Pertumbuhan uang primer (M0) adjusted pada Desember 2025 mencapai Rp2.367,8 triliun atau tumbuh 16,8 persen secara tahunan. Perkembangan ini lebih tinggi dibandingkan bulan November yang sebesar 13,3 persen.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa perkembangan M0 adjusted pada Desember 2025 dipengaruhi oleh pemberian insentif likuiditas melalui pengendalian moneter adjusted. Insentif likuiditas tersebut merujuk pada penyesuaian perhitungan jumlah uang beredar, seperti M0 dan M2.
Pertumbuhan ini juga didorong oleh peningkatan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted serta uang kartal yang diedarkan. Giro bank umum tercatat tumbuh 35,1 persen menjadi Rp979,86 triliun, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Sementara itu, uang kartal yang diedarkan mencapai Rp1.359,9 triliun, meningkat dibandingkan posisi Desember 2024 yang sebesar Rp1.204,5 triliun.
Bank Indonesia juga menyesuaikan besaran insentif KLM yang bersumber dari penyaluran kredit atau pembiayaan ke sektor-sektor tertentu yang ditetapkan bank sentral dari sebelumnya maksimal 5 persen menjadi 4,5 persen dari DPK.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa perkembangan M0 adjusted pada Desember 2025 dipengaruhi oleh pemberian insentif likuiditas melalui pengendalian moneter adjusted. Insentif likuiditas tersebut merujuk pada penyesuaian perhitungan jumlah uang beredar, seperti M0 dan M2.
Pertumbuhan ini juga didorong oleh peningkatan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted serta uang kartal yang diedarkan. Giro bank umum tercatat tumbuh 35,1 persen menjadi Rp979,86 triliun, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Sementara itu, uang kartal yang diedarkan mencapai Rp1.359,9 triliun, meningkat dibandingkan posisi Desember 2024 yang sebesar Rp1.204,5 triliun.
Bank Indonesia juga menyesuaikan besaran insentif KLM yang bersumber dari penyaluran kredit atau pembiayaan ke sektor-sektor tertentu yang ditetapkan bank sentral dari sebelumnya maksimal 5 persen menjadi 4,5 persen dari DPK.