Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Indonesia, hadir dalam Majelis Persaudaraan Manusia Zayed Award 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Dalam kesempatan ini, Megawati membicarakan tentang Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Pancasila memiliki inti yang sangat penting yaitu spirit gotong royong yang menyatukan bangsa Indonesia.
"Gotong Royong itulah yang telah membuat bangsa Indonesia yang beragam-ragam latar belakangnya itu dapat bersatu dan membangun negara dengan perlakuan dan hak yang sama di mata hukum dan pemerintahan bangsa kami," kata Megawati. Ia juga menjelaskan bahwa Pancasila memberikan hak yang sama kepada seluruh warga negara.
Jaminan kesamaan ini juga diatur dalam konstitusi. Megawati merasa bahagia atas adanya jaminan kesamaan di depan hukum tersebut. "Jadi, maksudnya tidak ada perbedaan apakah itu laki-laki, perempuan, tua, muda, anak, miskin, atau kaya," ujar Megawati.
Selain itu, Megawati juga mengenalkan panggilan 'Bung' yang kerap dilekatkan dengan Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Ia menjelaskan bahwa kata 'Bung' bukan sekadar sebutan, tapi juga bermakna mengenai kesamaan dan kesetaraan. Rakyat memanggil presiden pertama bukan dengan 'Yang Mulia' atau tanda-tanda kehormatan, mereka menyebutnya sangat spesifik 'Bung'.
"Gotong Royong itulah yang telah membuat bangsa Indonesia yang beragam-ragam latar belakangnya itu dapat bersatu dan membangun negara dengan perlakuan dan hak yang sama di mata hukum dan pemerintahan bangsa kami," kata Megawati. Ia juga menjelaskan bahwa Pancasila memberikan hak yang sama kepada seluruh warga negara.
Jaminan kesamaan ini juga diatur dalam konstitusi. Megawati merasa bahagia atas adanya jaminan kesamaan di depan hukum tersebut. "Jadi, maksudnya tidak ada perbedaan apakah itu laki-laki, perempuan, tua, muda, anak, miskin, atau kaya," ujar Megawati.
Selain itu, Megawati juga mengenalkan panggilan 'Bung' yang kerap dilekatkan dengan Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Ia menjelaskan bahwa kata 'Bung' bukan sekadar sebutan, tapi juga bermakna mengenai kesamaan dan kesetaraan. Rakyat memanggil presiden pertama bukan dengan 'Yang Mulia' atau tanda-tanda kehormatan, mereka menyebutnya sangat spesifik 'Bung'.