Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan bahwa tidak semua peserta yang ikut Pendidikan dan Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (Diklat PPIH) Arab Saudi 2026 akan lolos sebagai petugas haji. Diklat ini merupakan bagian dari seleksi yang akan dinilai, sehingga tidak semua peserta pasti lulus. Ada yang harus berhenti di jalan atau dikeluarkan karena faktor kesehatan, seperti penyakit jantung atau perlu dipasang ring.
Selain itu, ada peserta diklat yang dicopot karena di luar ekspektasi tim pelatih karena soal kedisiplinan dan kehadiran dalam mengikuti setiap materi diklat. Kehadiran semuanya diharapkan 100 persen bisa mengikuti. Dahnil juga menyinggung soal niat, ia mewanti-wanti agar para calon petugas haji meluruskan niatnya untuk meladeni para dhuyufurrahman, bukan hanya mau "nebeng" haji.
Dahnil juga mengingatkan bahwa tidak ada satupun peserta diklat yang minta diistimewakan, semua sama. Ia menegaskan aturan harus tetap ditegakkan. Hal ini wajar bila ada peserta diklat yang dicopot kecewa, namun perlu diingat bahwa aturan harus tetap ditegakkan.
Hal yang sama juga diungkapkan Wakil Ketua Diklat PPIH Arab Saudi 2026, Kolonel (Purn) Muftiono. Ia menegaskan bahwa seluruh peserta diklat sejak awal telah dididik dan diminta untuk menjunjung tinggi disiplin, kesiapan fisik dan mental, kemampuan fikih haji dan bahasa Arab, serta kompetensi sesuai bidang layanan masing-masing.
Muftiono juga menegaskan bahwa Kementerian Haji dan Umrah tidak memberikan perlakuan istimewa kepada siapa pun yang mengikuti diklat. Perlakuan khusus justru akan merusak soliditas dan solidaritas tim. Ia juga menjelaskan bahwa diklat ini merupakan bagian dari proses seleksi, sehingga mengikuti diklat tidak serta-merta menjadikan seseorang diangkat sebagai petugas haji.
Selain itu, ada peserta diklat yang dicopot karena di luar ekspektasi tim pelatih karena soal kedisiplinan dan kehadiran dalam mengikuti setiap materi diklat. Kehadiran semuanya diharapkan 100 persen bisa mengikuti. Dahnil juga menyinggung soal niat, ia mewanti-wanti agar para calon petugas haji meluruskan niatnya untuk meladeni para dhuyufurrahman, bukan hanya mau "nebeng" haji.
Dahnil juga mengingatkan bahwa tidak ada satupun peserta diklat yang minta diistimewakan, semua sama. Ia menegaskan aturan harus tetap ditegakkan. Hal ini wajar bila ada peserta diklat yang dicopot kecewa, namun perlu diingat bahwa aturan harus tetap ditegakkan.
Hal yang sama juga diungkapkan Wakil Ketua Diklat PPIH Arab Saudi 2026, Kolonel (Purn) Muftiono. Ia menegaskan bahwa seluruh peserta diklat sejak awal telah dididik dan diminta untuk menjunjung tinggi disiplin, kesiapan fisik dan mental, kemampuan fikih haji dan bahasa Arab, serta kompetensi sesuai bidang layanan masing-masing.
Muftiono juga menegaskan bahwa Kementerian Haji dan Umrah tidak memberikan perlakuan istimewa kepada siapa pun yang mengikuti diklat. Perlakuan khusus justru akan merusak soliditas dan solidaritas tim. Ia juga menjelaskan bahwa diklat ini merupakan bagian dari proses seleksi, sehingga mengikuti diklat tidak serta-merta menjadikan seseorang diangkat sebagai petugas haji.