Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arief Havas Oegroseno mengungkapkan bahwa dalam proses pembentukan Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BOP) di Davos, Swiss, terdapat perwakilan Palestina yang hadir. Menurutnya, perwakilan tersebut berasal dari kalangan teknokrat dan diberi panggung untuk menyampaikan orasi.
"Hampir semua teknokrat itu ada di dalam forum ini, jadi ada orang Palestina yang bicara, itu teknokrat dari Palestina, mereka yang akan menjadi orang yang melaksanakan beberapa programnya nanti," kata Arief Havas. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada perwakilan dari Hamas yang hadir dalam proses perumusan BOP, tetapi hanya otoritas pemerintah setempat.
Arief Havas menjelaskan bahwa BOP menjadi solusi nyata dalam perdamaian Palestina karena dalam proses perumusannya diinisiasi oleh negara Timur Tengah. Sedangkan, Trump yang notabene adalah 'negara barat' hanya menjadi fasilitator dalam proses pembentukan BOP.
"Ini kan dari diskusi awalnya datang dari negara-negara Timur Tengah. Dan sekarang negara-negara Timur Tengah, Turki, Pakistan jadi anggotanya," ungkapnya. Ia juga menyampaikan bahwa para anggota BOP termasuk Indonesia memiliki hak dan peranan yang sama dalam berorganisasi.
"Di situ anggota itu punya hak yang sama ya. Jadi tidak hanya Indonesia, tapi juga negara-negara Timur Tengah yang lain itu punya posisi apa namanya suara yang sama. Begitu, dan kita juga bisa menyampaikan keberatan kalau kita tidak sesuai dengan kepentingan yang ada," terangnya.
Sebagai bagian dari BOP, Palestina memiliki hak untuk merencanakan pembangunan dalam negeri dari krisis konflik yang hingga kini berlangsung. Nantinya program-program Palestina tersebut akan disesuaikan dengan rencana kerja BOP ke depan.
"Tapi ada sejumlah wakil dari teknokratik Palestina disepakati nanti akan menjadi bagian buat sama program-programnya begitu," katanya.
"Hampir semua teknokrat itu ada di dalam forum ini, jadi ada orang Palestina yang bicara, itu teknokrat dari Palestina, mereka yang akan menjadi orang yang melaksanakan beberapa programnya nanti," kata Arief Havas. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada perwakilan dari Hamas yang hadir dalam proses perumusan BOP, tetapi hanya otoritas pemerintah setempat.
Arief Havas menjelaskan bahwa BOP menjadi solusi nyata dalam perdamaian Palestina karena dalam proses perumusannya diinisiasi oleh negara Timur Tengah. Sedangkan, Trump yang notabene adalah 'negara barat' hanya menjadi fasilitator dalam proses pembentukan BOP.
"Ini kan dari diskusi awalnya datang dari negara-negara Timur Tengah. Dan sekarang negara-negara Timur Tengah, Turki, Pakistan jadi anggotanya," ungkapnya. Ia juga menyampaikan bahwa para anggota BOP termasuk Indonesia memiliki hak dan peranan yang sama dalam berorganisasi.
"Di situ anggota itu punya hak yang sama ya. Jadi tidak hanya Indonesia, tapi juga negara-negara Timur Tengah yang lain itu punya posisi apa namanya suara yang sama. Begitu, dan kita juga bisa menyampaikan keberatan kalau kita tidak sesuai dengan kepentingan yang ada," terangnya.
Sebagai bagian dari BOP, Palestina memiliki hak untuk merencanakan pembangunan dalam negeri dari krisis konflik yang hingga kini berlangsung. Nantinya program-program Palestina tersebut akan disesuaikan dengan rencana kerja BOP ke depan.
"Tapi ada sejumlah wakil dari teknokratik Palestina disepakati nanti akan menjadi bagian buat sama program-programnya begitu," katanya.