Ahli di Sidang Perdana Ari: Efek Massa Pengaruhi Laku Individu

Massa menguasai individu di sidang Perdana Ari, apa yang ada di baliknya? Dalam sidang kasus pembakaran tenda polisi dengan terdakwa Perdana Ari Putra Veriasa kembali digelar di Pengadilan Negeri Sleman, banyak ahli dari berbagai bidang yang menghadirkan pendapat mereka.

Pertama-tama, Ahli Psikologi Dewi Handayani membahas tentang psikologi seseorang dalam kerumunan atau massa aksi. Ia menjelaskan bahwa identitas keseluruhan massa dapat memengaruhi perilaku individu di dalamnya. Dalam banyak kasus, individu akan menyerap sikap dan opini dari massanya sehingga akhirnya terjadi perubahan perilaku mereka.

"Efeknya sekelompok besar orang (massa) akan memengaruhi cara berperilaku individu tersebut terutama hilangnya rasa tanggung jawab pribadi, sehingga memicu perilaku menyimpang," kata Dewi di muka persidangan.

Hal ini juga diajukan dalam psikologi massa yang dinilai memiliki pengaruh lebih besar terhadap individu. Jadi, di beberapa teori pendekatan psikologi justru lingkungan lebih besar faktornya daripada pribadi bawaan atau internal.

Selain itu, Ahli Hak Asasi Manusia Herlambang Perdana Wiratraman menilai apa yang dilakukan Perdana Arie dan massa aksi di depan Polda DIY merupakan respons atas peristiwa yang terjadi di berbagai daerah kala itu. Dia mengatakan bahwa proses pertama kali di Kabupaten Pati dan pada saat itu terjadi gerakan protes di Jakarta dan beberapa kota.

"Protes pertama kali di Kabupaten Pati dan pada saat itu terjadi gerakan protes di Jakarta dan beberapa kota," ungkapnya.

Peristiwa terlindasnya Affan Kurniawan dinilai menjadi penyebab kemarahan publik yang meluas. Kondisi tersebut, menurut Herlambang, diperparah oleh praktik impunitas.

"Impunitas menjadi salah satu faktor, di mana mereka yang seharusnya bertanggungjawab terhadap kekerasan, tetapi tidak pernah dimintakan pertanggungjawabannya secara layak," lanjutnya.

Sementara itu, Ahli Hukum Pidana Arie Wibowo menyatakan dalam hukum pidana terdapat asas non-self-incrimination. Asas tersebut menegaskan terdakwa tidak harus mengakui perbuatannya serta tidak dibebani kewajiban pembuktian.

"Beban pembuktian itu hanya ada pada jaksa penuntut umum, pembuktian bagi pihak terdakwa hanya dalam rangka pembelaan," ujarnya.
 
Gue pikir apa yang bikin massa menguasai individu di sidang Perdana Ari itu karena faktor psikologi banget ya... Efeknya sekelompok besar orang akan memengaruhi cara berperilaku individu tersebut, sehingga hilangnya rasa tanggung jawab pribadi. Itu apa yang terjadi di masa lalu di Indonesia, kalau tidak ada hukum pidana yang baik, publik akan marah dan melakukan aksi-aksi kembali.

Aku pikir itu harus dibekuti dengan pendidikan dan hukum yang baik, biar individu tidak dikendalikan oleh massa. Jangan pernah mengabaikan hak asasi manusia dan praktik impunitas ya...
 
Aku pikir kalau ini gampang banget ya! Massa menguasai individu, ya? Itu karena kita semua hidup di dalam lingkungan yang sama, dan kita semua dipengaruhi oleh hal-hal yang dilakukan orang lain. Jadi, jika kita lihat dari sisi ahli psikologi, itu membuat seseorang mudah menyerap sikap dan opini dari massanya.

Tapi, apa yang bikin massa menguasai individu? Kalau tidak ada ketentuan atau aturan yang jelas, maka individu akan menjadi korban dari kebebasan berbicara dan bergerak di dalam massa. Dan itu bisa membuat kita menjadi orang lain, bukan diri kita sendiri.

