ESDM Anggap Industri Biomassa Masih Fase Pertumbuhan

Industri biomassa di Indonesia masih dalam fase pertumbuhan dan belum sepenuhnya siap untuk menjadi sumber energi terbarukan yang kompetitif. Menurut Lana Saria, staf ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kapasitas produksi biomassa masih sangat kecil dan sporadis, sehingga mempengaruhi biaya logistik dan membuat harga biomassa di pasar domestik tidak kompetitif dengan harga internasional.

Biomassa digunakan sebagai bahan bakar pada boiler di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan saat ini masih dicampur dengan batu bara sebagai bahan bakar utama. Namun, permintaan ekspor biomassa dan harga biomassa di pasar internasional lebih tinggi daripada di pasar domestik. Hal ini disebabkan oleh biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik yang membatasi harga beli biomassa di dalam negeri.

Kajian cepat Ombudsman pada 2025 menunjukkan bahwa harga komoditas batu bara lebih rendah daripada biomassa dari cangkang buah kelapa sawit, sehingga membuat industri biomassa masih belum siap untuk menjadi sumber energi terbarukan yang kompetitif.
 
Biaya logistik kecil banget! Membuat harga biomassa di pasar domestik tidak kompetitif sama sekali. Jika kita ingin industri biomassa jadi sumber energi terbarukan yang kompetitif, kita harus meningkatkan kapasitas produksi dan mengurangi biaya logistik. Sementara itu, perlu ada pemerintah untuk menetapkan target harga biomassa yang lebih kompetitif dengan pasar internasional. Kita juga harus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat biomassa sebagai sumber energi terbarukan πŸŒΏπŸ’š
 
Gue pikir lagi kalau kita harus jadi negara produsen biomassa utama di dunia. Indonesia gak punya saran, kita bisa jadi negara pengimport biomassa dari luar negeri πŸ€¦β€β™‚οΈ. Cangkang buah kelapa sawit yang bikin harga biomassa lebih rendah itu sih kayaknya membuat industri kita tidak kompetitif. Tapi gue masih rasa ada harapan, kalau kita bisa meningkatkan infrastruktur dan biaya logistik, mungkin kita bisa jadi negara yang serius di bidang energi terbarukan πŸ’ͺ.
 
Eh kira-kira apa lagi yang harus dilakukan? Industri biomassa di Indonesia masih nggak bisa kompetitif dengan negara lain, kayaknya perlu ada inovasi dan peningkatan infrastruktur agar produksi biomassa bisa lebih efisien. πŸš€πŸ’‘
Saat ini harga biomassa di pasar internasional lebih tinggi daripada di pasar domestik, karena biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik yang membatasi harga beli biomassa di dalam negeri. πŸ€‘
Tapi gampang banget, bisa saja goyo kerja sama antara pemerintah dan industri biomassa untuk meningkatkan kapasitas produksi biomassa agar kompetitif dengan negara lain. πŸ’ͺ
Dengan demikian, kita bisa membuat Indonesia menjadi penyumbang energi terbarukan yang signifikan di dunia. πŸŒΏπŸ’š
 
πŸ€” Kalau mau jadi sumber energi terbaik, Indonesia harus meningkatkan produksi biomassa. Saat ini produksi biomassa di Indonesia masih sangat kecil dan jarang bisa ditemukan di pasar internasional. Kami perlu meningkatkan infrastruktur dan teknologi untuk menghasilkan biomassa yang lebih banyak dan berkualitas. πŸš€
 
Gue pikir kalau pemerintah gue harus memberikan bantuan lebih banyak lagi pada petani kecil di daerahnya, ya? Mereka yang sudah memiliki lahan dan kemampuan untuk menanam biomassa, tapi belum mendapatkan biaya pokok yang wajar, pasti akan sulit mempertahankan bisnisnya. Gue pikir gede banget kalau kita bisa memberikan bantuan lebih banyak lagi pada mereka, seperti dengan memberikan subsidi atau bantuan lainnya, sehingga mereka bisa menanam biomassa dengan biaya yang lebih murah dan hasilnya akan lebih baik! πŸ€žπŸ’š
 
