Curhat Terdakwa Kasus Migor Dituduh Selingkuh Gara-gara Penyidik

Dalam persidangan Tipikor Jakarta Pusat, Terdakwa Kasus Migor Dituduh Selingkuh Gara-gara Penyidik.

Saat proses penyidikan di Kejaksaan Agung, penyidik bertanya ke arah wanita idaman atau selingkuhan dalam hubungan pribadi kasus tersebut yang dituduh melakukan tindak pidana pencucian uang dan suap. Penyelidikan ini bermulai dari pertanyaan kepada istri Terdakwa Kasus, Sovista Maya Khrisna mengenai anak perempuan yang ada dalam rumah tangganya.

Sovista membenarkan bahwa dia mendapat pertanyaan tersebut dan menolak karena tidak memiliki anak perempuan. Namun, penyelidik terus bertanya dan akhirnya menyatakan bahwa Sovista dikira memiliki wanita idaman karena dia merespons bahwa dia menerima pertanyaan tersebut dengan "Iya aneh ya pak".

Hal ini membuat Sovista menjadi enggan dalam persidangan sehingga menatap suaminya selama proses penyidikan. Maka dari itu, penyelidik menyatakan bahwa Sovista dikira memiliki anak perempuan yang ada dalam rumah tangganya, dan ini adalah punya tindak pidana pencucian uang terhadap majelis hakim Tipikor Jakarta Pusat.

Saat proses penyidikan diadakan, suaminya mengaku bahwa dia sendiri mengalami kerusakan keluarga karena penyelidikan yang berlangsung dalam waktu dua bulan.
 
Gue nggak percaya sama penyelidik tuh! Mereka memang terlalu keterlibatan dengan kehidupan Sovista, nggak masuk akal banget kalau dia dikira memiliki anak perempuan. Dan ini semua karena pertanyaan yang sederhana, "Iya aneh ya pak" itu sudah bikin Sovista enggan. Gue rasa ini semua cari tahu buat nggali Sovista, nggak untuk mencari kebenaran. Sementara suami Sovista bilang dia mengalami kerusakan keluarga, tapi gue malah pikir ini cari tahu buat nggali kembali Sovista! 😒🚫
 
ini cerita yang bikin serasa kekecewa banget, bro 🤕. penyelidik yang dianggap jujur malah salah sasaran dan memaksa korban menjadi enggan dalam persidangan. siapa tahu sovista memang benar-benar tidak memiliki anak perempuan, tapi penyelidik malah terus bertanya dan akhirnya membuatnya menjadi duduk di pengadilan dengan tuduhan palsu 🤦‍♂️. ini bikin kita pikir tentang integritas penyelidikan yang harus dijaga agar proses hukum bisa berjalan dengan adil dan transparan 💼.
 
Aku pikir cara ini gampang banget sekali. Penyelidik langsung bertanya tentang wanita idaman kasus tersebut, ternya sudah menunjukkan bahwa dia tidak punya anak perempuan di rumah tangganya. Tapi penyelidik tetap melanjutkan dan bilang dia memiliki anak perempuan. Ini kayak caranya aja para penyelidik nggak sabar untuk capres kasus ini, padahal mereka justru tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah Tangga Terdakwa Kasus.

Dan itu bukannya masalahnya? Apa yang salah dengan dia merespons pertanyaan penyelidik dengan "Iya aneh ya pak"? Aku pikir ini cara jalan yang benar. Penyelidik tidak sabar-sabar untuk capres kasus ini, padahal mereka harus lebih teliti dan menghormati diri Terdakwa Kasus. Kalau di sini dia tidak punya anak perempuan, kenapa dia harus bilang "Iya aneh ya pak"?
 
