Tahun Anggaran 2026, Defisit Anggaran Mendarat di Bawah Tujuan Pemerintah. Pada bulan Oktober 2025, pemerintah merilis Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2026 yang telah diteken oleh Presiden Prabowo Subianto dan diundangkan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Menurut Pasal 23 UU Nomor 17 Tahun 2025, total defisit APBN 2026 akan mencapai Rp689,15 triliun atau 2,68 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun ini. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan usulan awal pemerintah yang dipatok senilai Rp638,8 triliun.
Tentang keseimbangan primer dalam APBN 2026, negara tetap tergolong dalam keadaan defisit sebesar Rp89,71 triliun. Jika dihitung dari jumlah belanja negara yang akan dipatok senilai Rp3,842,73 triliun dan pendapatan negara yang ditargetkan senilai Rp3,153,58 triliun, maka defisit tersebut mencerminkan keseimbangan negara tidak seimbang.
Untuk menutupi defisit tersebut, pemerintah akan mengandalkan pembiayaan anggaran yang diperkirakan senilai Rp689,15 triliun. Pembiayaan ini dapat berasal dari berbagai sumber seperti utang sebesar Rp832,21 triliun, investasi sebesar Rp203,06 triliun, pinjaman sebesar Rp404,15 miliar hingga pembiayaan lainnya senilai Rp60,40 triliun.
Menurut Pasal 23 UU Nomor 17 Tahun 2025, total defisit APBN 2026 akan mencapai Rp689,15 triliun atau 2,68 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun ini. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan usulan awal pemerintah yang dipatok senilai Rp638,8 triliun.
Tentang keseimbangan primer dalam APBN 2026, negara tetap tergolong dalam keadaan defisit sebesar Rp89,71 triliun. Jika dihitung dari jumlah belanja negara yang akan dipatok senilai Rp3,842,73 triliun dan pendapatan negara yang ditargetkan senilai Rp3,153,58 triliun, maka defisit tersebut mencerminkan keseimbangan negara tidak seimbang.
Untuk menutupi defisit tersebut, pemerintah akan mengandalkan pembiayaan anggaran yang diperkirakan senilai Rp689,15 triliun. Pembiayaan ini dapat berasal dari berbagai sumber seperti utang sebesar Rp832,21 triliun, investasi sebesar Rp203,06 triliun, pinjaman sebesar Rp404,15 miliar hingga pembiayaan lainnya senilai Rp60,40 triliun.