Tirto.id menyampaikan kabar gembira bagi para penggemar media sosial yang merasa kekecewa dengan TikTok dan Meta. Platform baru bernama UpScrolled, dijalankan oleh diaspora Palestina-Australia, memanggul gelombang protes warga, menuntut transparansi tindakan aparat yang dianggap brutal di siang bolong.
Peristiwa langka terjadi ketika Agen Imigrasi Federal (ICE) Amerika Serikat menembak seorang perawat berusia 37 tahun, Alex Pretti. Saksi mata menyebut bahwa Pretti sempat berusaha menolong seorang perempuan, sebelum ditembak berulang kali hingga tewas di tempat. Fakta ini pun menyulut gelombang protes warga, menuntut transparansi tindakan aparat yang dianggap brutal di siang bolong.
Gelombang kemarahan makin besar ketika video asli peristiwa itu dihapus (atau disembunyikan) oleh TikTok, yang baru saja diakuisisi oleh konglomerat pro-Israel. Tagar terkait Alex Pretti dan kritik terhadap ICE pun hilang dari konten For You.
Pada titik itu, UpScrolled, media sosial yang diinisiasi diaspora Palestina-Australia, menemukan momennya. Platform tersebut menjadi satu-satunya ruang aman bagi rekaman peristiwa tersebut; bisa dibagikan bebas tanpa ancaman pemblokiran.
Genesis Perlawanan terhadap Sensor Big Tech
Issam Hijazi, pendiri UpScrolled lahir di Yordania dari keluarga Palestina dan kini menetap di Australia. Dua dekade kariernya di IBM dan Oracle memberinya pemahaman tentang arsitektur sistem informasi global.
Ketika genosida di Gaza memuncak, Hijazi kehilangan 60 anggota keluarga dalam serangan militer Israel. Sejak itulah ia menyadari, algoritma perusahaan tempatnya bekerja ikut membungkam suara melalui shadow-banning, praktik blokir tanpa sepengetahuan pengguna.
Hijazi merancang UpScrolled sebagai ruang digital yang menolak logika keuntungan di atas kemanusiaan. Dukungan pun datang dari Tech for Palestine pimpinan Paul Biggar.
Lahir pada Juni 2025, UpScrolled merespons kritik terhadap kebijakan moderasi konten TikTok, Meta, dan TikTok, sejak 2023. Penelitian yang dipublikasikan Middle East Institute (2023) mencatat pola mengkhawatirkan: konten pro-Palestina kerap dibatasi jangkauannya tanpa alasan teknis jelas.
AI Meta menghasilkan gambar stereotip; pencarian “anak laki-laki Palestina” menampilkan senjata, sementara “anak laki-laki Israel” menampilkan anak-anak bermain. Bahkan, pencarian terkait militer Israel tidak menampilkan adanya senjata.
Studi lain bertajuk Orientalisme Digital:#SaveSheikhJarrah and Arabic Content Moderation (2021) memperlihatkan bias sistemik; simbol perlawanan atau dokumentasi kekerasan terhadap warga sipil dianggap melanggar standar komunitas.
Shadows Banning menjadi titik kemarahan Hijazi saat menceritakan unggahannya tentang Gaza tak pernah muncul di layar rekan-rekannya di Eropa dan AS, tanpa pemberitahuan pelanggaran resmi.
Situasi itu menciptakan ilusi kebebasan berbicara. Pengguna merasa telah bersuara, padahal suaranya terkurung dalam ruang hampa digital.
UpScrolled lahir untuk menghancurkan ruang hampa itu. Platform tersebut menjanjikan feed kronologis sepenuhnya dan moderasi konten yang dijalankan manusia dengan transparansi penuh.
Bagi Hijazi, langkah ini merupakan upaya membangun ruang komunikasi yang jujur, ketika suara tak lagi ditenggelamkan algoritma.
Peristiwa langka terjadi ketika Agen Imigrasi Federal (ICE) Amerika Serikat menembak seorang perawat berusia 37 tahun, Alex Pretti. Saksi mata menyebut bahwa Pretti sempat berusaha menolong seorang perempuan, sebelum ditembak berulang kali hingga tewas di tempat. Fakta ini pun menyulut gelombang protes warga, menuntut transparansi tindakan aparat yang dianggap brutal di siang bolong.
Gelombang kemarahan makin besar ketika video asli peristiwa itu dihapus (atau disembunyikan) oleh TikTok, yang baru saja diakuisisi oleh konglomerat pro-Israel. Tagar terkait Alex Pretti dan kritik terhadap ICE pun hilang dari konten For You.
Pada titik itu, UpScrolled, media sosial yang diinisiasi diaspora Palestina-Australia, menemukan momennya. Platform tersebut menjadi satu-satunya ruang aman bagi rekaman peristiwa tersebut; bisa dibagikan bebas tanpa ancaman pemblokiran.
Genesis Perlawanan terhadap Sensor Big Tech
Issam Hijazi, pendiri UpScrolled lahir di Yordania dari keluarga Palestina dan kini menetap di Australia. Dua dekade kariernya di IBM dan Oracle memberinya pemahaman tentang arsitektur sistem informasi global.
Ketika genosida di Gaza memuncak, Hijazi kehilangan 60 anggota keluarga dalam serangan militer Israel. Sejak itulah ia menyadari, algoritma perusahaan tempatnya bekerja ikut membungkam suara melalui shadow-banning, praktik blokir tanpa sepengetahuan pengguna.
Hijazi merancang UpScrolled sebagai ruang digital yang menolak logika keuntungan di atas kemanusiaan. Dukungan pun datang dari Tech for Palestine pimpinan Paul Biggar.
Lahir pada Juni 2025, UpScrolled merespons kritik terhadap kebijakan moderasi konten TikTok, Meta, dan TikTok, sejak 2023. Penelitian yang dipublikasikan Middle East Institute (2023) mencatat pola mengkhawatirkan: konten pro-Palestina kerap dibatasi jangkauannya tanpa alasan teknis jelas.
AI Meta menghasilkan gambar stereotip; pencarian “anak laki-laki Palestina” menampilkan senjata, sementara “anak laki-laki Israel” menampilkan anak-anak bermain. Bahkan, pencarian terkait militer Israel tidak menampilkan adanya senjata.
Studi lain bertajuk Orientalisme Digital:#SaveSheikhJarrah and Arabic Content Moderation (2021) memperlihatkan bias sistemik; simbol perlawanan atau dokumentasi kekerasan terhadap warga sipil dianggap melanggar standar komunitas.
Shadows Banning menjadi titik kemarahan Hijazi saat menceritakan unggahannya tentang Gaza tak pernah muncul di layar rekan-rekannya di Eropa dan AS, tanpa pemberitahuan pelanggaran resmi.
Situasi itu menciptakan ilusi kebebasan berbicara. Pengguna merasa telah bersuara, padahal suaranya terkurung dalam ruang hampa digital.
UpScrolled lahir untuk menghancurkan ruang hampa itu. Platform tersebut menjanjikan feed kronologis sepenuhnya dan moderasi konten yang dijalankan manusia dengan transparansi penuh.
Bagi Hijazi, langkah ini merupakan upaya membangun ruang komunikasi yang jujur, ketika suara tak lagi ditenggelamkan algoritma.