Ahli Pengadaan: Tak Boleh Ada Negosiasi Proyek di Lapangan Golf

Pengadaan di Lapangan Golf, Ini Kata Ahli Pengadaan: "Tidak Ada Negosiasi Proyek di Lapangan Golf"

Pengadaan barang dan jasa pemerintah dan BUMN memiliki prinsip-prinsip yang sama dalam proses pengadaannya. Prinsip utama adalah efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas. Ahli pengadaan, Setya Budi Arijanta, mengatakan bahwa proses negosiasi pengadaan harus diadakan di ruang resmi dan tidak dapat dilakukan di lapangan golf.

Setya juga menjelaskan bahwa seluruh peserta yang mengikuti tender harus terinformasi tentang pengadaan yang diadakan oleh pemerintah maupun BUMN, termasuk spesifikasi atau spek yang berisikan rincian atau uraian detail mengenai karakteristik produk yang sedang dilelang pengadaannya.

"Kalau itu boleh, speknya harus dibuka, Pak. Harus dibuka, semua peserta harus tahu. Ini spek yang dibutuhkan Pertamina itu apa gitu," kata Setya.

Setya juga menegaskan bahwa pihak Pertamina tidak boleh berkomunikasi secara pribadi dengan perusahaan peserta tender saat proses pengadaan berlangsung. Menurutnya, jalur komunikasi hanya boleh dilakukan melalui jalur resmi milik Pertamina dan perusahaan peserta tender seperti telepon, surat elektronik maupun pos.

"Sebenarnya apa kan ditentukan komunikasi itu pakai telepon, email, dan apa yang resmi ya. Yang ditentukan oleh panitia, Pak. Jadi komunikasinya harus, harus fair Pak dan supaya terdokumentasi harusnya, harusnya ditetapkan dulu. Komunikasi panitia itu hanya lewat ini, ini, ini gitu ya. Dan itu sudah ditetapkan di situ Pak, di ketentuannya," ujarnya.

Proses pengadaan yang dilakukan oleh pemerintah dan BUMN harus sehati hati dilaksanakan dengan transparansi dan akuntabilitas. Pengadaan di lapangan golf bukanlah cara yang tepat untuk melakukan negosiasi proyek.
 
Maksudnya kalau pengadaan di lapang golf tidak ada kesempatan untuk ngobrol dengan peserta tender, itu karena proses pengadaan harus transparan dan jelas, semua informasi tentang proyek tersebut sudah disebarkan lewat berbagai saluran. Kalau bukan begitu, mungkin hasilnya bisa dipertanyakan keaslian atau tidak.
 
Gak bisa percaya sih, pengadaan di lapangan golf? Gimana caranya bisa negosiasi proyek di tempat itu? Lagi-lagi ini kalau Pertamina mau ngambil proyek yang besar, harus ada transparansi dan akuntabilitas ya. Kalau gak sih, aja nanti ada yang terlampaui aturan aja... πŸ’ΈπŸŒοΈ
 
Saya pikir ini penting banget, pengadaan di lapangan golf itu tidak ada kebijakan yang jelas, siapa yang mengatur, siapa yang mendampingi, dan bagaimana caranya dilakukan? Saya ingat kalau di masa lalu ada skandal tentang pengadaan di lapangan golf, tapi sekarang ada aturan yang jelas, tidak bisa dilakukan lagi. Saya harap pemerintah dan BUMN terus menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam proses pengadaannya 😊.
 
GAK BISA YA!! Proses pengadaan di lapangan golf itu kayaknya tidak masuk akal, bro! Kalau negosiasi ada di tempat resmi aja, jadi semua orang tahu dan bisa melihat spesifikasi apa yang dipasang, ya? Kalau seperti ini, siapa yang tahu apakah Pertamina punya kesempatan yang sama dengan yang lain. Prosesnya harus jujur, transparan, dan tidak ada keterlibatan pribadi bro!
 