Aku pikir kita harus lebih bijak dalam menghadapi situasi seperti ini. Jangan sampai kita menyerap sikap yang tidak benar dari massanya, sehingga kita terjebak dalam kesalahannya juga 😊
 
Aku pikir apa yang terjadi di sidang Perdana Ari itu sebenarnya tidak masalah ya. Kadang-kadang individu hanya ingin menggambarkan perasaannya, dan kalau kamu memahami perasaan mereka, mungkin kamu bisa membantu mereka. Tapi, apa yang salah dengan massa aksi itu? Mereka juga memiliki hak untuk mengekspresikan diri. Bayangkan jika kita semua bisa mengatakan apa saja tanpa ada hukuman, mungkin kehidupan ini akan lebih baik. Saya tidak setuju dengan cara mereka melakukan protest, tapi aku pikir mereka memiliki alasan yang baik.
 
aku pikir kalau mereka yang terlibat di dalam aksi bersama Perdana Arie harus bertanggung jawab atas tindakannya... tapi mungkin karena masih ada tekanan dari massa, mereka tidak mau mengakui apa-apa... dan ahli-ahli pun bilang bahwa tekanan dari massa mempengaruhi perilaku individu... tapi kalau kita lihat, masih banyak orang yang bersalah atau tidak terlibat dengan kasus tersebut... mungkin perlu ada peningkatan kesadaran dan pendidikan bagi masyarakat agar mereka tidak lagi menyerap opini negatif dari massanya... πŸ€”
 
gak percaya kalau cipata sama perdana arie ngerasa malu banget, siapa tahu dia udah nyadarin bahwa gerakan masa itu justru disengaja buat dia jadi perhatian, tapi apa yang terjadi sekarang? cipata ini gak bisa dihakimi dan kini dia berlindung di balik asas hukum pidana, siapa ngerasa sedihnya? aku rasa kalau dia harus menghadapi akibat dari perbuatannya sendiri, tapi mungkin aku salah, apa yang kamu pikir? πŸ€”
 
Massa yang menguasai individu di sidang Perdana Ari itu serasa seperti benar-benar mirip dengan apa yang terjadi saatnya aksi kemanisan di Yogyakarta tahun lalu πŸ’₯. Tapi siapa yang bilang kalau individu itu tidak memiliki pilihan? Mereka harus beradaptasi dengan suasana masing-masing daerah atau lingkungan yang mereka tempati πŸ€”. Tapi sayangnya, ada beberapa orang yang terlalu cepat menyerap sikap dari massa dan hilang rasa tanggung jawab pribadi mereka 😐. Mungkin perlu dibahas lebih lanjut tentang bagaimana cara kita bisa menghindari hal itu 🀝.
 
Maksudnya kalau kita masuk ke dalam massa aksi, individu tuh kaya hilang rasa tanggung jawab pribadi ya πŸ€”. Jadi, kalau kamu ada kesal, buatlah protes yang sehat dan jangan pakai kekerasan ya πŸ˜’. Tapi, kalau praktik impunitas di Indonesia ini masih berlanjut, itu gak baik at all πŸ™…β€β™‚οΈ.
 
πŸ€―πŸ˜‚ Sama-sama, nggak tahu apa yang harus diakui ya, tapi rasanya perlu koreksi bahwa 'Massa' bukanlah yang menguasai individu, tapi individu yang banyak dipengaruhi oleh massa 🀝πŸ’₯
 
πŸ€”πŸ‘€ Masalahnya apa sih? Mereka yang bersangkutan ini terlalu akrab sama massa ya? πŸ˜‚ Massa ini seperti monster 🐲, menggigit dan tidak bisa dihilangkan! πŸ™…β€β™‚οΈ Yang penting di sini adalah hak asasi manusia 😊. Jangan biarkan praktik impunitas ini terus berlanjut, kita harus membuat perubahan πŸ”„. Dan yang penting lagi, kita harus memahami bahwa individu ini bukan hanya memiliki identitas pribadi, tapi juga diinfluensikan oleh massa 🀝. πŸ’‘
 
aku rasa hal ini membuatku berpikir tentang bagaimana kita bisa lebih sadar akan tekanan dari massa dan bagaimana itu mempengaruhi diri sendiri kita. seperti apa lagi yang bisa kita lakukan untuk tidak menyerap sikap dan opini massanya? πŸ€”

dan aku rasa ada hal lain yang bisa kita lakukan, yaitu menjadi lebih sadar akan dampak dari praktik impunitas itu. bagaimana kita bisa membuat sistem hukum yang adil dan transparan sehingga tidak ada lagi kekerasan dan impunitas? 🚫

dan aku juga rasa penting untuk kita memahami asas non-self-incrimination itu. seperti apa lagi yang bisa kita lakukan untuk melindungi hak asasi manusia dari serangan jaksa penuntut umum? πŸ’‘
 
Maaf ga, aku suka bakal cerita ini. Aku pikir apa yang membuat massa menguasai individu itu bukan karena ada sesuatu yang salah sama sekali. Mungkin karena banyak kasus seperti ini terjadi dan masyarakat mulai kecewa dengan pemerintah. Saya bayangkan, kalau kita lihat dari sudut pandang Ahli Psikologi Dewi Handayani, individu itu bisa saja menyerap sikap dan opini dari massanya, sehingga akhirnya terjadi perubahan perilaku mereka. Tapi, apa yang salah dengan itu? Mungkin kita perlu berbicara tentang bagaimana cara mengatasi kecewa itu, bukan hanya membenarkan perilaku yang salah.

