Wamenhaj Minta Calon Petugas Haji Copot Gelar, Ini Alasannya

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak meminta para peserta pendidikan dan pelatihan (diklat) calon petugas haji 2026 untuk mencopot gelar yang dimiliki saat menjalani diklat dan ketika bertugas di Tanah Suci. Ia menekankan bahwa status sosial mereka harus "diputihkan".

Gelar akademik, jabatan, bahkan pangkat tinggi tidak berlaku lagi saat mereka mengenakan seragam petugas haji. Itulah filosofi yang ingin Wamenhaj sampaikan kepada para peserta diklat. Dia mengingatkan bahwa di Arab Saudi, hierarki yang berlaku adalah hierarki pelayanan, bukan hierarki sosial.

Wakil Menteri itu juga menekankan pentingnya konsep "Satu Keluarga" dalam menyelenggarakan haji. Ia mengatakan bahwa di sini, para pejabat dan guru besar harus bersatu dan tidak memandang latar belakang, karena mereka adalah saudara seperjuangan.

Dengan demikian, Wamenhaj berharap koordinasi di lapangan saat puncak haji berjalan lebih cair dan responsif, semata-mata demi kenyamanan jamaah. Dia yakin bahwa dengan mengubur "ego keakuan", para pejabat dan guru besar dapat bekerja sama yang lebih baik dan memberikan layanan yang lebih baik kepada jemaah haji.

"Kita semua berkumpul di sini sebagai satu keluarga, yaitu keluarga petugas haji. Di luar nanti mereka punya pangkat masing-masing, tapi di sini ketika kita bertugas bareng-bareng, kita satu keluarga," katanya.

Dengan demikian, Wamenhaj berharap bahwa para pejabat dan guru besar dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada jemaah haji dan meningkatkan keselamatan mereka saat melakukan ibadah umat Islam.
 
aku rasa ini penting banget! kalau gak ada kesatuannya di antara pejabat dan guru besar, maka kerjasama dalam menyelenggarakan haji jadi kacau banget! aku harap mereka bisa bekerja sama lebih baik, tanpa perbedaan status sosial, sehingga semua jamaah bisa merasa nyaman dan aman saat melakukan ibadah. kalau gak demikian, maka kita itu malah membuat masalah yang jadi besar! 😊🙏
 
ini kalau aja di luar nanti pejabat haji bisa punya pangkat masing-masing tapi di sini bareng-bareng kita satu keluarga ari 🤝 wamenhaj ini benar-benar keren banget! mereka punya filosofi yang jujur dan benar-benar ngebut sama konsep "Satu Keluarga" di tanah suci. aku yakin ini bikin puncak haji tahun depan lebih cair dan responsif, semata-mata demi kenyamanan jamaah. aku senang banget sih bahwa wamenhaj berharap para pejabat dan guru besar bisa bekerja sama yang lebih baik 🤝
 
gampangnya aja, siapa tau di luar nanti kita bisa buat sistem haji yang lebih efisien dan ramah, misalnya dengan menggunakan teknologi seperti aplikasi untuk memudahkan koordinasi dan layanan kepada jamaah haji 📱. tapi apa yang penting adalah kita semua bersatu dan bekerja sama sebagai satu keluarga, tidak peduli pangkat atau jabatan kita 👫💯.
 
Gue pikir kalau ini salah strategi ya, membuat pejabat haji harus "diputihkan" kembali seperti sebelumnya... gue rasa kalau ini hanya memberikan keuntungan bagi orang yang sudah punya posisi tertinggi, tapi apa keuntungannya bagi pejabat-pjeabat di bawahnya? Gue rasa kalau ini akan membuat kerumitan dalam sistem haji semakin berat...
 
gampang banget ya! kalau mau bekerja sama bareng-bareng saja, kenapa perlu ada status sosial? aku pikir ini paling keren! kalau kita semua berlaku sama-sama tanpa perbedaan apa pun, maka kita bisa berbagi kebaikan dan bantu jemaah haji dengan lebih baik. aku yakin itu yang membuat ibadah umat Islam semakin harmonis dan nyaman.
 
aku pikir ini yang penting buat kita semua, kalo kita mau jadi saudara di dalam hati, tidak peduli dari mana asalnya, kita harus bisa bekerja sama dengan baik, dan menghilangkan ego kita sendiri, kayaknya bikin haji menjadi lebih nyaman dan aman bagi jamaah, aku rasa ini yang penting buat kita Indonesia, kita harus belajar dari contoh Wamenhaj, jangan ada hierarki sosial di dalam diklat, semua sama-sama saudara! 💖
 
aku rasa ini salah tujuan kan, harusnya bukannya kita fokus pada memperhatikan kesejahteraan para jamaah haji bukan membatasi status sosial mereka 🤔. aku tidak tahu kenapa di sini ada kebutuhan untuk "mengubur ego" dan "diputihkan", mungkin kalau di Arab Saudi ya bisa, tapi di Indonesia gampangnya tidak bisa terjadi di mana-mana, kan? 🙅‍♂️. aku rasa wajib kita lebih fokus pada keamanan dan kenyamanan para jamaah haji, bukan memakai seragam yang "diputihkan" aja tapi apa yang sebenarnya penting adalah layanan yang baik dan pelayanan yang efektif. 🙏
 
ini kabar gembira banget! aku pikir si Dahnil Anzar Simanjuntak itu benar-benar bijaksana. dia ingin para pejabat haji tidak dipandang berdasarkan status sosial, tapi lebih fokus pada kebaikan dan pelayanan kepada jamaah. itu yang di butuhkan saat ini, ketika kita semua harus bekerja sama untuk membuat haji menjadi semakin sukses. aku setuju dengan konsep "Satu Keluarga" yang dia jalankan, kita semua harus bisa bersatu dan tidak memandang latar belakang. itu yang akan membuat haji 2026 menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi jamaah 🙏💯
 