Gampang aja pemerintah membuat kebijakan yang tidak masuk akal, seperti memberikan subsidi kepada batu bara dan tidak memberikan perlindungan bagi para petani yang memiliki lahan yang cocok untuk menanam sawit... tapi siapa tahu biomassa nanti bisa menjadi salah satu sumber energi terbarukan di Indonesia... tapi masih ada banyak hal yang harus diperbaiki, seperti kebijakan logistik yang kurang jelas dan biaya pokok yang tidak terjangkau bagi banyak petani...
 
biomassa di Indonesia gak sepenuhnya siap ya... kapasitas produksinya masih kecil dan sporadis banget! itu mempengaruhi logistik biar mahal, sehingga harga biomassa di pasar domestik jadi tidak kompetitif sama internasional. aku pikir kalau kita butuh energi terbarukan yang kompetitif, kita harus meningkatkan produksi biomassa kita... tapi kalau kondisi sekarang, aku rasa masih banyak hal yang perlu diperbaiki sebelum kita bisa mengatakan industri biomassa kita siap jadi sumber energi terbarukan! πŸ€”πŸ’‘
 
Dulu ngetik aja tentang ketergantungan kita terhadap impor energi, tapi sekarang udah buktinya kalau bisa menghasilkan biomassa sendiri. Tapi masih banyak lagi urusan untuk diselesaikan, misalnya kapasitas produksi yang masih kecil dan tidak efisien. Aku pikir ini bikin biaya logistik mahal banget. Dan lagi, harga di pasar internasional itu terlalu tinggi kan? Kita harus bisa menawarkan kompetisi lebih baik untuk biomassa kita sendiri, ya.
 
Biomassa di Indonesia masih jauh dari idealku πŸ’‘πŸŒΏπŸ’š. Produksi biomassa masih sangat kecil dan tidak stabil πŸ“‰πŸ’”. Jika kita ingin meningkatkan efisiensi energi, kita harus meningkatkan produksi biomassa πŸš€πŸŒ±. Saya pikir biaya logistik dan harga biomassa di pasar domestik masih terlalu tinggi πŸ€‘πŸ‘Ž.

Saya ingat saat ini harga batu bara lebih rendah daripada biomassa dari cangkang buah kelapa sawit πŸ˜πŸ€”. Artinya, industri biomassa kita belum siap untuk bersaing di pasar internasional πŸ’ͺ🌟. Kita perlu meningkatkan teknologi dan infrastruktur untuk meningkatkan efisiensi produksi biomassa πŸ“ˆπŸ’».

Tapi, saya masih berharap bahwa industri biomassa kita dapat menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang kompetitif di masa depan πŸ’šπŸŒΏ. Kita harus bekerja sama untuk mencapai tujuan ini dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat πŸ€πŸ’•.
 
Industri biomassa di Indonesia gak sempurna aja, masih banyak hal yang harus diperbaiki. Kapasitas produksi biomassa kecil dan sporadis memang membuat harga biomassa di pasar domestik tidak kompetitif dengan internasional. Dan sayangnya, harga komoditas batu bara gak terlalu jauh dari harga biomassa... itu bikin aku pikir, siapa yang benar-benar memutuskan harga? Apakah adalah biaya pokok produksi atau lagi-lagi saja kepentingan pihak tertentu? Dan apa artinya kalau industri biomassa tidak kompetitif? Berarti apa yang terjadi dengan energi terbarukan yang benar-benar baik bagi lingkungan dan kita sendiri? πŸ€”πŸ’‘
 
Biomassa itu masih jadi bisnis kecil-kecilan, lama-kelamaan lagi nanti biar punya efek Jepang ya... Industri ini punya potensi besar banget, tapi kalo diawasi aja siapa yang mau ikut main? Biaya logistik yang tinggi dan harga di pasar internal gak kompetitif sama internasional, kayaknya makin sulit nanti. Dan cangkang buah kelapa sawit itu bikin harga biomassa lebih murah dari batu bara... Makanya lagi biar siap jadi sumber energi terbarukan, tapi kalo kenyataannya gak mau berubah, biar gini aja ya...
 