Kalau mau aku bilang, aku pikir ini eksploitasi kasus tipikor nggak wajar. Si Sovista kok dijadikan korban karena dia jawabannya kayak "Iya aneh ya pak"? Itu sengaja dia jawabnya bukan berarti dia punya anak perempuan! Aku rasa penyelidik yang bertanya itu kok kayaknya pilih kasus yang nggak masuk akal. Dan apa sih yang mau dicapai dari proses ini? Maksudnya diinginkan siapa aja yang mau terlibat dalam tipikor?

Aku pikir ini gede banget, si Sovista dan suaminya kayaknya udah pas, tapi karena penyelidik yang salah itu, kasus mereka jadi korban. Kalau tidak ada yang salah, kenapa dia harus dipaksa terlibat dalam proses tipikor?
 
omg ini sangat serius banget!! penyelidik ini nggak sabar-bara aja, tapi bisa salah informasi sampai ada tuduhan tanpa bukti apa-apa 🤦‍♂️ selain itu, Sovista Maya khrisna udah jujur kalau dia tidak punya anak perempuan di rumah tangganya, tapi penyelidik ini tetap continue bertanya dan akhirnya malah menyebabkan Sovista menjadi enggan dalam persidangan 🤔 dan suaminya nyang gugup juga karena kerusakan keluarganya 🙏
 
Hmm, ini kira-kira cerita apa lagi sih... Penyidik yang banyak bertanya tentang anak perempuan itu pasti memiliki alasan tertentu ya, mungkin ada hubungan antara penyelidik dengan Sovista yang bukan diungkapin aja. Saya pikir Sovista tidak perlu bingung-bingung lagi, karena ini semua sudah jadi cerita tipikor yang berakhir dengan kehilangan bebasnya... 😐🚫
 
Oke deh, apa sih yang terjadi di Tipikor Jakarta Pusat? Ternyata penyelidik kasus Migor itu bilang Sovista memiliki anak perempuan? Eehhh, aku bingung kan! Aku punya temen yang pernah dipukul oleh suami, tapi dia tidak menuduhnya karena tindak pidana pencucian uang. Aku rasa ini terlalu serius dan aku malah penasaran apa sih anak perempuan yang ada di rumah Sovista? Tapi aku juga ngerasa jadi gelisah banget, apakah penyelidik itu benar-benar tidak bertanggung jawab?
 
Gue penasaran sih apa yang ada di belakang kasus ini. Iya, semoga tidak ada hubungan pribadi antara penyelidik dan Terdakwa Kasus yang bisa mempengaruhi proses penyidikan. Apalagi kalau dia memiliki anak perempuan, itu bikin prosesnya jadi lebih sulit dan emosional.

Gue rasa penyelidik harus lebih teliti lagi dalam hal ini. Mereka harus fokus pada bukti-bukti yang ada, bukan membuat teko-tekoan. Semoga kasus ini bisa diselesaikan dengan adil dan cepat. Gue harap suaminya bisa melarikan diri dari stres yang dialami selama proses penyidikan itu 😔
 
Maksudnya kalau penyelidik ini nggak jelas apa yang mereka cari sih? Mereka tanya Sovista tentang anak perempuan, tapi dia bilang tidak punya. Lalu mereka bilang dia itu harus punya anak perempuan karena dia jawabannya kayak "Iya aneh ya pak" 🤷‍♂️.

Itu kayak banget, kenapa sih mereka pikir seperti itu? Dan sekarang Sovista enggan dalam persidangan, dan suaminya mengaku bahwa penyelidikan ini bikin kerusakan keluarga. Saya rasa ini kayak salah arah proses penyidikan, kan?

Tapi apa yang terbaiknya? 🤔

* Menurut data dari Kementerian Hukum dan HAM RI, persidangan kasus Tipikor di Jakarta Pusat berhasil menyelesaikan 70% kasus pada tahun 2024.
* Ada 1.321 kasus yang masih dalam proses penyelidikan. (sumber: Biro Statistik Kementerian Hukum dan HAM RI)
* Jumlah kasus Tipikor di Indonesia mencapai 2.500 kasus pada tahun 2024, menurut data dari Asosiasi Pengacara Indonesia (Himpunan Pengacara Indonesia). (sumber: Kemenkumham)
* Kasus Tipikor yang berakhir dengan hukuman penjara di Jakarta Pusat mencapai 40% pada tahun 2024, menurut data dari Biro Statistik Kementerian Hukum dan HAM RI.
 
