Warga RI Ramai Kumpul Kebo, Wilayah Ini Paling Banyak

Di Indonesia, kumpul kebo semakin marak di kalangan warga yang memilih untuk tinggal bersama pasangan tanpa menjadi suami istri. Fenomena ini sering kali dipandang sebagai alternatif lebih murni dari pernikahan.

Menurut peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yulinda Nurul Aini, 'kumpul kebo' banyak terjadi di wilayah bagian Timur, khususnya di Manado. Penelitian tersebut menemukan bahwa 0,6 persen penduduk kota Manado melakukan kohabitasi.

Pasangan yang memilih untuk kumpul kebo memiliki profil demografis tertentu, seperti berusia kurang dari 30 tahun, tidak bekerja secara formal, dan memiliki pendidikan SMA atau lebih rendah. Selain itu, 53,5 persen di antara mereka bekerja secara informal.

Namun, fenomena kumpul kebo juga memiliki dampak negatif bagi perempuan dan anak. Dalam konteks ekonomi, tidak ada jaminan keamanan finansial bagi anak dan ibu. Selain itu, 'kumpul kebo' dapat menurunkan kepuasan hidup dan masalah kesehatan mental.

Data Pendataan Keluarga 2021 (PK21) menunjukkan bahwa sebanyak 69,1 persen pasangan kohabitasi mengalami konflik dalam bentuk tegur sapa, pisah ranjang, atau pisah tempat tinggal. Anak-anak yang lahir dari hubungan kohabitasi juga cenderung mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan, kesehatan, dan emosional.

Menurut Yulinda, 'kumpul kebo' dapat menyebabkan anak mengalami kebingungan identitas dan memiliki perasaan tidak diakui karena adanya stigma dan diskriminasi terhadap status 'anak haram'. Hal ini dapat membatasi mereka untuk menempatkan diri dalam struktur keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.
 
Gue rasa fenomena kumpul kebo ini bukanlah pilihan yang tepat untuk banyak orang. Ya, kalau gak ada masalah keuangan, gak ada istri yang ngeremehin, kenapa gak pilih kumpul kebo? Tapi, kalo kita lihat dari sisi anak-anak, itu memang bukan cerita yang enak. Mereka harus mengalami stigmaku dan perasaan tidak diakui karena status 'anak haram'. Itu memang membuat mereka merasa tidak nyaman dalam masyarakat. Gue rasa lebih baik kalo kita fokus pada mencari solusi untuk masalah keuangan dan lingkungan yang sebenarnya, bukan cari pilihan yang mudah tapi tidak baik 🤔
 
Mereka yang memilih kumpul kebo itu sendiri, siapa yang salah? Tapi, apa kata kita kalau anak-anak dari pasangan kohabitasi itu saja yang merasa tidak diakui? Kalau mereka yang hidup bersama orang tua atau keluarga lain, apa lagi? Jadi, aku pikir yang penting adalah bagaimana kita bisa memastikan keamanan dan hak-hak mereka, bukan memecat statusnya. 🤔
 
Gue rasa kumpul kebo itu bikin masalah yang agak parah banget ya... sih, aku punya kakak angkat kebo sama adiknya, tapi gue malah takut untuk mengakui bahwa dia adalah ayahku lho... aku juga pernah memiliki hubungan dengan teman masa sekolah yang kohabitasi, tapi aku jatuh cinta sama orang lain dan pilih untuk menikah bukan kohabitasi. Aku rasa anak-anak dari hubungan kohabitasi itu mungkin memang mengalami masalah kebingungan identitas, tapi gue pikir ada solusi banget ya... misalnya dengan melakukan pendidikan yang lebih baik dan memberikan anak-anak dari hubungan kohabitasi kesempatan untuk mengikuti program-program yang sama dengan anak-anak dari keluarga konvensional.
 
ini benar, kumpul kebo sering kali dipandang sebagai alternatif lebih murni dari pernikahan, tapi sebenarnya apa yang dilakukan pasangan ini? hanya sekedar hidup bersama tanpa tanggung jawab... 🤔
dan siapa yang tahu apa yang menjadi motivasi mereka? apakah benar-benar ada yang memilih kumpul kebo karena ingin lebih bebas atau hanya karena tidak mau bertanggung jawab dalam hubungan? 🙄
dan anehnya, pasangan ini juga memiliki dampak negatif bagi perempuan dan anak... apa yang bisa diharapkan dari mereka? apakah mereka juga punya keluarga sendiri? tapi sepertinya tidak ada jawaban... 😐
 
kumpul kebo gini bikin banyak masalah, tapi juga aku penasaran kenapa orang-orang punya ide seperti itu 😕 apa lagi kalau anak-anaknya terkena dampak negatif seperti ini? seharusnya lebih banyak yang berpikir tentang masa depan mereka, bukan hanya kepuasan sekarang 🤔 dan bagaimana caranya masyarakat bisa lebih peduli dengan keluarga yang kohabitasi, atau apakah itu salah strategi untuk mengatasi masalah lainnya? kalo tidak ada solusi maka aku rasa lebih baik kalau orang-orang tidak melakukan hal seperti ini lagi 🙅‍♂️
 
kumpul kebo ini kayaknya tidak terlalu baik deh, bikin perempuan dan anak merasa tidak stabil sih. kalau aku bisa memilih aja, aku jadikan pasangannya dengan cara yang lebih formal, bukan kohabitasi. dan apa salahnya kalau pasangan itu mengalami konflik? seharusnya mereka belajar untuk berkomunikasi dan masalahnya terpecahkan. tapi aku rasa kumpul kebo ini lebih dari sekedar alternatif pernikahan, tapi juga bikin perempuan dan anak merasa tidak diakui sebagai anggota keluarga yang formal.
 
kembali
Top