Real Madrid yang Condong di Sisi Zionis. Sejarah yang Belum pernah Terungkap, Kekerasan Saat-Saat Ini, dan Kekuasaan dari Diktator Tua.
Real Madrid, salah satu klub sepak bola terbesar di dunia, memiliki sejarah yang kaya akan kejutan dan kontroversi. Salah satu aspek penting yang perlu kita pahami adalah bagaimana klub ini terkait dengan politik dan kekerasan di Palestina.
Dalam beberapa tahun terakhir, Real Madrid telah menunjukkan keberpihakannya kepada Israel, meskipun demikian, klub ini tidak pernah tegas mengutuk okupasi dan genosida Israel di Palestina. Sebaliknya, mereka telah mendukung kekuasaan Israel dengan cara yang tidak terlalu jelas.
Salah satu contoh yang paling menonjol adalah ketika Real Madrid meminta penghentian laga melawan Marseille yang membawa bendera Palestina di stadion Santiago Bernabéu pada bulan September 2025. Klub ini menyatakan bahwa mereka harus mengikuti aturan untuk "menegakkan neutralitas" sebagai klub olahraga.
Namun, kejadian seperti itu membuat banyak orang merasa terkejut dan tidak puas. Sebagian orang berpendapat bahwa Real Madrid telah menunjukkan keberpihakannya kepada Israel dengan cara yang tidak transparan.
Kontroversi ini memang tidak baru, karena sejak dulu, Real Madrid memiliki hubungan yang erat dengan keluarga Alberto dan March, pemilik ACS. Perusahaan tersebut kemudian menjadi salah satu perusahaan konstruksi terbesar di dunia dan memiliki koneksi dengan pemerintah Spanyol.
ACS juga telah mendapatkan banyak proyek dari pemerintah Israel dan Palestina. Contohnya, pada tahun 2009, Real Madrid memberikan pinjaman sebanyak 76 juta Euro kepada ACS untuk membiayai transfer Cristiano Ronaldo. Pinjaman tersebut kemudian digunakan untuk proyek-proyek konstruksi di Kolombia.
Ketika ini, PBB telah menambahkan beberapa perusahaan milik Pérez ke dalam daftar hitam karena mereka beroperasi di wilayah Palestina yang diokupasi oleh Israel. Ini menunjukkan bahwa ACS dan perusahaan-perusahaan lainnya memiliki hubungan dengan pemerintah Israel yang tidak jelas.
Real Madrid juga telah mengalami kontroversi terkait dengan pendukungnya kepada Ukraina dalam kasus-kasus yang melibatkan konflik di Timur Tengah. Meskipun demikian, mereka tidak pernah tegas mengutuk okupasi dan genosida Israel di Palestina.
Dalam kesimpulan, Real Madrid memiliki sejarah yang kompleks dan kontroversi terkait dengan politik dan kekerasan di Palestina. Klub ini harus lebih transparan dalam menunjukkan keberpihakannya terhadap suatu negara atau kelompok.
Real Madrid, salah satu klub sepak bola terbesar di dunia, memiliki sejarah yang kaya akan kejutan dan kontroversi. Salah satu aspek penting yang perlu kita pahami adalah bagaimana klub ini terkait dengan politik dan kekerasan di Palestina.
Dalam beberapa tahun terakhir, Real Madrid telah menunjukkan keberpihakannya kepada Israel, meskipun demikian, klub ini tidak pernah tegas mengutuk okupasi dan genosida Israel di Palestina. Sebaliknya, mereka telah mendukung kekuasaan Israel dengan cara yang tidak terlalu jelas.
Salah satu contoh yang paling menonjol adalah ketika Real Madrid meminta penghentian laga melawan Marseille yang membawa bendera Palestina di stadion Santiago Bernabéu pada bulan September 2025. Klub ini menyatakan bahwa mereka harus mengikuti aturan untuk "menegakkan neutralitas" sebagai klub olahraga.
Namun, kejadian seperti itu membuat banyak orang merasa terkejut dan tidak puas. Sebagian orang berpendapat bahwa Real Madrid telah menunjukkan keberpihakannya kepada Israel dengan cara yang tidak transparan.
Kontroversi ini memang tidak baru, karena sejak dulu, Real Madrid memiliki hubungan yang erat dengan keluarga Alberto dan March, pemilik ACS. Perusahaan tersebut kemudian menjadi salah satu perusahaan konstruksi terbesar di dunia dan memiliki koneksi dengan pemerintah Spanyol.
ACS juga telah mendapatkan banyak proyek dari pemerintah Israel dan Palestina. Contohnya, pada tahun 2009, Real Madrid memberikan pinjaman sebanyak 76 juta Euro kepada ACS untuk membiayai transfer Cristiano Ronaldo. Pinjaman tersebut kemudian digunakan untuk proyek-proyek konstruksi di Kolombia.
Ketika ini, PBB telah menambahkan beberapa perusahaan milik Pérez ke dalam daftar hitam karena mereka beroperasi di wilayah Palestina yang diokupasi oleh Israel. Ini menunjukkan bahwa ACS dan perusahaan-perusahaan lainnya memiliki hubungan dengan pemerintah Israel yang tidak jelas.
Real Madrid juga telah mengalami kontroversi terkait dengan pendukungnya kepada Ukraina dalam kasus-kasus yang melibatkan konflik di Timur Tengah. Meskipun demikian, mereka tidak pernah tegas mengutuk okupasi dan genosida Israel di Palestina.
Dalam kesimpulan, Real Madrid memiliki sejarah yang kompleks dan kontroversi terkait dengan politik dan kekerasan di Palestina. Klub ini harus lebih transparan dalam menunjukkan keberpihakannya terhadap suatu negara atau kelompok.