Kasus ini seringkali terjadi di dunia penegak hukum. Penyelidik yang semestinya fokus pada bukti, malah bertanya tentang hal-hal pribadi seperti anak perempuan atau selingkuhan. Ini membuat Terdakwa Kasus Semoga Aman (Sovista Maya Khrisna) enggan dalam proses penyidikan dan akhirnya tidak bisa memperjelas segala sesuatu.

Apa yang penting adalah bukti-bukti yang benar, bukan cerita pribadi orang-orang. Jika penyelidik semakin terlibat dalam hal-hal pribadi, maka proses penyidikan menjadi tidak adil dan tidak transparan. Semoga di masa depan, penyelidik lebih fokus pada bukti dan tidak terlalu sering bertanya tentang hal-hal pribadi.

Sudah waktunya kami untuk memperhatikan keseimbangan antara proses penyidikan yang adil dan tidak melibatkan hal-hal pribadi yang tidak penting. Semoga Tipsikor Jakarta Pusat dapat menjadi contoh bagi penegak hukum di Indonesia agar lebih berhati-hati dalam proses penyidikan. 🤦‍♂️
 
Maksudnya kalau penyelidik itu nanti kembali sapa lagi dengan Sovista, ini cuma caranya mencari bukti apa? Kalau soal anak perempuan itu, apakah benar-benar dia punya anak perempuan di rumah tangganya atau apa sih yang terjadi? Mungkin saja dia cuma salah menjawab untuk menyelamatkan dirinya. Saya rasa ini caranya kasus pencucian uang gonta-ganti saksi, kan?
 
Gue banget jengut si penyelidik nih! Mereka tadi punya tujuan untuk menanyai anak perempuan Sovista, tapi apa sih yang terjadi? Mereka malah dipercaya bahwa Sovista ada anak perempuan di rumah tangganya dan ini punya tindak pidana pencucian uang. Gue rasa si penyelidik kayaknya tekanan banget pada Sovista karena dia malah menjawab "Iya aneh ya pak" saat diminta pertanyaannya.

Gue pikir si penyelidik yang salah karena mereka yang tidak perlu menanyai anak perempuan Sovista, tapi malah terus bertanya sampai Sovista enggan dalam persidangan. Siapa sih yang bilang bahwa Sovista memiliki anak perempuan di rumah tangganya? Mereka yang salah, bukan Sovista! Gue rasa ini salah taktik dari penyelidik yang harus dihindari agar jujur dan transparan dalam proses penyidikan. 😒
 
Makasih bosan banget nanya, mantap sekali kasus ini! Pokoknya korban yang terluka sih kasus ini bukan Sovista aja, tapi suaminya juga ya? Dia mengatakan bahwa dia sendiri pengalaman kerusakan keluarga karena penyelidikan yang berlangsung dalam waktu dua bulan. Itu memang lama sekali dan bisa membuat seseorang sangat stres.

Sovista apa lagi, dia hanya jawab dengan "Iya aneh ya pak" aja, tapi itu sudah cukup buat penyelidik untuk mengira bahwa dia punya anak perempuan yang ada dalam rumah tangganya. Makasih bosan nanti pengadilan ini, semoga dihakimi adil dan tidak ada lagi korban yang terluka seperti ini.
 
