Ahok di Sidang: Golf Jadi Tempat Negosiasi Ideal Bisnis Minyak

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mantan komisaris PT Pertamina (Persero), mengatakan bahwa bermain golf adalah bagian dari praktik negosiasi yang ideal dalam industri internasional. Hal ini dia sampaikan saat menjadi saksi kasus korupsi tata kelola minyak mentah di pengadilan tipikor Jakarta, Jakarta Pusat.

Ahok menjelaskan bahwa awalnya dia tidak suka bermain golf, bahkan melarang anak buahnya untuk bermain karena sudah memiliki tugas yang terlalu banyak. Namun, setelah bergabung dengan Pertamina, dia terpaksa belajar golf agar bisa menemani pebisnis internasional yang sering mengajak bertemu di lapangan golf.

Ahok memandang lapangan golf sebagai tempat negosiasi yang lebih sehat dan efisien dibandingkan lokasi lain. Ia juga menolak anggapan bahwa aktivitas tersebut berkaitan dengan perjudian atau pelanggaran etika, melainkan hanya bentuk apresiasi yang lazim dilakukan.

"Apresiasi saja, bukan judi," katanya. "Saya ingat nasihat Pak Riva, 'istri saya cuma pesan begini Pak kalau main golf, apa? jangan lihat papa kedi ya'... itu saja. Kita joke-nya adalah bahaya, tapi tidak seperti yang dikatakan Nasihat Pak."

Dalam sidang ini, terdakwa antara lain Riva Siahaan, eks Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga; Sani Dinar Saifuddin, eks Direktur Feedstock dan Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional; Maya Kusmaya, eks Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga; Edward Corne, eks VP Trading Operations PT Pertamina Patra Niaga; Yoki Firnandi, eks Direktur Utama PT Pertamina International Shipping; Agus Purwono, eks VP Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional; Muhamad Kerry Adrianto Riza, beneficial owner PT Navigator Khatulistiwa; Dimas Werhaspati, Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim; dan Gading Ramadhan Joedo, Komisaris PT Jenggala Maritim.

Dalam kasus tata kelola minyak mentah dan kilang Pertamina, total kerugian negara diperkirakan mencapai Rp285 triliun.
 
Golfer Ahok bilang bermain golf itu bagian dari praktik negosiasi yang bagus kalau diperlukan nih. Nah, sepertinya dia tidak bisa menyangkal diri karena memang perlu belajar golf itu agar bisa ngajak-ajak pebisnis internasional bertemu di lapangan golf. Kalau cuma ingin bertemu sih kan bisa jadi cuma ngobrol aja di kantor, tapi golf itu agak lebih formal ya, apalagi kalau ada investor asing yang mau bertemu. Tapi, sepertinya bermain golf itu bukan tentang judi atau sesuatu yang salah, melainkan hanya adanya ritual yang sederhana yang harus dilakukan agar bisa menangani situasi bisnis yang sulit.
 
Golfer yang pernah jadi komsiar di Pertamina ini benar-benar seru kan? Bermain golf bukan hanya untuk menikmati suasana alam, tapi juga bisa jadi strategi dalam bisnis. Ahok jujur dia awalnya tidak suka bermain golf, tapi setelah bergabung dengan Pertamina, dia harus belajar agar bisa menemani pebisnis internasional yang sering mengajak bertemu di lapangan golf. Padahal, sekarang dia bilang bahwa lapangan golf adalah tempat negosiasi yang lebih sehat dan efisien.

Saya curiga, mungkin Ahok nggak benar-benar ngerti apa itu korupsi kan? Dia bilang bahwa aktivitas bermain golf bukan berhubungan dengan perjudian atau pelanggaran etika. Tapi, apa jadi rasanya jika kita mengatakan bahwa bermain golf di kalangan komsiar yang kasewatin bisa jadi ada hubungannya dengan korupsi?

Saya pikir, Ahok ini lebih seru kan? Dia bilang bahwa "apresiasi saja, bukan judi". Tapi, apa jadi rasanya jika kita mengatakan bahwa semua yang dilakukan Ahok saat itu adalah bentuk apresiasi yang lazim?
 
