Stok Beras Global Terus Melimpah, Tapi Siapa yang Menggunakannya?
Rilis Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menyebutkan stok beras global di tahun 2024/2025 mencapai 191 juta ton dan 190 juta ton di 2025/2026. Namun, tak semua dari itu digunakan oleh negara-negara lain. Sebagian besar stok berada di tangan China, yaitu sekitar 105 juta ton. Ini membuat paradoks yang menimbulkan peningkatan stok beras global tinggi, tetapi likuiditas beras di pasar jauh lebih ketat.
Analisis dari Agrifood Analyst CNBC Indonesia Research, Emanuella Bungasmara Ega Tirta, menyebutkan bahwa China saat ini terus menggenjot produksi beras namun masih fokus memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Ini berarti China tidak melakukan ekspor, sehingga menimbulkan ketidakpastian pada pasar ekspor beras.
Stok beras global yang besar tetapi dikuasai oleh satu negara membuat likuiditas beras cukup ketat. Jika terjadi lonjakan kebutuhan beras dunia, maka masih mengandalkan India, Thailand, dan Vietnam. Namun, ini menimbulkan risiko ketidakpastian pada pasar beras global.
Penting bagi Indonesia untuk menjaga tren surplus produksi dan penguatan rantai distribusi beras untuk memastikan kebutuhan domestik dan mengantisipasi dampak tekanan global. Dengan demikian, Indonesia dapat mempertahankan status swasembada sebagai negara yang berprodusksi dan memiliki stok beras melimpah.
Stok beras yang besar dan dominan dipengaruhi oleh kondisi surplus yang mayoritas dikuasai China. Bagaimana dampaknya untuk Indonesia? Dalam perbincangan dengan Agrifood Analyst CNBC Indonesia Research, Emanuella Bungasmara Ega Tirta, dapat diharapkan Indonesia dapat meningkatkan strategi pengelolaan stok beras dan rantai distribusi untuk mempertahankan kebutuhan domestik.
Rilis Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menyebutkan stok beras global di tahun 2024/2025 mencapai 191 juta ton dan 190 juta ton di 2025/2026. Namun, tak semua dari itu digunakan oleh negara-negara lain. Sebagian besar stok berada di tangan China, yaitu sekitar 105 juta ton. Ini membuat paradoks yang menimbulkan peningkatan stok beras global tinggi, tetapi likuiditas beras di pasar jauh lebih ketat.
Analisis dari Agrifood Analyst CNBC Indonesia Research, Emanuella Bungasmara Ega Tirta, menyebutkan bahwa China saat ini terus menggenjot produksi beras namun masih fokus memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Ini berarti China tidak melakukan ekspor, sehingga menimbulkan ketidakpastian pada pasar ekspor beras.
Stok beras global yang besar tetapi dikuasai oleh satu negara membuat likuiditas beras cukup ketat. Jika terjadi lonjakan kebutuhan beras dunia, maka masih mengandalkan India, Thailand, dan Vietnam. Namun, ini menimbulkan risiko ketidakpastian pada pasar beras global.
Penting bagi Indonesia untuk menjaga tren surplus produksi dan penguatan rantai distribusi beras untuk memastikan kebutuhan domestik dan mengantisipasi dampak tekanan global. Dengan demikian, Indonesia dapat mempertahankan status swasembada sebagai negara yang berprodusksi dan memiliki stok beras melimpah.
Stok beras yang besar dan dominan dipengaruhi oleh kondisi surplus yang mayoritas dikuasai China. Bagaimana dampaknya untuk Indonesia? Dalam perbincangan dengan Agrifood Analyst CNBC Indonesia Research, Emanuella Bungasmara Ega Tirta, dapat diharapkan Indonesia dapat meningkatkan strategi pengelolaan stok beras dan rantai distribusi untuk mempertahankan kebutuhan domestik.