Aku tidak punya opini tentang hal ini 😐 tapi aku pikir kalau ada keterlibatan anak kecil di kasus ini pasti bikin bingung banget. Siapa tahu anaknya itu benar-benar ada, tapi dia juga bisa jadi anak tirinya atau sumpah pacarnya yang mau buat Sovista tergoda 🤷‍♂️. Aku rasa apa yang dibicarakan di persidangan ini lebih fokus pada bagaimana penyelidik cari cara buat Sovista malu-malu, daripada memang buktikan siapa itu anaknya atau tidak 🙄.
 
Kalau seseorang terdakwa kasus, itu kan buat korban juga gawa-gawanya aja 🤷‍♂️. Apa salahnya dia mau membela diri sendiri? Tapi, kalau penyelidik ini sudah asumsikan dia ada anak perempuan, itu jadi alasan bukti yang kuat terhadap dia, kan? 😐.

Saya pikir, penyelidik ini memang bertanya ke arah wanita idaman di rumah tangganya, tapi siapa tahu dia benar-benar ada anak perempuan atau tidak. Kita nggak bisa langsung menilai apa yang terjadi di dalam keluarga mereka, kan? 🤔. Tapi, kalau Sovista ini enggan dalam persidangan karena merasa penyelidik ini menuduhnya salah tanpa bukti, itu juga sudah masuk akal ya. Saya rasa saya akan juga enggak mau tampil di depan umum jika dituduh salah. 😊
 
Gue pikir ini masuk akal sih, penyelidik itu ngerasa terjebak aja sama-sama, Sovista juga tidak mau berbicara jadi apa yang bisa dia lakukan? Dan suami Sovista kalau benar-benar mengalami kerusakan keluarga karena penyelidikan ini, itu juga bukti bahwa prosesnya sudah tidak adil lagi. Saya rasa penyelidik itu harus lebih bijak dalam menjalankan proses penyelidikan, tidak usah mengkhianati hak-hak yang sama sama dengan terdakwa. 👎
 
Dalam kasus ini, rasanya seperti ada sesuatu yang salah sekali. Penyidik yang bertanya tentang wanita idaman kasus tersebut benar-benar tidak perlu melakukannya. Apalagi kalau mereka penasaran, kenapa mereka tak bisa bertanya langsung kepada Sovista tentang hal itu? Saya pikir ini bukan cara yang baik untuk penyelidikan. Dan siapa tahu, mungkin Sovista benar-benar tidak memiliki anak perempuan. Yang penting adalah kasusnya sebenarnya apa? Saya rasa lebih baik jika penyelidik fokus pada hal itu daripada memaksa Sovista untuk memberitahu tentang sesuatu yang tidak penting. 🤔
 
Gue pikir ini bukan cara yang tepat banget cara penyelidikan, sih. Polisi nggak boleh kudu asal-asalahin dari hal yang aneh atau tidak jelas, tapi harus ada bukti yang pasti sebelum menuduh seseorang melakukan tindakan pidana. Dalam kasus ini, penyelidik malah membuat Sovista menjadi enggan dalam persidangan, sih. Dan malu banget ya suaminya yang harus nanggung segala kesalahan polisi itu.

Gue pikir polisi harus lebih jujur dan transparan dalam proses penyelidikan, bukan nggak bicara langsung dengan seseorang. Jika penyelidik benar-benar memiliki bukti, maka harus menyebutkannya langsung saja, tanpa perlu membuat orang lain menjadi bocor informasi.
 
Penggunaan teknologi ini benar-benar membuat kasus-kasus sengit menjadi mudah didaur ulang dan dipanjangkan. Kalau sekarang suaminya bilang dia merespons dengan "Iya aneh ya pak", berarti dia jadi korban dari penanya penyidik yang tidak peduli. Ini kalau tidak ada pengawasan, siapa tahu kasus ini benar-benar menyebarluas dan terjadi kerusakan bagi keluarga yang tidak perlu. Itu salah satu masalah kita sekarang, kita harus lebih berhati-hati dalam menggunakan teknologi untuk mengawasi orang lain.
 
kembali
Top