Banyak Desa di Aceh Hilang Akibat Banjir dan Longsor, Penduduk Terpaksa Mengungsi
Setidaknya 22 desa dan dusun di Provinsi Aceh hilang akibat banjir dan longsor yang terjadi sporadis pada akhir November lalu. Desa-desa tersebut tersebar di 7 kabupaten kota, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Utara, Nagan Raya, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Pidie Jaya.
Menurut data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Aceh, desa-desa yang hilang tersebut berada di kawasan rawa-rawa, sehingga sangat rentan terhadap banjir dan longsor. Beberapa desa yang hilang adalah Lubuk Sidup, Sekumur, Tanjung Geulumpang, Sulum, dan Baling Karang di Kabupaten Aceh Tamiang, serta Desa Guci, Riseh Teungoh, Riseh Baroh, dan Rayeuk Pungkie di Kabupaten Aceh Utara.
Kabupaten Nagan Raya juga terkena dampaknya, yaitu di Kecamatan Kuta Teungoh dan Babah Suak. Desa Beutong Ateuh Banggalang mengalami kerusakan parah hingga sebagian besar permukiman tidak lagi tersisa.
Di Kabupaten Aceh Tengah, desa Bintang Pupara dan Kalasegi dilaporkan hanya menyisakan beberapa rumah dengan kondisi rusak berat. Penduduknya saat ini masih mengungsi.
Sementara itu, di Kabupaten Gayo Lues, banyak desa yang hilang akibat banjir dan longsor, seperti Desa Tetinggi, Seneren, Remukut, Kuning Kurnia, Agusen, Pasir, Uyem Beriring, dan Pungke.
Pemerintah provinsi Aceh berupaya melakukan pendataan lanjutan serta menyiapkan langkah penanganan bencana ini, termasuk relokasi warga dan rencana pembangunan hunian sementara (huntara) atau hunian tetap (huntap) bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.
Pemerintah Republik Indonesia juga membentuk Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana banjir Sumatra, diketuai Mendagri Tito Karnavian dan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen Ricard Tampubolon sebagai wakilnya.
Setidaknya 22 desa dan dusun di Provinsi Aceh hilang akibat banjir dan longsor yang terjadi sporadis pada akhir November lalu. Desa-desa tersebut tersebar di 7 kabupaten kota, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Utara, Nagan Raya, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Pidie Jaya.
Menurut data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Aceh, desa-desa yang hilang tersebut berada di kawasan rawa-rawa, sehingga sangat rentan terhadap banjir dan longsor. Beberapa desa yang hilang adalah Lubuk Sidup, Sekumur, Tanjung Geulumpang, Sulum, dan Baling Karang di Kabupaten Aceh Tamiang, serta Desa Guci, Riseh Teungoh, Riseh Baroh, dan Rayeuk Pungkie di Kabupaten Aceh Utara.
Kabupaten Nagan Raya juga terkena dampaknya, yaitu di Kecamatan Kuta Teungoh dan Babah Suak. Desa Beutong Ateuh Banggalang mengalami kerusakan parah hingga sebagian besar permukiman tidak lagi tersisa.
Di Kabupaten Aceh Tengah, desa Bintang Pupara dan Kalasegi dilaporkan hanya menyisakan beberapa rumah dengan kondisi rusak berat. Penduduknya saat ini masih mengungsi.
Sementara itu, di Kabupaten Gayo Lues, banyak desa yang hilang akibat banjir dan longsor, seperti Desa Tetinggi, Seneren, Remukut, Kuning Kurnia, Agusen, Pasir, Uyem Beriring, dan Pungke.
Pemerintah provinsi Aceh berupaya melakukan pendataan lanjutan serta menyiapkan langkah penanganan bencana ini, termasuk relokasi warga dan rencana pembangunan hunian sementara (huntara) atau hunian tetap (huntap) bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.
Pemerintah Republik Indonesia juga membentuk Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana banjir Sumatra, diketuai Mendagri Tito Karnavian dan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen Ricard Tampubolon sebagai wakilnya.