Pemerintah Filipina menuntut seniman dan aktivis Frenchie Mae Cumpio, yang dipenjara selama enam tahun tanpa pengadilan, mendanai terorisme. Penuntutan ini diterima oleh jaksa sebagai pelanggaran hukum, tetapi telah menimbulkan kontroversi di kalangan kelompok hak asasi manusia dan komunitas jurnalis.
Menurut direktur Komite Perlindungan Jurnalis Asia-Pasifik, Beh Lih Yi, vonis Cumpio adalah hasil dari "rekayasa" yang dilakukan oleh pemerintah untuk menekan suara-suara kritik. Ia menyatakan bahwa vonis ini adalah contoh dari upaya pemerintah Filipina untuk membungkam aktivis dan jurnalis.
Kelompok HAM juga menolak tuduhan tersebut, mengatakan bahwa kasus Cumpio merupakan "pembunuhan" yang dilakukan oleh pemerintah. Mereka berpendapat bahwa vonis ini adalah hasil dari "proses hukum yang tidak adil".
Frenchie Mae Cumpio sendiri telah menyatakan bahwa senjata api dan granat yang ada di kamarnya adalah bukti yang sengaja dibuat-buat oleh polisi. Ia juga menolak tuduhan pembunuhan, yang sebelumnya diajukan oleh jaksa.
Kasus Cumpio menimbulkan kontroversi di kalangan komunitas jurnalis dan kelompok HAM, yang menyatakan bahwa dia diperlakukan secara "tidak manusiawi" selama dipenjara tanpa pengadilan. Mereka juga berpendapat bahwa vonis ini adalah hasil dari "proses hukum yang tidak adil".
Pemerintah Filipina telah menolak anggapan bahwa tuduhan yang diajukan kepada Cumpio adalah tuduhan palsu, namun beberapa orang berpendapat bahwa kasus ini adalah contoh dari "red-tagging" yang dilakukan oleh pemerintah.
Menurut direktur Komite Perlindungan Jurnalis Asia-Pasifik, Beh Lih Yi, vonis Cumpio adalah hasil dari "rekayasa" yang dilakukan oleh pemerintah untuk menekan suara-suara kritik. Ia menyatakan bahwa vonis ini adalah contoh dari upaya pemerintah Filipina untuk membungkam aktivis dan jurnalis.
Kelompok HAM juga menolak tuduhan tersebut, mengatakan bahwa kasus Cumpio merupakan "pembunuhan" yang dilakukan oleh pemerintah. Mereka berpendapat bahwa vonis ini adalah hasil dari "proses hukum yang tidak adil".
Frenchie Mae Cumpio sendiri telah menyatakan bahwa senjata api dan granat yang ada di kamarnya adalah bukti yang sengaja dibuat-buat oleh polisi. Ia juga menolak tuduhan pembunuhan, yang sebelumnya diajukan oleh jaksa.
Kasus Cumpio menimbulkan kontroversi di kalangan komunitas jurnalis dan kelompok HAM, yang menyatakan bahwa dia diperlakukan secara "tidak manusiawi" selama dipenjara tanpa pengadilan. Mereka juga berpendapat bahwa vonis ini adalah hasil dari "proses hukum yang tidak adil".
Pemerintah Filipina telah menolak anggapan bahwa tuduhan yang diajukan kepada Cumpio adalah tuduhan palsu, namun beberapa orang berpendapat bahwa kasus ini adalah contoh dari "red-tagging" yang dilakukan oleh pemerintah.