Perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, yang sejatinya merupakan pengalaman spiritual berharga bagi umat Islam, ternyata juga menjadi ujian besar bagi keimanan mereka. Pada malam perjalanan tersebut, kabar tentang rencana Isra dan Miraj memicu keguncangan di kalangan umat, bahkan membuat sebagian orang yang sebelumnya beriman memilih untuk keluar dari Islam.
Abu Jahal, sahabat musuh Nabi Muhammad SAW, memanfaatkan momentum itu untuk menyerang kredibilitas Rasulullah SAW. Ia melihat Isra Miraj sebagai kesempatan untuk mempermalukan Nabi di hadapan publik Mekah dan menggoyahkan keyakinan kaum Muslimin.
Rasulullah SAW menjawab Abu Jahal dengan tenang bahwa beliau telah diperjalankan ke Baitul Maqdis di Syam pada malam sebelumnya. Namun, jawaban itu menjadi pemicu bagi Abu Jahal untuk menyebarkan kisah tersebut dengan tujuan mengolok-olok dan berharap orang-orang yang telah beriman akan meninggalkan Muhammad SAW.
Di tengah kerumunan, seorang Muslim bertanya langsung kepada Rasulullah, "Benarkah engkau di-isra-kan tadi malam?" Rasulullah SAW menjawab tegas bahwa beliau memang diperjalankan dan bahkan melaksanakan salat bersama para nabi. Pernyataan itu membuat suasana semakin riuh, dengan kaum musyrik menertawakan sementara sebagian Muslim diliputi keraguan.
Logika perjalanan menjadi senjata ejekan bagi Abu Jahal dan orang-orang lain yang mencoba mengkritik Nabi Muhammad SAW. Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin perjalanan Mekah-Syam yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan bisa ditempuh hanya dalam satu malam.
Keraguan itu tidak berhenti di situ, dan sebagian orang yang telah memeluk Islam benar-benar murtad. Mereka tak sanggup diejek hingga akhirnya melepaskan Islam kembali pada kekafiran karena menganggap Nabi telah kehilangan kewarasannya.
Perjalanan Isra Miraj menjadi peristiwa yang berharga bagi umat Islam, tetapi juga menjadi pelajaran tentang bagaimana keimanan dan keyakinan dapat dipertanyikan oleh faktor-faktor luar. Kita harus selalu waspada terhadap tekanan sosial dan logika yang dapat mempengaruhi kepercayaan kita dalam agama.
Abu Jahal, sahabat musuh Nabi Muhammad SAW, memanfaatkan momentum itu untuk menyerang kredibilitas Rasulullah SAW. Ia melihat Isra Miraj sebagai kesempatan untuk mempermalukan Nabi di hadapan publik Mekah dan menggoyahkan keyakinan kaum Muslimin.
Rasulullah SAW menjawab Abu Jahal dengan tenang bahwa beliau telah diperjalankan ke Baitul Maqdis di Syam pada malam sebelumnya. Namun, jawaban itu menjadi pemicu bagi Abu Jahal untuk menyebarkan kisah tersebut dengan tujuan mengolok-olok dan berharap orang-orang yang telah beriman akan meninggalkan Muhammad SAW.
Di tengah kerumunan, seorang Muslim bertanya langsung kepada Rasulullah, "Benarkah engkau di-isra-kan tadi malam?" Rasulullah SAW menjawab tegas bahwa beliau memang diperjalankan dan bahkan melaksanakan salat bersama para nabi. Pernyataan itu membuat suasana semakin riuh, dengan kaum musyrik menertawakan sementara sebagian Muslim diliputi keraguan.
Logika perjalanan menjadi senjata ejekan bagi Abu Jahal dan orang-orang lain yang mencoba mengkritik Nabi Muhammad SAW. Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin perjalanan Mekah-Syam yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan bisa ditempuh hanya dalam satu malam.
Keraguan itu tidak berhenti di situ, dan sebagian orang yang telah memeluk Islam benar-benar murtad. Mereka tak sanggup diejek hingga akhirnya melepaskan Islam kembali pada kekafiran karena menganggap Nabi telah kehilangan kewarasannya.
Perjalanan Isra Miraj menjadi peristiwa yang berharga bagi umat Islam, tetapi juga menjadi pelajaran tentang bagaimana keimanan dan keyakinan dapat dipertanyikan oleh faktor-faktor luar. Kita harus selalu waspada terhadap tekanan sosial dan logika yang dapat mempengaruhi kepercayaan kita dalam agama.