Kebiasaan berkepanjangan menelusuri konten di media sosial tanpa henti memicu kecemasan yang berulang, bahkan dapat mengganggu kesehatan mental anak. Berikut beberapa alasan mengapa anak rentan terjebak dalam kebiasaan ini:
Anak belum sepenuhnya mampu menyaring informasi yang layak atau perlu diabaikan. Kondisi ini membuat dampak berita negatif dalam kebiasaan "doomscrolling" terasa lebih kuat pada anak.
Kebiasaan ini dapat memicu masalah, seperti gangguan tidur, menurunnya kemampuan berkonsentrasi, dan meningkatnya rasa cemas. Anak lebih sensitif dan berisiko membentuk pola pikir yang pesimistis serta rasa takut berlebihan terhadap lingkungan sekitar.
Menyadari bahaya ini, penting untuk diingat bahwa kebiasaan "doomscrolling" tidak hanya memengaruhi kondisi emosional anak, tetapi juga mengganggu proses perkembangan otak yang masih berlangsung.
Anak belum sepenuhnya mampu menyaring informasi yang layak atau perlu diabaikan. Kondisi ini membuat dampak berita negatif dalam kebiasaan "doomscrolling" terasa lebih kuat pada anak.
Kebiasaan ini dapat memicu masalah, seperti gangguan tidur, menurunnya kemampuan berkonsentrasi, dan meningkatnya rasa cemas. Anak lebih sensitif dan berisiko membentuk pola pikir yang pesimistis serta rasa takut berlebihan terhadap lingkungan sekitar.
Menyadari bahaya ini, penting untuk diingat bahwa kebiasaan "doomscrolling" tidak hanya memengaruhi kondisi emosional anak, tetapi juga mengganggu proses perkembangan otak yang masih berlangsung.