Kasus wartawan Filipina Frenchie Mae Cumpio yang divonis penjara 12 tahun karena dituduh mendanai terorisme, menurut sumber-sumber HAM, merupakan hasil rekayasa dan bukan keadilan. Banyak organisasi independen menilai bahwa kasus ini dilakukan untuk "membungkam suara-suara kritis" seperti Frenchie Mae. Kasus ini adalah contoh dari serangan terhadap aktivis dan jurnalis, yang juga menunjukkan pola penegakan hukum yang tidak adil di Filipina.
Frenchie Mae Cumpio sebelumnya telah dibui tanpa pengadilan selama enam tahun, di mana ia terkantung-kantung di penjara tanpa adili sama sekali. Namun, setelah keputusan tertentu dari pengadilan, vonis terhadap Frenchie Mae diberikan, yang lebih sedikit daripada hukuman maksimal yang dilayangkan kepada pasal-pasal yang dia hadapi.
Fenreie Mae sendiri telah menyatakan bahwa senjata api dan granat yang ada di kamarnya adalah bukti yang sengaja dibuat oleh polisi, sedangkan uang yang dipersoalkan jaksa adalah dana sumbangan dari sebuah kampanye publik. Tuduhan terhadap Frenchie Mae telah dicabut oleh jaksa.
Kelompok hak asasi manusia menyebut kasus ini sebagai contoh dari kehilangan kebebasan dan keadilan bagi wartawan dan aktivis di Filipina, yang seringkali menghadapi penangkapan di luar hukum dan penagihan bukti palsu. Menurut direktur komite perlindungan jurnalis Asia-Pasifik, kasus ini merupakan contoh dari upaya pemerintah Filipina untuk membungkam suara-suara kritis.
"Putusan yang tidak masuk akal ini menunjukkan bahwa berbagai janji yang dibuat oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr. untuk menegakkan kebebasan pers hanyalah omong kosong belaka," katanya.
Organisasi-organisasi independen seperti Altermidya dan Asosiasi Perempuan Internasional di Radio dan Televisi Filipina juga mengutuk vonis tersebut sebagai "matinya keadilan" dan menilai bahwa kasus ini sudah direkayasa.
Frenchie Mae Cumpio sebelumnya telah dibui tanpa pengadilan selama enam tahun, di mana ia terkantung-kantung di penjara tanpa adili sama sekali. Namun, setelah keputusan tertentu dari pengadilan, vonis terhadap Frenchie Mae diberikan, yang lebih sedikit daripada hukuman maksimal yang dilayangkan kepada pasal-pasal yang dia hadapi.
Fenreie Mae sendiri telah menyatakan bahwa senjata api dan granat yang ada di kamarnya adalah bukti yang sengaja dibuat oleh polisi, sedangkan uang yang dipersoalkan jaksa adalah dana sumbangan dari sebuah kampanye publik. Tuduhan terhadap Frenchie Mae telah dicabut oleh jaksa.
Kelompok hak asasi manusia menyebut kasus ini sebagai contoh dari kehilangan kebebasan dan keadilan bagi wartawan dan aktivis di Filipina, yang seringkali menghadapi penangkapan di luar hukum dan penagihan bukti palsu. Menurut direktur komite perlindungan jurnalis Asia-Pasifik, kasus ini merupakan contoh dari upaya pemerintah Filipina untuk membungkam suara-suara kritis.
"Putusan yang tidak masuk akal ini menunjukkan bahwa berbagai janji yang dibuat oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr. untuk menegakkan kebebasan pers hanyalah omong kosong belaka," katanya.
Organisasi-organisasi independen seperti Altermidya dan Asosiasi Perempuan Internasional di Radio dan Televisi Filipina juga mengutuk vonis tersebut sebagai "matinya keadilan" dan menilai bahwa kasus ini sudah direkayasa.