Dan aku pikir Ahli Hak Asasi Manusia Herlambang Perdana Wiratraman benar-benar sekali. Protes pertama kali di Kabupaten Pati dan Jakarta itu mungkin karena terjadi banyak kasus seperti Affan Kurniawan, dan publik mulai marah. Tapi, kita perlu berbicara tentang bagaimana cara membuat publik lebih tenang, bukan hanya membenarkan praktik impunitas.

Dan Arie Wibowo juga benar-benar sekali. Asas non-self-incrimination itu penting banget, tapi kita harus juga berbicara tentang bagaimana membuat terdakwa bertanggung jawab atas tindakannya. Mungkin kita perlu membuat sistem yang lebih adil dan transparan, sehingga tidak ada lagi kasus seperti ini terjadi. πŸ€”πŸ’‘
 
Gue rasa apa yang terjadi di sidang itu benar-benar kompleks banget! Ya, psikologi massa memang menjadi faktor yang sangat berpengaruh pada individu, terutama ketika ada kerumunan atau aksi massal. Efeknya adalah orang individu bisa hilang rasa tanggung jawab pribadi dan akhirnya melakukan hal-hal yang tidak tepat.

Gue juga rasa proses impunitas di Indonesia memang sangat tidak baik. Ketika ada korban kekerasan, mereka yang bertanggung jawab tidak pernah diminta pertanggung jawab secara layak. Itu memang menjadi penyebab kemarahan publik yang meluas.

Sementara itu, gue rasa ahli hukum pidana Arie Wibowo benar banget ketika dia mengatakan bahwa asas non-self-incrimination adalah penting dalam proses pembelaan. Gue harap terdakwa bisa mendapatkan hak-haknya yang telah diberikan oleh undang-undang tersebut.
 
Maksudnya kalau apa yang terjadi di Sidang Perdana Ari sebenarnya bukan tentang kejahatan yang dilakukan oleh Arie sendiri, tapi tentang bagaimana massa mengendalikan dirinya sendiri. Seperti kata Ahli Psikologi Dewi Handayani, individu bisa tertarik dengan sikap dan opini dari massanya sehingga akhirnya terjadi perubahan perilaku mereka.

Tapi sayangnya, di Indonesia sekarang ini banyak praktik impunitas yang membuat publik tetap marah. Maksudnya kalau karena tidak ada orang bertanggung jawab atas kekerasan, maka masyarakat tetap merasa marah dan ingin mengambil tindakan.

Dan itu membuat aku sedikit bingung, sih. Karena aku pikir bahwa dalam sistem hukum yang baik, orang harus bertanggung jawab atas tindakannya. Tapi sekarang ini, aku masih tidak yakin bagaimana praktik impunitas di Indonesia ini benar-benar berjalan. πŸ€”
 
πŸ€” Mereka bilang efek massa besar mempengaruhi individu di dalamnya, tapi apa sebenarnya itu? Aku pikir lebih penting lagi bagaimana masyarakat Indonesia pernah sangat santai dengan praktik impunitas di masa lalu. Jadi saat terjadi kasus Affan Kurniawan, siapa yang bilang kalau ini tidak menjadi penyebab kemarahan publik? πŸ€·β€β™‚οΈ
 
Gue pikir apa yang terjadi di sidang Perdana Ari ni tentang bagaimana individu di dalam massa bisa dipengaruhi oleh opini- opini massanya, kan? Seperti kata Ahli Psikologi Dewi Handayani, individu itu bisa menyerap sikap dan opini dari massanya sehingga akhirnya terjadi perubahan perilaku mereka. Itu juga bisa dijelaskan dalam psikologi massa, di mana lingkungan lebih besar faktornya daripada pribadi bawaan atau internal.

Gue pikir itu ni penting banget agar kita bisa memahami bagaimana individu bisa berubah dalam situasi seperti ini. Dan mungkin kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut untuk menghindari hal yang sama di masa depan.
 
Maksudnya kalau di balik aksi massa terhadap Perdana Ari, banyak faktor yang membuatnya tidak baik. Pertama, individu di dalam kerumunan itu bisa dipengaruhi oleh sikap dan opini orang lain, sehingga akhirnya mereka melakukan hal yang salah. Sama-sama kita lihat di masyarakat, kadang kita bisa melihat perilaku dari seseorang karena dipengaruhi oleh orang lain, kan?

