Empat Desa di Donggala Sulteng Diterjang Banjir dan Longsor, Bencana Alam yang Menghantam Komunitas Pedesaan
Tiga hari terakhir ini, penghunian desa di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) terancam banjir dan longsor. Empat desa di Kecamatan Sojol dan Dampelas menjadi korban bencana alam tersebut. Banjir dan longsor ini diterasakan oleh warga Desa Tonggolibibi, Rerang, Sabang, dan Tovea Sirenja.
Menurut Kepala BPBD Sulteng, Akris Fattah Yunus, banjir terjadi di Desa Tonggolobibi dan Rerang, sehingga pemukiman warga terendam air dengan ketinggian mencapai satu meter. Sementara itu, longsor terjadi di Desa Sabang, Kecamatan Dampelas, yang menyebabkan 10 rumah warga dan satu bangunan majelis taklim terkena dampaknya.
Longsor ini dipicu oleh pengikisan di area pinggir sungai akibat debit air yang tinggi. "Fasilitas yang rusak antara lain tanggul, saluran drainase, satu unit jembatan gantung, SDN 10 Sojol, dan sawah seluas 1.350 hektare," kata Akris.
Bencana alam ini juga menyerang fasilitas pemerintahan, seperti kantor desa dan sekolah, yang terendam air di Desa Lende Tovea Sirenja. Warga harus menghadapi kesulitan untuk mendapatkan akses ke fasilitas dasar.
Tiga hari terakhir ini, penghunian desa di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) terancam banjir dan longsor. Empat desa di Kecamatan Sojol dan Dampelas menjadi korban bencana alam tersebut. Banjir dan longsor ini diterasakan oleh warga Desa Tonggolibibi, Rerang, Sabang, dan Tovea Sirenja.
Menurut Kepala BPBD Sulteng, Akris Fattah Yunus, banjir terjadi di Desa Tonggolobibi dan Rerang, sehingga pemukiman warga terendam air dengan ketinggian mencapai satu meter. Sementara itu, longsor terjadi di Desa Sabang, Kecamatan Dampelas, yang menyebabkan 10 rumah warga dan satu bangunan majelis taklim terkena dampaknya.
Longsor ini dipicu oleh pengikisan di area pinggir sungai akibat debit air yang tinggi. "Fasilitas yang rusak antara lain tanggul, saluran drainase, satu unit jembatan gantung, SDN 10 Sojol, dan sawah seluas 1.350 hektare," kata Akris.
Bencana alam ini juga menyerang fasilitas pemerintahan, seperti kantor desa dan sekolah, yang terendam air di Desa Lende Tovea Sirenja. Warga harus menghadapi kesulitan untuk mendapatkan akses ke fasilitas dasar.