Kalau gini, jadi kan suka-suka aja bangunan wisata di samping Warisan Budaya Dunia Jatiluwih. Saya tahu kalau ini penting buat konservasi alam dan budayanya. Tapi, nggak bisa dipungkahi juga kebutuhan ekonomi dari masyarakat setempat ya? Mungkin kan ada cara lain buat mengelola wisata dengan lebih ramah lingkungan dan tradisi?
Saya ingat saat-saat di masa lalu, kalau ada wisatawan datang ke Bali, mereka masih sederhana aja, nggak butuh banyak peralatan atau fasilitas canggih. Mereka sudah puas dengan keindahan alam dan budaya lokal. Sekarang, kan banyak bangunan yang mewah dan modern di sekitar wisata, sehingga aku khawatir akan hilangnya keunikan dan asli-ness dari Jatiluwih.
Saya harap pemerintah bisa membuat perjanjian atau moratorium bangunan wisata yang lebih lama lagi buat melindungi Warisan Budaya Dunia ini.