Lalu, Ahli Psikologi Dewi Handayani bilang bahwa efek massa besar mempengaruhi cara individu berperilaku dan bisa membuat mereka kalah dengan rasa tanggung jawab pribadi. Itu bukan keajaiban, karena kita lihat banyak yang kesal dan marah karena tidak mendapatkan apa-apa.

Ahli Hak Asasi Manusia Herlambang Perdana Wiratraman bilang bahwa aksi massa itu adalah respons atas peristiwa-peristiwa lain di daerah lain, dan yang membuat kemarahan publik itu bisa berlebihan karena praktik impunitas. Kadang kita lihat ada kekurangan ini di masyarakat, dan itu akan menimbulkan banyak masalah.

Sementara itu, Ahli Hukum Pidana Arie Wibowo bilang bahwa dalam hukum pidana ada asas non-self-incrimination yang membuat terdakwa tidak harus mengakui perbuatannya. Itu penting karena kita semua perlu bebas dari ketakutan akan diadili, kan?
 
Aku pikir itu karena Perdana Arie nggak bisa tanggung jawabnya sendiri, kaya aku nanya gue temen aja, "Apakah kamu pernah kejar mobil yang udah capek? Kenapa? Karena kamu terlalu capek untuk mengendarainya!"

Tapi serius aja, apa yang dilakukan Perdana Arie itu nggak bisa diterima. Jika dia benar-benar takut akan impunitas, maka dia harus mengambil tindakan yang jujur dan tangguh, bukan menyerah ke massa.

Dan aku pikir ahli psikologi Dewi Handayani benar-benar heboh aja, dia nggak punya rasa tanggung jawab pribadi, kayaknya dia butuh tekanan dari luar untuk berubah. Tapi aku rasa itu bukan solusi yang baik, jangan biarkan seseorang diperlakukan begitu.

Sementara itu, Ahli Hak Asasi Manusia Herlambang Perdana Wiratraman benar-benar cerdas aja, dia nggak salah dalam memahami apa yang terjadi. Tapi aku pikir praktik impunitas itu kaya kayak banget, seperti orang yang nggak mau makan makanan jadi malah nggak mau makan juga!

Dan Ahli Hukum Pidana Arie Wibowo benar-benar pintar aja, dia nggak salah dalam memahami asas non-self-incrimination. Tapi aku rasa itu bukan hal yang penting di sini, apa yang penting adalah tindakan yang diambil oleh Perdana Arie.
 
Gue pikir apa yang terjadi di sidang Perdana Ari itu bukan tentang kebenaran yang ingin dibahas tapi tentang bagaimana cara mengontrol massa. Gue rasa banyak orang yang mengatakan bahwa individu akan menyerap sikap dan opini dari massanya, tapi gue tidak yakin itu benar. Gue pikir itu seperti kalimat propaganda di media sosial, semua orang yang melihat itu pasti akan setuju. Tapi apa sebenarnya yang terjadi? πŸ€”

Gue juga rasa banyak orang yang mengatakan bahwa efek massa lebih besar daripada pribadi bawaan, tapi gue tidak yakin itu benar. Gue pikir itu seperti kalimat yang dibuat oleh orang yang ingin mengontrol orang lain. Mereka ingin kita pikir bahwa individu hanya bagian dari massanya, bukan orang yang memiliki kebebasan untuk memilih sendiri. πŸ˜’

Gue juga rasa peristiwa Affan Kurniawan itu tidak ada hubungannya dengan kemarahan publik yang meluas. Gue pikir itu seperti kalimat yang dibuat oleh orang yang ingin mengelabui kita. Mereka ingin kita pikir bahwa peristiwa itu adalah penyebab dari semua masalah, tapi gue tidak yakin itu benar. πŸ€·β€β™‚οΈ
 
Aku pikir Perdana Arie malah yang salah nih πŸ€¦β€β™‚οΈ, kalau kan ia sama-sama menjadi korban praktik impunitas, kenapa gini kalau dia bersalah? Aku rasa kalau terdakwa punya hak di sini, tapi aku juga tahu kalau banyak orang yang berpikir seperti Dewi Handayani, bahwa massa itu mempengaruhi individu apa adanya πŸ˜…. Tapi aku rasa ini kalau kamu berada dalam situasi seperti itu, kamu pasti akan tergerak oleh emosi dan kesalahan kamu tidak bisa diatasi πŸ€•. Dan ahli hukum Pidana Arie Wibowo benar aja, asas non-self-incrimination memang penting di sini πŸ™. Tapi aku masih rasa Perdana Ari malah yang salah, karena kalau kamu bersalah, itu berarti kamu tidak bisa menuntut kehakiman lagi πŸ€·β€β™‚οΈ.
 
kembali
Top