Golfer profesional Indonesia memang suka bermain golf di luar negeri, tapi kan kok sering ada yang bilang bahwa pertandingan golf itu punya efek negatif pada lingkungan? πŸ’¦πŸŒ³ Nah, Ahok bilang kalau sebenarnya golf di luar negeri bisa menjadi tempat yang baik untuk berdiskusi dan menyelesaikan masalah bisnis, tapi sayangnya dia gak bilang tentang bagaimana cara agar praktik ini tidak berdampak buruk pada lingkungan πŸ€”πŸŒ΄
 
Aku pikir kalau Ahok benar-benar suka main golf sekarang sudah tidak bisa dibayangkan lagi 🀣. Tapi yang penting, dia bilang kalau main golf itu hanyalah bagian dari praktik negosiasi yang ideal di industri internasional. Aku setuju dengan itu, tapi aku masih penasaran kenapa Ahok harus belajar bermain golf dari awal... kayaknya ada yang lebih masuk akal, kan? πŸ€”

Dan aku paham dengan pernyataan Ahok bahwa main golf bukanlah tentang perjudian atau pelanggaran etika, tapi tentang apresiasi. Tapi aku masih ragu-ragu, kenapa kita harus percaya pada kata-katanya tanpa ada bukti yang konkretnya? πŸ€·β€β™‚οΈ

Aku juga penasaran dengan daftar orang yang terdakwa di kasus tata kelola minyak mentah dan kilang Pertamina. Ada banyak nama yang terkena korban, tapi aku masih ingin tahu bagaimana proses penanganan kasus ini benar-benar berjalan. πŸ“Š
 
Golf itu cerita panjang ya... aku pernah main golf dengan temen-temen klien di tahun 90-an. Mereka sering mengajak kita ke lapangan golf untuk diskusi, tapi sebenarnya aku tidak suka banget main golf. Aku lebih suka nongkrong di warung makan malam yang bikin es teler.

Apa yang ahok katakan itu benar-benar? Golf itu bagian dari praktik negosiasi yang ideal? Mungkin, tapi aku rasa perlu ada batasan juga ya... aku ingat ketika aku masih bekerja di kantor, aku duduk di tempat yang panjang dan serius sambil mengobrol dengan rekan-rekan. Tapi setelah beberapa kali main golf dengan temen-temen, aku mulai lebih santai dan cerdas dalam berdiskusi 😊.

Aku rasa ahok benar-benar ingin mengatakan bahwa golf itu bukan tentang perjudian atau pelanggaran etika, tapi tentang apresiasi dan keterampilan yang bisa meningkatkan negosiasi. Aku setuju dengan itu, tapi aku juga masih ragu-ragu apakah golf itu benar-benar bagian dari praktik negosiasi yang ideal... πŸ€”
 
Gue pikir Ahok kalau nggak salah ngomong tentang golfnya... tapi gue paham apa yang dia katakan. Golf bisa jadi tempat untuk berdiskusi dan menemukan solusi, kayaknya lebih santai dan nyaman daripada di ruang kerja biasa. Dan siapa tahu, mungkin juga bisa membantu orang-orang dari luar negeri lebih mudah mengerti Indonesia, ya... 🀝
 
Golf apa sih yang salah? Ahok punya alasan yang logis banget, kalau mau bermain golf untuk bernegosiasi itu jadi strategi yang bagus. Saya pikir itu lebih baik daripada berbicara di kantor dan tidak langsung membuat keputusan. Kalau ahok nggak suka bermain golf, dia bilang anak buahnya nggak bisa bertemu dengar pebisnis internasional, itu jadi masalah juga.

Saya pikir yang penting adalah hasil kerja sama itu bagus atau tidak, bukan dari mana dia membuat keputusan. Karena Ahok punya pengalaman di Pertamina, saya rasa dia tahu apa yang terjadi dan bagaimana caranya bisa mengatasi masalahnya. Kalau kita lihat dari sudut pandang bisnis, itu jadi strategi yang bijak.
 
Golf bisa bikin kita lebih santai dan ngobatin, apalagi kalau dipakai untuk diskusi bisnis. Ahok benar-benar bijaksana mengatakan itu. Saya sendiri suka bermain golf di Jakarta Garden City, tapi gak sabar banget buat duduk jangkrik. Tapi serius, lapangan golf bisa bikin kita lebih fokus dan tidak terburu-buru dalam ngobatin bisnis.
 
