Kredit Nganggur Capai Rp2,439 Triliun di Desember 2025, BI Dorong Ekspansi dan Pertumbuhan Ekonomi
Menurut data Bank Indonesia (BI), kredit nganggur atau undisbursed loan mencapai Rp2.439,2 triliun di akhir tahun 2025, yang menempatinya di puncak dari total plafon kredit tersedia sebesar Rp10.973,6 triliun. Ini menunjukkan bahwa masih banyak peluang bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi dan pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan fasilitas pinjaman yang tersedia.
Gubernur BI Perry Warjiyo memandang bahwa bank masih memiliki kemampuan untuk mendukung penyaluran kredit kepada perusahaan, termasuk rasio likuiditas perbankan yang tetap memadai dengan level 28,57 persen. Bahkan, kapasitas pembiayaan bank meningkat sebesar 13,83 persen dari periode yang sama.
Namun, tidak semua segmen kredit dapat dijangkau oleh perusahaan karena risiko yang masih tinggi. Persyaratan pemberian kredit semakin longgar, kecuali bagi segmen kredit konsumsi dan UMKM yang memerlukan pengecualian.
Rasio kecukupan modal (CAR) dan rasio kredit bermasalah (NPL) juga terpantau secara ketat untuk menjaga ketahanan sistem keuangan. Menurut data BI, rasio CAR mencapai 26,05 persen di akhir November 2025, sedangkan rasio NPL tetap rendah sebesar 2,21 persen secara bruto dan 0,86 persen neto.
Dengan demikian, Gubernur Perry Warjiyo menekankan pentingnya perusahaan untuk melakukan ekspansi dan pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang tersedia. "Pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan," katanya.
Menurut data Bank Indonesia (BI), kredit nganggur atau undisbursed loan mencapai Rp2.439,2 triliun di akhir tahun 2025, yang menempatinya di puncak dari total plafon kredit tersedia sebesar Rp10.973,6 triliun. Ini menunjukkan bahwa masih banyak peluang bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi dan pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan fasilitas pinjaman yang tersedia.
Gubernur BI Perry Warjiyo memandang bahwa bank masih memiliki kemampuan untuk mendukung penyaluran kredit kepada perusahaan, termasuk rasio likuiditas perbankan yang tetap memadai dengan level 28,57 persen. Bahkan, kapasitas pembiayaan bank meningkat sebesar 13,83 persen dari periode yang sama.
Namun, tidak semua segmen kredit dapat dijangkau oleh perusahaan karena risiko yang masih tinggi. Persyaratan pemberian kredit semakin longgar, kecuali bagi segmen kredit konsumsi dan UMKM yang memerlukan pengecualian.
Rasio kecukupan modal (CAR) dan rasio kredit bermasalah (NPL) juga terpantau secara ketat untuk menjaga ketahanan sistem keuangan. Menurut data BI, rasio CAR mencapai 26,05 persen di akhir November 2025, sedangkan rasio NPL tetap rendah sebesar 2,21 persen secara bruto dan 0,86 persen neto.
Dengan demikian, Gubernur Perry Warjiyo menekankan pentingnya perusahaan untuk melakukan ekspansi dan pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang tersedia. "Pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan," katanya.