Pengaduan ini gak bisa jadi, bro! Lapang golf itu tempat bagi orang-orang kaya sih, bukan tempat ngadepkan proyek-proyek penting. Apalagi Pertamina, salah satu BUMN yang paling penting, harus berkomunikasi secara resmi ya? Itu seperti kata Setya Budi Arijanta, ahli pengadaan yang gak bisa salah sih. Proses negosiasi di lapang golf itu bikin transparansi dan akuntabilitas jadi kenyataan bro!
 
Luar aja, pengaduan di golf itu gak usah dipikirin nih πŸ€·β€β™‚οΈ. Proses pengadaan harus jelas dan transparan, tapi kalau dilakukan di lapangan golf itu nggak akan efektif 😴. Ahli pengadaan Setya Budi Arijanta benar-benar tepat dalam menolak ide tersebut πŸ™Œ. Kita harus fokus pada efisiensi dan akuntabilitas dalam proses pengadaan, bukan hanya nyaman-nyaman di lapangan golf 😊. Kalau kita mau benar-benar transparan, maka semua peserta tender harus tahu tentang spesifikasi produk yang sedang dilelang πŸ“.
 
Gue rasa si Setya bosen banget sama giliran Pertamina ini... serasa di balik layar, kayaknya mereka punya rencana sendiri aja πŸ€”. Kalau benar-benar ingin transparansi dan akuntabilitas, gak perlu ada lapangan golf, ya? Gue pikir lebih baik biaya pemerintah kita digunakan untuk sesuatu yang berguna, bukan jadi hiburan para kaya-kaya πŸ€‘.
 
Gue penasaran lho, mengapa pemerintah ngerasa harus jadi teksa di lapangan golf? Gue rasa itu sangat tidak masuk akal banget, kan? Lapangan golf itu bukan tempat kerja kita, bukan tempat untuk melakukan usaha. Jadi, kenapa kita harus tunda-tunda proses pengadaan?

Gue pikir ada kepentingan tertentu di balik ini, mungkin ada yang suka jadi teksa sih πŸ€‘. Tapi, kalau begitu, pemerintah harus jujur dulu, apa kepentingan itu? Apakah kita tidak perlu fokus pada proyek-proyek penting yang bisa membuat negara maju?

Gue rasa ini sangat tidak bijak, kita harus lebih fokus dan transparan dalam proses pengadaan. Kalau kita tidak, maka semuanya akan berantakan dan kita semua akan kehilangan uang. Gue harap pemerintah bisa jadi lebih bijak dan transparan dalam proses ini πŸ€”πŸ’‘
 
Gue pikir ini terlalu ketinggalan jaman ya, pengadaan di lapangan golf seperti permainan binatang? Mereka bilang tidak ada negosiasi, tapi apa sih maksudnya? Kalau Pertamina sudah tentukan spek dan spesifikasi produk, gue rasa harus dibuka juga. Bisa jadi ada yang ingin menawarkan harga lebih murah atau bisa jadi ada yang ingin menawarkan kualitas yang lebih baik.

Gue juga penasaran, kenapa di lapangan golf aja? Apakah karena ada kepentingan tertentu yang ingin dilindungi? Kalau benar-benar untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, maka harus ada jalur komunikasi yang jelas dan terbuka. Jadi, gue harap ahli pengadaan seperti Setya Budi Arijanta bisa memberikan klarifikasi lebih lanjut tentang ini.
 
Pengadaan di lapangan golf? Gak keren banget, bro! Proses pengadaan harus jujur dan transparan, jadi semua peserta tahu apa yang dijual. Ngomongin spek yang dibutuhkan Pertamina, kalau speknya tidak terbuka, siapa yang tahu apa yang ada di dalamnya? Gak bisa dipercaya, bro!

Dan komunikasi yang harus dilakukan, kalau hanya melalui telepon dan email aja, gak cukup, ya. Perlu dokumentasinya, jadi semua orang tahu apa yang sudah terjadi. Gak boleh seperti itu, bro! Pengadaan harus sehati hati, tidak ada rahasia-rahasia, atau kalau kalau?
 