Golf serasa tidak main-main untuk Ahok kalah ini 🀝. Nah, kalau kita jadi mantan komisaris PT Pertamina, kita udah harus siap pakai dengan banyak orang internasional, termasuk yang suka main golf! πŸ˜‚. Mungkin karena sekarang saya sibuk banget sama project baru saya, tapi sepertinya banyak orang berpikir bahwa golf bukan hanya hobi, tapi juga cara untuk berbisnis dan memperkuat hubungan dengan mitra internasional 🀝.

Aku rasa kalau Ahok benar-benar tidak salah karena mau main golf, tapi mungkin perlu penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana cara itu berhubungan dengan bisnisnya. Sepertinya golf bisa menjadi platform yang baik untuk membangun kerja sama dan meningkatkan keefisienan bisnis πŸ“ˆ.
 
Gue sederhana, gue pikir kalau Ahok bisa jadi yang paling berpengalaman di bidang ini. Mungkin kalau Ahok tahu nggak main golf, Pertamina akan kehilangan peluang untuk menandatangani kontrak dengan perusahaan internasional. Golf memang tempat seru, tapi juga bisa memberi kesempatan yang lebih baik lagi untuk berbisnis di luar negeri 🏌️
 
[diagram sederhana dengan garis-garis yang menghubungkan mata, kepala, dan tangan manusia]

Golf sebagai bagian dari negosiasi? Saya tidak bermaksud memotong atau melewatkan pendapat Ahok 😊. Nah, kalau diintegrasikan dengan praktik negosiasi di industri internasional, saya rasa bisa berarti apa? πŸ€”

Mungkin ada satu hal yang penting, yaitu keamanan informasi dan data πŸ›‘οΈ. Saya harap Ahok sudah tidak membawa laptop atau ponsel ke lapangan golf ketika menandatangani dokumen penting πŸ“.

[icon smiley dengan mata berlensa]

Saya tidak tahu bagaimana golf bisa menjadi tempat yang lebih sehat dan efisien dibandingkan lokasi lain, tapi saya senang sekali Ahok tidak melihat aktivitas tersebut sebagai perjudian atau pelanggaran etika πŸ™. "Apresiasi saja" itu kan benar-benar keseharian kita di Indonesia, ya? 😊
 
Bermain golf di lapangan internasional memang menjadi bagian dari praktik negosiasi yang sehat, tapi gak cuma itu aja, golfer juga harus punya strategi dan taktiknya sendiri πŸ€”. Nah, kalau Ahok suka bermain golf, kenapa dia tidak bisa berhenti? Apalagi saat masih bergabung dengan Pertamina, dia terpaksa belajar, tapi gak pakai itu sebagai alibi untuk tidak fokus di pekerjaannya. Golf bisa menjadi semacam 'relaks' sebelum bertemu dengan investor internasional, tapi gak berarti itu juga bisa jadi 'judi' πŸ˜’. Yang penting adalah Ahok harus jujur apa yang dia lakukan dan apa yang dia maksudkan, jangan hanya sekedar main golf sambil 'bernegosiasi'.
 
Aku pikir Ahok benar-benar bijak dalam menemukan cara untuk mengelola tekanan saat bergabung dengan PT Pertamina. Bermain golf sebagai bentuk apresiasi kepada pebisnis internasional memang tidak salah, tapi aku rasa lebih penting lagi bagaimana dia bisa menggunakan keahliannya untuk mengoptimalkan operasi minyak mentah dan kilang tersebut πŸ€”

Aku pikir yang benar-benar perlu dicari adalah cara untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam pengelolaan sumber daya itu, bukan hanya bermain golf atau menemani pebisnis. Nah, jadi apa pun strategi Ahok selanjutnya nanti? 🀞
 
Golf memang bisa menjadi sesuatu yang baik untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan menyelesaikan konflik di industri internasional 🏌️. Saya setuju bahwa lapangan golf bisa menjadi tempat yang lebih santai dan efektif daripada tempat lain. Pertamina memang memiliki kebiasaan mengajak tamu internasional bermain golf, dan itu bisa membantu dalam meningkatkan hubungan bisnis.

