Konsumsi abon ikan sapu-sapu ciliwung, salah satu sumber protein hewani di Indonesia, memang tergolong aman untuk dikonsumsi? Jawabannya tidak sepenuhnya jelas.
Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Jurnal Pengolahan Pangan Universitas Alkhairaat Palu, abon ikan sapu-sapu ciliwung memiliki protein di atas rata-rata standar industri, yaitu sebesar 32 persen. Namun, apakah hal ini membuat abon ikan sapu-sapu ciliwung menjadi salah satu sumber protein hewani yang paling aman?
Ahli kesehatan masyarakat dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menilai bahwa ikan sapu-sapu termasuk salah satu jenis pangan yang tidak disarankan untuk dikonsumsi di Australia karena kemampuan ikan ini memakan sedimen dan materi organik di dasar sungai. "Karakter ikan sapu-sapu ini sudah terbukti sejak lama. Dia itu termasuk kategori bottom feeder, ikan yang memakan sedimen dan materi organik di dasar sungai. Akumulasi kontaminannya berbahaya jika masuk ke tubuh manusia," kata Dicky.
Selain itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, juga menilai bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar seperti Sungai Ciliwung tidak layak untuk dikonsumsi karena kandungan logam beratnya. "Melihat sungai yang ada di Jakarta sudah tercemar oleh limbah industri, sehingga ikan liar yang diambil di perairan Jakarta tidak layak untuk dikonsumsi," ujarnya.
Meskipun demikian, Dicky Budiman tidak menampik hasil riset yang terbit dalam Jurnal Pengolahan Pangan ini. Menurut dia, penelitian itu memaparkan kandungan protein dari olahan daging ikan sapu-sapu yang diubah menjadi abon. "Tapi, meskipun secara nutrisi makro memperlihatkan potensi gizi yang baik atau setara bahan-bahan lainnya, ini hanya melihat dari perspektif protein atau fungsi pangan semata, sedangkan kandungan gizinya tidak serta-merta aman karena aspek keamanan pangan itu harus mempertimbangkan kontaminasi logam beratnya," ujar Dicky.
Dengan demikian, apakah abon ikan sapu-sapu ciliwung aman untuk dikonsumsi? Jawabannya masih dalam perdebatan.
Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Jurnal Pengolahan Pangan Universitas Alkhairaat Palu, abon ikan sapu-sapu ciliwung memiliki protein di atas rata-rata standar industri, yaitu sebesar 32 persen. Namun, apakah hal ini membuat abon ikan sapu-sapu ciliwung menjadi salah satu sumber protein hewani yang paling aman?
Ahli kesehatan masyarakat dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menilai bahwa ikan sapu-sapu termasuk salah satu jenis pangan yang tidak disarankan untuk dikonsumsi di Australia karena kemampuan ikan ini memakan sedimen dan materi organik di dasar sungai. "Karakter ikan sapu-sapu ini sudah terbukti sejak lama. Dia itu termasuk kategori bottom feeder, ikan yang memakan sedimen dan materi organik di dasar sungai. Akumulasi kontaminannya berbahaya jika masuk ke tubuh manusia," kata Dicky.
Selain itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, juga menilai bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar seperti Sungai Ciliwung tidak layak untuk dikonsumsi karena kandungan logam beratnya. "Melihat sungai yang ada di Jakarta sudah tercemar oleh limbah industri, sehingga ikan liar yang diambil di perairan Jakarta tidak layak untuk dikonsumsi," ujarnya.
Meskipun demikian, Dicky Budiman tidak menampik hasil riset yang terbit dalam Jurnal Pengolahan Pangan ini. Menurut dia, penelitian itu memaparkan kandungan protein dari olahan daging ikan sapu-sapu yang diubah menjadi abon. "Tapi, meskipun secara nutrisi makro memperlihatkan potensi gizi yang baik atau setara bahan-bahan lainnya, ini hanya melihat dari perspektif protein atau fungsi pangan semata, sedangkan kandungan gizinya tidak serta-merta aman karena aspek keamanan pangan itu harus mempertimbangkan kontaminasi logam beratnya," ujar Dicky.
Dengan demikian, apakah abon ikan sapu-sapu ciliwung aman untuk dikonsumsi? Jawabannya masih dalam perdebatan.