Gak usah ngombalkan dulu siapa aja, kalau mau berpakaian sopan di Tanah Suci kayaknya harus mulai dari diri sendiri. Merekapalah kalo ada yang masih ngomong ngekspreskan latar belakangnya saat diikuti diklat? Gak usah bawa kekejadian keluarga atau apa aja yang bikin jadi kesan. Yang penting nantinya mereka bisa bekerja sama yang lebih baik, kayaknya kayak banget ya 🙏
 
ini gue pikir kalau itu filosofi yang tepat, tapi kadang bikin kita penasaran siapa yang diakui sebagai "satu keluarga" itu kayaknya? kayaknya harus bisa dilihat di lapangan, bukan hanya kata-kata. dan apa sih itu konsep "diputihkan" itu? itu buat siapa aja? gue rasa lebih penting lagi ya kalau kita fokus pada keselamatan jamaah haji, bukan hanya status sosialnya 🤔
 
Gini aja, kalau kita jadi petugas haji, kita harus siap untuk "diputihkan" status sosial kita 😂. Maksudnya apa? Artinya kita harus bisa berubah-ubah sesuai situasi, seperti di Tanah Suci, gelar dan pangkat kita tidak berlaku lagi 🤯. Tapi aku rasa ini juga bisa diinterpretasikan sebagai kesempatan bagus untuk kita bersatu dan bekerja sama sebelumnya 🌟. Jadi, kalau Wamenhaj ingin kita "mengubur ego keakuan", itu berarti kita harus bisa melepas perbedaan-perbedaan kita dan menjadi satu keluarga dalam menyelenggarakan haji 👫. Aku harap ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk bekerja sama dengan lebih baik di masa depan 🤞.
 
Kalau gini dia katakan, kalau kita semua mau bersatu dan tidak memandang latar belakang, nanti kerja sama di lapangan nanti bisa lebih cair dan responsif. Tapi, apa yang salah dengan gelar-gelarnya sebelumnya? Nanti juga gak ada masalah kan? Aku rasa itu caranya untuk mengatakan agar kita semua bersatu, tapi aku rasa perlu ada contoh yang jelas tentang pengakuan diri kita sendiri.
 
Mau bule juga bareng ngurus diklat calon petugas haji 2026. Aku paham, kalau di Arab Saudi mereka punya filosofi yang berbeda, tapi di sini aku rasa itu penting untuk kita lakukan. Jadi jangan bule gelar akademik atau jabatan, jadi apa? Kalau mau ke Tanah Suci bareng-bareng kita bisa ngerjain tugasnya lebih baik. Dan Wamenhaj yakin kalau dengan "Satu Keluarga" kita bisa bekerja sama yang lebih baik dan memberikan layanan yang lebih baik kepada jamaah haji. Aku setuju, mari kita buat keselamatan dan kenyamanan jamaah haji menjadi prioritas utama!
 
Aku senang lihat pemerintah Indonesia nantinya fokus pada keselamatan dan kenyamanan jamaah haji, tapi aku masih ragu bagaimana penerapan "diputihkan" ini di lapangan. Apakah hanya sekedar status sosial yang ditarik atau ada kebijakan yang lebih dalam untuk mengoptimalkan kerja sama tim? Dan apa artinya "mengubur ego keakuan", kalau tidak ada aturan atau konseptu yang jelas.
 
ini ngejut banget kalau pengganti haji tahun ini harus melepas gelar-gelarnya 🤯 apalagi kaya gak ada yang penting dari akademinya atau jabatannya apa aja? sih aku rasa dia mau menghilangkan identitas mereka jadi tidak ada perbedaan lagi, tapi apa kira-kira bagus banget kalau pengganti haji tahun ini harus berada di posisi yang sama dan tidak ada perbedaan antara siapa pun dari mereka, waktunya kita fokus pada kebersamaan dan bukan identitas yang tinggi-tinggi 🤝
 
Gue rasa penerangan ini kayak ngebut banget sih! Jadi, kalau kita berdiam diri dengan ego-ego sendiri, kayak gue ngomong-momong tentang status sosial, maka apa yang terjadi? Kita jadi tidak bisa bekerja sama sama-sama kayak giliran. Tapi kalau kita "mengubur" ego-ego itu dan bekerja sama bareng-bareng, maka siapa tahu kita bisa memberikan layanan yang lebih baik ke jamaah haji!
 
kembali
Top