Dalam kesempatan sidang kasus dugaan korupsi tata kilang minyak PT Pertamina, Wakil Menteri ESDM 2016-2019 Arcandra Tahar mengungkapkan bahwa Indonesia tetap membutuhkan impor kilang minyak untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri. Menurut Arcandra, impor kilang minyak masih dibutuhkan karena kebutuhan kilang 1 juta barel yang tidak dapat dipenuhi oleh produksi domestik.
"Kita masih kurang 300 ribu lagi setelah memasukkan seluruh produksi kita ke dalam kilang Pertamina. Jadi, walaupun Permen ini 100 persen seluruh produksi Indonesia dimasukan ke dalam kilang Pertamina, tetap kita masih butuh impor crude 300 ribu," kata Arcandra.
Selain itu, Arcandra juga menjelaskan bahwa kebutuhan impor kilang minyak lebih besar daripada kebutuhan BBM. "Impor tetap dibutuhkan karena kebutuhan kilang 1 juta barel. Sementara itu, kebutuhan BBM kita adalah sekitar 1,4 juta barrels per day, sedangkan produksi kilang Pertamina hanya sekitar 800 ribu barrels per day," katanya.
Dengan demikian, menurut Arcandra, impor kilang minyak masih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan BBM di Indonesia.
"Kita masih kurang 300 ribu lagi setelah memasukkan seluruh produksi kita ke dalam kilang Pertamina. Jadi, walaupun Permen ini 100 persen seluruh produksi Indonesia dimasukan ke dalam kilang Pertamina, tetap kita masih butuh impor crude 300 ribu," kata Arcandra.
Selain itu, Arcandra juga menjelaskan bahwa kebutuhan impor kilang minyak lebih besar daripada kebutuhan BBM. "Impor tetap dibutuhkan karena kebutuhan kilang 1 juta barel. Sementara itu, kebutuhan BBM kita adalah sekitar 1,4 juta barrels per day, sedangkan produksi kilang Pertamina hanya sekitar 800 ribu barrels per day," katanya.
Dengan demikian, menurut Arcandra, impor kilang minyak masih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan BBM di Indonesia.