Lampung Menuntut Pemerintah Menahan Impor Tepung Tapioka, Siapa Saja yang Mendukung?
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, telah menuntut pemerintah pusat untuk menahan impor tepung tapioka. Ini ditujukan sebagai jawaban atas potensi produksi tambahan tepung tapioka di Lampung. Menurut Rahmat, ubi kayu telah menjadi tulang punggung ekonomi Lampung selama lebih dari 60 tahun, dengan ratusan ribu petani bergantung pada komoditas ini.
Potensi produksi tepung tapioka di Lampung cukup besar, mencapai 21 juta ton ubi kayu per tahun. Dengan rasio konversi sekitar 5 kilogram ubi kayu menjadi 1 kilogram tapioka, Lampung memiliki potensi produksi lebih dari 4,2 juta ton tepung tapioka per tahun untuk memenuhi kebutuhan industri nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalami penurunan impor pati ubi kayu. Menurut data Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, pangsa pasar domestik mencapai 79 persen, sedangkan nilai ekspor meningkat menjadi 18,7 juta dolar AS pada November 2025.
Dengan demikian, Lampung siap untuk menjadi produsen terbesar dengan kualitas baik, pasokan stabil, dan harga bersaing. Namun, ini diharapkan dapat didukung oleh kebijakan nasional yang konsisten.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, telah menuntut pemerintah pusat untuk menahan impor tepung tapioka. Ini ditujukan sebagai jawaban atas potensi produksi tambahan tepung tapioka di Lampung. Menurut Rahmat, ubi kayu telah menjadi tulang punggung ekonomi Lampung selama lebih dari 60 tahun, dengan ratusan ribu petani bergantung pada komoditas ini.
Potensi produksi tepung tapioka di Lampung cukup besar, mencapai 21 juta ton ubi kayu per tahun. Dengan rasio konversi sekitar 5 kilogram ubi kayu menjadi 1 kilogram tapioka, Lampung memiliki potensi produksi lebih dari 4,2 juta ton tepung tapioka per tahun untuk memenuhi kebutuhan industri nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalami penurunan impor pati ubi kayu. Menurut data Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, pangsa pasar domestik mencapai 79 persen, sedangkan nilai ekspor meningkat menjadi 18,7 juta dolar AS pada November 2025.
Dengan demikian, Lampung siap untuk menjadi produsen terbesar dengan kualitas baik, pasokan stabil, dan harga bersaing. Namun, ini diharapkan dapat didukung oleh kebijakan nasional yang konsisten.