Aku pikir Ahok benar-benar tidak salah ketika dia melarang anak buahnya untuk bermain golf awalnya, tapi setelah bergabung dengan Pertamina, dia harus belajar. Itu sudah wajar banget 😊. Yang penting adalah bahwa aktivitas tersebut tidak terkait dengan perjudian atau pelanggaran etika, melainkan hanya bentuk apresiasi yang lazim dilakukan.

Saya penasaran mengenai asal-usul nasihat "istri saya cuma pesan begini Pak kalau main golf, apa? jangan lihat papa kedi ya'... itu saja. Kita joke-nya adalah bahaya, tapi tidak seperti yang dikatakan Nasihat Pak". Tapi sepertinya itu hanya cerita dan bukan bukti adanya kesalahpahaman.
 
Golfe Ahok sih memang bisa dibicarainya dari sudut positif, tapi juga bikin perasaan nggak enak kan kalau korupsi punya akibat yang terlalu besar sepertiitu? Rp285 triliun kayaknya itu banyak banget, jadi gini kita harus fokus utamanya buat mencegah situasi semacam ini.
 
hehe, gimana nih... apalagi golf? aku suka main sepak bola, tapi sepak bola cuma bisa dimainkan di lapangan yang benar-benar kasur πŸ˜‚. tapi, mungkin kalau aku bisa main golf dengan seorang pebisnis internasional, aku bisa mendapatkan kontrak yang bagus πŸ€‘... tapi apa yang terpenting adalah tidak ada korupsi, kan? sepertinya gini aja, kerugian negara karena korupsi itu sangat besar, Rp285 triliun! itu seperti menginjakkan kaki di hati kita semua 😱. kenapa kita harus begitu tidak sabar dengan orang-orang yang jujur dan memiliki integritas? πŸ€”
 
Gue penasaran kenapa orang yang sering main golf di Indonesia cuma muncul ketika ada skandal korupsi? Ahok memang terlibat dalam kasus ini, tapi gue pikir dia seseorang yang jujur dan tidak suka berbohong. Mungkin karena dia tidak suka bermain golf sebenarnya, tapi akhirnya dia harus belajar untuk bisa menemani pebisnis internasional di lapangan golf.

Gue setuju dengan Ahok bahwa main golf bukan hanya tentang perjudian atau pelanggaran etika, tapi tentang apresiasi yang lazim dilakukan. Tapi gue juga penasaran bagaimana dia bisa tidak melarang anak buahnya untuk bermain golf jika dia sebenarnya tidak suka. Apakah dia memang tidak mau berbohong ketika mengatakan bahwa anak buahnya sudah memiliki tugas yang terlalu banyak?

Gue rasa Ahok ini masih terlalu santun dan tidak ingin membuat kontroversi, tapi gue juga menghargai pendapatnya tentang lapangan golf sebagai tempat negosiasi yang lebih sehat dan efisien. Tapi apa yang pasti, gue tidak percaya bahwa semua orang di Pertamina yang terdakwa ini hanya sekedar orang biasa yang melakukan kesalahan kecil saja...
 
Golfnya ahok memang agak bingung, tapi kalau ada kemungkinan keuntungan ya boleh banget. Kita lihat sekarang kondisi Pertamina kayaknya sangat buruk, nggak bisa melayani rakyat dan negara. Golf yang Ahok mainkan itu kayaknya bisa jadi bagian dari strategi yang tidak kalah pintar dari cara lain. Misalnya bisa bikin hubungan dengan investor internasional lebih dekat, atau kayaknya bisa menambah kecerdasan kita dalam bisnis. Tapi siapa tahu, kalau Ahok suka golf itu karena ada rasa korupsi di baliknya aja, kita jangan terburu-buru menghakiminya.
 
Golfer Ahok kayaknya tidak salah nih πŸ™„. Bermain golf buatnya adalah cara yang baik untuk berkomunikasi dengan pebisnis internasional, tapi tentu saja tidak harus berarti korupsi atau judi πŸ€·β€β™‚οΈ. Golf itu bikin kita lebih santai dan bisa ngobrol lebih bebas, kayaknya bagus untuk bisnis πŸ’Ό. Ahok juga benar-benar tidak suka bermain golf duluan, tapi kamu perlu belajar dari orang lain sih πŸ˜…. Yang penting adalah tujuan utama, yaitu bisnis dan ekonomi πŸ“ˆ.
 
kembali
Top