Ada awan tebal cumulonimbus di Maros, Sulawesi Selatan, saat kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Teuku Faisal Fathani, cuaca di wilayah pendekatan bandara relatif stabil namun masih terdapat awan Cb yang perlu diwaspadai saat pendaratan.
Analisis berdasarkan laporan meteorologi bandara dan citra satelit menunjukkan keberadaan awan tinggi dan tebal di sekitar Maros dengan suhu puncak awan yang mengindikasikan karakter awan konvektif. Kondisi ini sesuai dengan laporan cuaca yang mencatat adanya awan tebal di wilayah pendekatan bandara.
BMKG juga menegaskan informasi tersebut disampaikan sebagai bagian dari pemaparan kondisi meteorologis saat kejadian, tanpa mengaitkan pada penyebab teknis insiden. Sementara itu, Kemenhub telah menyatakan bahwa penyebab insiden pesawat ATR diinvestigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Kondisi cuaca yang memungkinkan terjadinya kecelakaan tersebut sangat penting untuk dipahami dan diperhatikan, karena dapat mempengaruhi fase pendekatan pesawat saat akan mendarat.
Analisis berdasarkan laporan meteorologi bandara dan citra satelit menunjukkan keberadaan awan tinggi dan tebal di sekitar Maros dengan suhu puncak awan yang mengindikasikan karakter awan konvektif. Kondisi ini sesuai dengan laporan cuaca yang mencatat adanya awan tebal di wilayah pendekatan bandara.
BMKG juga menegaskan informasi tersebut disampaikan sebagai bagian dari pemaparan kondisi meteorologis saat kejadian, tanpa mengaitkan pada penyebab teknis insiden. Sementara itu, Kemenhub telah menyatakan bahwa penyebab insiden pesawat ATR diinvestigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Kondisi cuaca yang memungkinkan terjadinya kecelakaan tersebut sangat penting untuk dipahami dan diperhatikan, karena dapat mempengaruhi fase pendekatan pesawat saat akan mendarat.