Gak usah bingung ya bro! Industri biomassa di Indonesia masih dalam tahap pertumbuhan, tapi itu tidak berarti kita kalah dengan negara lain, ya? Kita harus fokus meningkatkan produksi dan biaya operasional kita, sehingga bisa kompetitif dengan internasional. Kalau biar industri ini bisa berkembang, kita harus bekerja sama dengan pemerintah dan investor untuk membantu meningkatkan infrastruktur dan teknologi. Kita juga harus penasaran dengan cangkang buah kelapa sawit ini, bakal menjadi opsi energi yang bagus banget!
 
Pak, aku pikir biaya logistik itu masalah besar deh... tapi tidak hanya itu aja, juga perlu ada inovasi dalam produksi biomassa agar bisa meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya pokok. Kalau bisa banget, biaya itu akan jadi kompetitif dengan batu bara. Tapi, sayangnya, masih banyak yang tidak fokus pada hal ini... hanya fokus pada meningkatkan produksi saja. Aku rasa kalau industri biomassa harus ada yang berinovasi lebih cepat agar bisa mengalahkan batu bara di pasar internasional. πŸ€”πŸ’‘
 
Gak percaya kalau ini masih masuk akal. Industri biomassa udah 10 tahunan nih, tapi masih gak bisa bersaing dengan internasional. Biaya pokoknya gak sebanding sama batu bara, kayak gini. Kita butuh strategi yang lebih baik untuk meningkatkan kapasitas produksi dan mengurangi biaya logistik. Tapi jangan asumsikan bahwa biomassa dari cangkang kelapa sawit itu lebih mahal daripada batu bara. Ada banyak faktor yang mempengaruhi harga, seperti lokasi penghasilan, transportasi, dan lain-lain. Kita harus melakukan analisis yang lebih mendalam sebelum membuat keputusan.
 
Biomassa gampangnya masih dalam tahap awal dan belum jadi salah satu pilihan energi yang bisa diandalkan. Produksi kapasitasnya masih sangat kecil, padahal kita butuh banyak energi untuk meningkatkan kesehatan dan kemakmuran. Kalau mau jadi kompetitif, harus fokus meningkatkan produksi dan menurunkan biaya logistik. Saya rasa biar lebih baik jika ada program pendukung yang memberikan bantuan kepada para petani yang ingin menjadikan biomassa sebagai sumber penghasilan mereka 😊
 
Gampang aja nih kan? Industri biomassa di Indonesia udah lama ditunggu tapi masih banyak kekurangan. Kapasitas produksi yang rendah dan biaya logistik yang mahal, gimana caranya bisa kompetitif dengan harga internasional? πŸ€”

Dan apa lagi, biaya pokok tenaga listrik yang membatasi harga beli biomassa di dalam negeri? Maksudnya, kita udah bayar gaji pegawai dan bahan bakar ya? πŸ˜’

Lalu cangkang buah kelapa sawit itu bagus untuk pembangkit listrik apa? Kita harus fokus pada teknologi yang benar dan bijak, bukan hanya fokus pada sumber daya alam yang ada di depan mata. 🌳
 
akhirnya ada orang yang ingin ngelaskan mengapa harga biomassa jadi nggak kompetitif ya? sering aku liat produksi biomassa di kalangan masyarakat, tapi masih banyak yang nggak bisa menangani biaya pokok apa sih? mungkin nanti kita harus ngatur regulasi yang lebih baik agar industri ini bisa berkembang jadi yang sehat
 
kembali
Top