ekspor biomassa dan harga biomassa di pasar internasional lebih tinggi daripada di pasar domestik. Hal ini disebabkan oleh biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik yang membatasi harga beli biomassa di dalam negeri.
Kajian cepat Ombudsman pada 2025 menunjukkan bahwa harga komoditas batu bara lebih rendah daripada biomassa dari cangkang buah kelapa sawit, sehingga membuat industri biomassa masih belum siap untuk menjadi sumber energi terbarukan yang kompetitif.
Biomassa digunakan sebagai bahan bakar pada boiler di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan saat ini masih dicampur dengan batu bara sebagai bahan bakar utama. Namun, permintaan ekspor biomassa dan harga biomassa di pasar internasional lebih tinggi daripada di pasar domestik. Hal ini disebabkan oleh biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik yang membatasi harga beli biomassa di dalam negeri.
Kajian cepat Ombudsman pada 2025 menunjukkan bahwa harga komoditas batu bara lebih rendah daripada biomassa dari cangkang buah kelapa sawit, sehingga membuat industri biomassa masih belum siap untuk menjadi sumber energi terbarukan yang kompetitif.