Venezuela: Machado, Pernah Kehilangan Kekuasaan di Permainan Kejutan?
Menteri Luar Negeri Donald Trump, yang baru-baru ini menerima hadiah dari Qatar dalam bentuk pesawat Boeing 747-8i yang berharga sekitar Rp 6 triliun, kemungkinan akan menjadi korban permainan Machado. Pendiri Partai Amanah Suruh Pemilu (PAS), MarΓa Corina Machado, memang telah mempernah mengajukan dirinya sebagai calon presiden Venezuela dalam pilihan umum tahun lalu, namun ia malah menurut kembali ke tawanan di rumah tangganya setelah terpilih menjadi anggota parlemen dari Partai Kemenangan Bola Jepit (PKB) pada tahun 2020.
Machado yang dikenal sebagai "Ratu Berantakan" Venezuela seharusnya harus memperoleh pengakuan yang besar bagi dirinya setelah ia memenangi Hadiah Nobel Perdamaian pada bulan Desember lalu. Namun, ada beberapa orang di Venezuela yang khawatir Machado telah kehilangan kekuasaannya dalam permainan ini.
Menurut expert, Renata Segura dari International Crisis Group, Machado adalah "big loser" dalam perjuangan kekuasaan Venezuela sekarang. Ia harus mengakui bahwa pengungkapan Machado akan memberikan kesan bahwa ia hanya memihak kepada Trump dan tidak peduli lagi dengan kepentingan rakyat Venezuela.
Segura juga menambahkan bahwa pengakuan dari Trump atas Machado adalah bukti bahwa ia telah "mendengar" dirinya dengan tangan kosong. Ia percaya bahwa Trump akan sangat gembira mendapatkan hadiah dari Machado, meskipun itu tidak dapat diterima oleh komite Nobel.
Banyak masyarakat Venezuela yang merasa bingung apakah ada alasan Machado ingin membagikan pujian dari Nobel Peace Prize kepada dirinya sendiri. Mereka percaya bahwa Machado telah "jatuh" ke dalam permainan Trump dan akhirnya ia harus mengakui kekalahan dirinya.
Sementara itu, expert lain yang bekerja untuk Friedrich Ebert Foundation di Venezuela, Anja Dargatz, percaya bahwa Machado masih bisa berperan penting dalam proses pembangunan Venezuela di masa depan. Ia juga menyatakan bahwa banyak masyarakat Venezuela yang menganggap Machado sebagai "penyala" perjuangan demokrasi di Venezuela, meskipun ia tidak memiliki kebijakan yang efektif untuk menyelesaikan masalah di negara ini.
Machado sendiri telah memperoleh dukungan dari beberapa kelompok partai politik yang berbeda di Venezuela. Namun, segala upaya Machado untuk membangun koalisi dari berbagai pihak dalam pilihan umum tahun lalu akhirnya gagal dan ia harus kembali ke tawanan setelah terpilih menjadi anggota parlemen dari PKB.
Dalam beberapa kesempatan Machado telah menolak mengakui perjuangan dari oposisi di Venezuela. Ia percaya bahwa keberhasilan dari oposisi ini berada pada tangan dari Trump dan tidak akan berhasil jika ia sendiri duduk di kursi kepala pemerintahan Venezuela.
Pengakuan dari Trump atas Machado adalah bukti bahwa ia telah "jatuh" ke dalam permainan Trump. Ia harus mengakui bahwa Trump adalah orang yang berkuasa terus menerus dan tidak akan membiarkan Machado untuk mendapatkan pengakuan di negara ini.
Menteri Luar Negeri Donald Trump, yang baru-baru ini menerima hadiah dari Qatar dalam bentuk pesawat Boeing 747-8i yang berharga sekitar Rp 6 triliun, kemungkinan akan menjadi korban permainan Machado. Pendiri Partai Amanah Suruh Pemilu (PAS), MarΓa Corina Machado, memang telah mempernah mengajukan dirinya sebagai calon presiden Venezuela dalam pilihan umum tahun lalu, namun ia malah menurut kembali ke tawanan di rumah tangganya setelah terpilih menjadi anggota parlemen dari Partai Kemenangan Bola Jepit (PKB) pada tahun 2020.
Machado yang dikenal sebagai "Ratu Berantakan" Venezuela seharusnya harus memperoleh pengakuan yang besar bagi dirinya setelah ia memenangi Hadiah Nobel Perdamaian pada bulan Desember lalu. Namun, ada beberapa orang di Venezuela yang khawatir Machado telah kehilangan kekuasaannya dalam permainan ini.
Menurut expert, Renata Segura dari International Crisis Group, Machado adalah "big loser" dalam perjuangan kekuasaan Venezuela sekarang. Ia harus mengakui bahwa pengungkapan Machado akan memberikan kesan bahwa ia hanya memihak kepada Trump dan tidak peduli lagi dengan kepentingan rakyat Venezuela.
Segura juga menambahkan bahwa pengakuan dari Trump atas Machado adalah bukti bahwa ia telah "mendengar" dirinya dengan tangan kosong. Ia percaya bahwa Trump akan sangat gembira mendapatkan hadiah dari Machado, meskipun itu tidak dapat diterima oleh komite Nobel.
Banyak masyarakat Venezuela yang merasa bingung apakah ada alasan Machado ingin membagikan pujian dari Nobel Peace Prize kepada dirinya sendiri. Mereka percaya bahwa Machado telah "jatuh" ke dalam permainan Trump dan akhirnya ia harus mengakui kekalahan dirinya.
Sementara itu, expert lain yang bekerja untuk Friedrich Ebert Foundation di Venezuela, Anja Dargatz, percaya bahwa Machado masih bisa berperan penting dalam proses pembangunan Venezuela di masa depan. Ia juga menyatakan bahwa banyak masyarakat Venezuela yang menganggap Machado sebagai "penyala" perjuangan demokrasi di Venezuela, meskipun ia tidak memiliki kebijakan yang efektif untuk menyelesaikan masalah di negara ini.
Machado sendiri telah memperoleh dukungan dari beberapa kelompok partai politik yang berbeda di Venezuela. Namun, segala upaya Machado untuk membangun koalisi dari berbagai pihak dalam pilihan umum tahun lalu akhirnya gagal dan ia harus kembali ke tawanan setelah terpilih menjadi anggota parlemen dari PKB.
Dalam beberapa kesempatan Machado telah menolak mengakui perjuangan dari oposisi di Venezuela. Ia percaya bahwa keberhasilan dari oposisi ini berada pada tangan dari Trump dan tidak akan berhasil jika ia sendiri duduk di kursi kepala pemerintahan Venezuela.
Pengakuan dari Trump atas Machado adalah bukti bahwa ia telah "jatuh" ke dalam permainan Trump. Ia harus mengakui bahwa Trump adalah orang yang berkuasa terus menerus dan tidak akan membiarkan Machado untuk mendapatkan pengakuan di negara ini.