Kalau suka main golf, pak! Tapi kalau nih ada isu tentang pengadaan pemerintah, harusnya lebih transparan sih. Kalau tidak, aku rasa semua orang tidak percaya lagi dengan pemerintah. Dan ini kalau Pertamina punya spesifikasi yang panjang, aku yakin banyak orang yang akan merasa kecewa kalau spesifikasinya tidak ada di tender. Maksudnya, jangan main-main ya! πŸ€”πŸ‘Š
 
Gue rasa sih pengadaan di lapangan golf kayaknya tidak bisa dipertimbangkan. Kalau pertamina ingin membeli sesuatu, mesti jelas sih tentang apa yang dibutuhkan dan berapa harganya. Tapi kalau kita lupa sih speknya, gimana nih kemudian kalau peserta tender itu salah pilih atau salah hitung? πŸ˜‚ Gue rasa lebih baik kita gunakan ruang resmi aja untuk negosiasi proyek, jadi semua orang tahu apa yang harus dilakukan dan tidak ada kesalahpahaman. πŸ’‘
 
Baaa, ya toh pengadaan di lapangan golf itu nggak bisa diadopsi deh πŸ™…β€β™‚οΈ. Kalau gitu berarti negosiasi punya tujuan apa sih? Nyaman nih duduk di lapangan golf sambil ngobrol aja, tidak ada hasilnya sama sekali πŸ˜‚. Dalam pengadaan itu, harus ada transparansi dan akuntabilitas, kan? Jadi semua peserta tahu spesifikasi apa yang dibutuhkan, dan tidak ada komunikasi pribadi yang bisa mempengaruhi hasilnya. Kalau itu nggak jelas, hasilnya pasti tidak optimal 😐.
 
Sudah lama aja kayaknya ada keteraturan di Lapangan Golf tentang proses pengadaan, tapi masih ada yang berkelana-kelana aja. Tapi aku paham kalau ada alasan tertentu ya, seperti ada banyak pekerja yang harus melaksanakan proyek tersebut dan pengadaan di lapangan golf lebih cepat aja. Aku rasa perlu diingatkan kembali tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam proses pengadaan itu. Kalau bisa, aku sarankan pemerintah dan BUMN agar berkomunikasi dengan para pekerja dan masyarakat setempat tentang proyek tersebut. Mungkin ada yang tidak tahu atau tidak sengaja dilupakan. Jadi, kita harus terus mengingatkannya agar semua orang tahu tentang apa yang sedang terjadi di Lapangan Golf πŸ’‘
 
Gampang aja nih! Jika ingin hasil pengadaan yang optimal, harus ada transparansi. Kalau tidak, hasilnya bakal sama seperti itu 🀯. Pertamina atau siapa pun harus jujur dan terbuka tentang spesifikasi produk yang mau dilelang. Jangan bawen-bawen aja, buka spek dan siap diskusi! πŸ’‘
 
Saya pikir ini gak bisa, siapa tahu ada rahasia di balik pengadaan di lapangan golf ya? Kalau begitu, toh bisa jadi ada konflik kepentingan atau sesuatu yang tidak sehati hati dilakukan. Saya senang melihat ahli pengadaan seperti Setya Budi Arijanta yang masih menjaga prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas di dalam proses pengadaannya. Pengadaan di lapangan golf itu gak penting, apa yang penting adalah hasilnya yang baik untuk negara dan rakyat kita.
 
omg sekali lagi siapa yang ngerasa nyaman sama pengadaan di lapang golf πŸ˜‚ kayaknya harus di jadikan contoh bagaimana tidak ada transparansi dan akuntabilitas ya? apalagi kalau Pertamina ngerasa tidak sabar sama prosesnya 🀯. tapi gimana kalau kita fokus pada hal yang penting yaitu efisiensi dan efektivitas? kira-kira di mana kita bisa jadi lebih baik dari sekarang? πŸ€”
 
Aku pikir ini penting banget! Proses pengadaan harus jujur dan terbuka, semua informasi tentang spesifikasi produk harus terbuka juga. Kalau Pertamina tidak mau berbagi spek, itu tidak masuk akal ya? Aku sudah sabar-bara dengan proses pengadaan yang teduh-teduh, tapi ini benar-benar perlu dihentikan. Kita butuh efisiensi dan efektivitas dalam pengadaan, bukan lagi ngomong-omong di lapangan golf! πŸ˜ŠπŸ‘
 
kembali
Top